Showing posts with label kisah. Show all posts
Showing posts with label kisah. Show all posts

Thursday, October 29, 2015

[Mom Diary] Cantik Ganteng

Awalnya aku pikir susah mengenalkan gender pada anak umur dua tahun, mikir lamaaaaa banget, apalagi temen mainnya cowok semua. Semua pada muji temen mainnya ganteng, jadilah dia ikutan manggil dirinya ganteng.



Saat dia bilang dia ganteng, aku langsung bilang "Engga, Pipi cantik" seperti yang kuduga, dia langsung menolaknya, dia bilang ganteng lagi, aku pun mengatakan padanya bahwa dia cantik dengan penekanan pada kata cantik, dan dia tidak terima sambil teriak dia bilang dia ganteng. Okeh Ibu ngalah, diiyahin. Emang dia kalo ga pake jilbab kadang kelihatan ganteng, he he he he. Emak sableng.

Akhirnya jalan pelan - pelan saat setelah mandi, kuajak bercermin dan mengatakan "Pipi cantik, Ibu cantik" pada posisi ini dia manut, lalu pas Bapaknya datang aku pun bilang "Bapak ganteng" 
Aku melanjutkan "Pipi cantik, Ibu cantik, Bapak ganteng"

Hampir tiap pagi kita sebut melakukan ritual itu. Alhamdulillah, dia sekarang tidak mengikuti mengatakan dirinya ganteng saat orang lain memuji teman - temannya ganteng, dia menyebut dirinya sendiri cantik.

Semoga bukan awal narsis ya, tapi bentuk menyayangi dirinya sendiri.

Wonoayu
29/10/15 16.07

Baca Selengkapnya ...

Tuesday, September 13, 2011

[Kesan Pertama] Kupinang Kau Dengan Bismillah



Maaf bila ada yg tidak berkenan, ini cuma uneg - uneg.

Saat membaca judulnya langsung ingat bukunya Faudzil Adhim, sudah lama sih baca buku itu dan setahuku itu buku bukan novel. Jadi cukup penasaran sama ceritanya.
  
Karena ini sinetron dari awal aku ga beharap banyak, biasalah sinetron paling ceritanya segitu begitu aja. Hari ini tayang perdana, baru juga kelar nontonnya.
  
Sempet ketinggalan awal cerita, tapi setelah beberapa menit kayaknya ceritanya udah bisa ditebak. Lelaki sholeh nan miskin jatuh cinta pada perempuan kaya yang notabene engga sholihah.
  
Di episode pertama ini udah kecewa dengan alur ceritanya, kenapa? Satu saat bapaknya siapa tadi (lupa namanya) kecelakaan dan butuh biaya rumah sakit, si anak mencoba meminta pertolongan pada kerabatnya.
  
Dilihat dari caranya dipanggil sepertinya dia ulama, tapi sayang istrinya yang dimintai tolong si anak malah ketus tak perduli dengan kesusahan saudaranya, masalahnya yang membuatku kecewa adalah si istri tersebut berjilbab, sebagai istri seorang ulama seharusnya ia lebih perduli, santun dalam betutur dan dermawan.

Baca Selengkapnya ...

Sunday, July 31, 2011

[Review] TRTTE, Kisah Pangeran Muslim Mongol Mengambil kembali Haknya

Lama sekali buku ini masuk dalam waiiting list, Alhamdulillah jumat kemaren buku ini beserta sekuel keduanya "Tahta Awan" sampai dengan selamat sentosa di kamarku terbungkus rapi kumplit dengan tanda tangan dan pesan spesial dari sang penulis ^_^. Maklum beli langsung pada penulisnya Mbak Sinta Yudisia.

Ini bukan buku pertama Mbak Sinta yang kubaca, jadi tidak kaget dengan deskripsi panjang diawal menjelaskan duduk perkara ihwal pelarian sang Pangeran Pertama Takudar Khan. Meskipun seret diawal (secara daku memang rada enggan baca deskripsi yang terlalu panjang ^_^') tapi setelah sampai sekitar sepertiga, cerita mulai menglir lancar malah membuatku enggan melepaskannya seolah menuntut untuk segera menamatkannya. ^_^

Dalam pelarian inilah Takudar khan dan pelayannya berganti nama menjadi Baruji dan Almamuchi (bener ga nih tulisannya?) bertemu dengan Rasyiduddin yang juga berganti nama menjadi Salim (my fav character in this story ^_^), mereka berdua bekerja sama demi mengembalikan hak sang pangeran pertama akan Tahta Mangolia dan mengembalikan kejayaan Islam.

Baca Selengkapnya ...

Sunday, September 5, 2010

Mengenang Yu Yuan





Gadis kecil duduk meringkuk kedinginan.

Ingatannya berputar – putar seperti slide show yang diputar berulang – ulang pada episode sore itu di sebuah ruangan putih besar, berderet rancang – ranjang besi, diatasnya terbaring orang – orang dengan wajah lemah tak berdaya.

Selang plastik menggantung diatas menyalurkan tetes – tetes bening dari botol infus ke jarum tajam menghujam di lengan, meninggalkan bekas tusukan – tusukan menyakitkan.

Ayahnya duduk diatas ranjang membelai sayang rambutnya yang kusam, seminggu tak keramas. Tangan satunya menggenggam tangan gadis kecil lemah tak berdaya terkulai diatas ranjang.

“Sakit nduk?”

Yang ditanya hanya menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum menunjukkan deretan mungil berwarna putih pucat, berharap sang ayah percaya bahwa ia tak merasakan sakit sedikitpun. Namun senyumnya malah membuat sejumput air tumpah dari mata sang ayah.


“Ayah, akan berusaha lebih giat agak kamu mendapatkan pengobatan terbaik” ucapnya dengan penekanan

“Ayah, Yuan sudah tidak sakit lagi”

“Kita pulang saja”

Sang ayah menggeleng tanda tidak setuju atas permintaan sang anak.

“Kamu boleh pulang kalau kamu sudah sembuh, ayah sedang berusaha nak”

“Ayah, jangan berkorban untuk ku,aku hanya anak yang kau pungut di tepi jalan, aku tidak berharga, orang tuaku saja tak menginginkan ku” pinta gadis kecil itu pada sang ayah.

Tentu saja permintaan itu tidak diiyakan oleh sang ayah.

“Siapa yang bilang kau tidak berharga anak ku sayang, kau anak yang baik, penurut pintar”

“Bukan kah kau ingin jadi dokter?”

“Jadi kau harus sembuh”

“Tapi Ayah...” gadis kecil itu tak bisa melanjutkan kalimatnya, sebuah cairang hangat keluar dari hidungnya. Merah pekat.

Sang ayah sigap mengambil tisyu gulung diatas meja dan membersihkan aliran darah yang keluar dari hidung putri kecilnya.

‘Tuhan, ia hanya gadis kecil yang baru berumur 8 tahun, mengapa ia harus mengalami penderitaan seberat ini’ gumannya dalam hati.

Gadis kecil duduk meringkuk diantara tumpukan kardus .

‘Ayah aku ingin mati’

Malam itu didalam kamarnya ia mendekap hidungnya yang terus mengeluarkan darah, dibalik tembok ia mendengar Istri ayahnya sedang marah.

“Apa lagi yang mau kau jual?”

“Televisi, Kulkas, perabot rumah sudah habis”

“Perhiasan ku pun menjadi korban anak pungutmu itu”

“Apa kau ingin menjual ku juga, hah?” wanita itu duduk membelakangi laki – laki berkemeja kotak kotak yang sedang menggenggam sebuah buku kecil tipis berwarna biru. Angka terakhir menunjukkan Rp. 52.399,-

“Astaghfirullah Bu, nyebut, Istighfar”

“Jangan keras – keras, Anak kita ada dikamar sebelah” kata laki – laki itu lirih, berharap sang gadis yang dimaksud sudah tidur.

“Biar dia dengar semua, biar dia tau kalau penyekit sialan itu sudah membuat kita miskin, tak punya apa – apa”

“Biar dia tahu diri, biar dia pergi minta duit sama orang tua kandungnya”

Di ruangan yang hanya terhalang tembok, gadis itu menangis dalam diam, cairan merah pekat itu tak jua berhenti mengalir, berlomba keluar dengan iar matanya. Ia tertidur dalam kesakitan.

Istri ayahnya mebawanya pulang setelah membayar biaya pengobatannya dengan uang pinjaman. Meskipun dokter malarangnya pulang.

Ia tak keberatan pulang, ia memilih menuruti kata – kata istri ayahnya. Ia tak ingin menjadi beban untuk ayahnya, sakit yang ia rasakan menjadi semakin sakit katika melihat wajah segar ayahnya dulu kini berubah menjadi kurustak terurus. Ia tak ingin ayahnya benar- benar ditinggalkan istrinya karena dia.

Gadis kecil itu tak lagi duduk meringkuk, melainkan sudah terkapar tak berdaya diatas tumpukan kardus.

Sang ayah kebingungan berlari kesana kemari mencari anaknya dibawah titik – titik air yang turun semakin deras.

Selembar photo didalam plastik bening ia tunjukan pada setiap orang yang ia temui, berharap mereka tahu keberadaan gadis kecil yang tersenyum lebar dalam photo. Dibalik photo iku tertulis sebuah pesan.


“Ayah, jangan kuatir aku akan baik – baik saja,
Ayah, maafin aku yang buat ayah sedih,
Aku tidak mau melihat ayah sedih lagi,
Ayah...
Aku sayang sama ayah”


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Mengenang Yu Yuan
Aku pernah datang dan aku sangat penurut”



Suci
Wonoayu, 6 Septembar 2010 11.17

Baca Selengkapnya ...

Thursday, June 24, 2010

Sleeping Beauty ala Icus



Tersebutlah seorang pangeran sedang dalam perjalanan mencari cinta sejati, ia telah menempuh ribuan kilo meter dari kerajaannya, mendatangi puluhan putri namun tak seorang pun yang membuat hatinya bergetar. Hingga ia mendengar sebuah kabar bahwa disuatu tempat ada seorang putri cantik jelita baik budi dan lemah lembut, namun sayang sang putri cantik sedang ti cantik jelita baik budi dan lemah lembut, namun sayang sang putri cantik terkena kutuk penyihir jahat, ia tertidur bertahun – tahun lamanya menunggu pangeran yang membawa cinta sejati untuknya. Satu cara untuk membangunkan putri cantik adalah dengan dicium oleh sang pangeran.

Mendengar kabar tersebut sang pangeran segera bergegas menuju tempat sang putri. Untuk mencapai tempat itu ia harus melalui berbagai rintangan yang tidak mudah, dengan gagah berani semangat baja ia tumpas semua yang menghalangi langkahnya, ia singkirkan rintangan demi rintangan. Akhirnya ia pun sampai ditempat itu.

Ia tiba disuatu hari dimana orang – orang tengah sibuk dengan urusan mereka sendiri – sendiri hingga tak memperhatikan kehadiranya. Ketika turun dari kuda ia mencium bau sedap dari sebuah rumah asri dengan bunga warna warni menghiasi halaman, perutnya mengeluarkan suara nyaring, ternyata sang pangeran lapar setelah menempuh perjalanan jauh.

Diikutinya jalan setapak menuju rumah asri, pintunya tak tertutup hingga ia masuk tanpa permisi. Memasuki ruangan demi ruangan, hingga matanya tertuju pada satu titik, sebuah peti mati indah berwarna merah muda. Peti itu tak tertutup, bergetar langkahnya, pelan ia dekati peti mati.

Wajah seorang wanita muda yang cantik terlihat sedang tidur dengan pulasnya, dengkuran halus terdengar merdu ditelinga pangeran. ia pun dapat mencium bau harum aroma bunga yang sama dengan di halaman rumah seolah putri tidur ini baru saja bermain – main dengan bunga. Pangeran terpesona oleh kecantikan putri.

Pangeran berjongkok disamping peti matanya tak lepas dari wajah cantik sang putri, tidur aja cantik gini apalagi kalo bangun yah, pikir pangeran. didekatkannya wajahnya dengan wajah sang putri, jarak wajah mereka hanya sejengkal ketika tiba – tiba.

“PLAK!”

Sebuah tamparan keras mendarat dipipi pangeran, ia kaget bukan kepalang melihat sang putri yang tiba – tiba membuka mata, bahkan sebelum ia menciumnya.

“Lho kok sudah bangun, khan belum dicium?”

“Dasar laki – laki tidak sopan”

Seorang perempuan tengah baya datang tergopoh – gopoh sambil membawa pisau dan sutil yang meneteskan minyak goreng, aroma sedap mengikutinya. Melihat sang pangeran sedang berdiri mematung wanita yang dipanggil Ibu tersebut mengacungkan pisaunya kearahnya.

“Siapa kamu, mau apa?”

Sang pangeran pun menjelaskan maksud kehadirannya ketempat tersebut.

“Sleeping beauty, dikampung sebelah”

“Ini cuma peti mati pesanannya saja” jelas sang wanita yang dikira sleeping beauty.

Jadi sodara – sodara, wanita muda itu anak dari pengrajin kayu yang mengerjakan peti mati baru untuk sang sleeping beauty, karena sang pangeran telah jatuh cinta pada wanita muda tadi, ia membatalkan niatnya membangunkan the real sleeping beauty dan menyunting anak pengrajin kayu, memboyong keluarga itu untuk tinggal dikerajaan.




Terispirasi dari acara workshop menulis nasional Asma Nadia.

Wonoayu 16.15 24 juni 2010

Suci

Baca Selengkapnya ...

Tuesday, May 27, 2008

Hikmah Dari setiap Peristiwa

DIANTARA Utusan Allah yang namanya banyak disebut dalam Al Quran ialah Nabi Musa AS. Dari pertanyaan-pertanyaannya kepada Allah banyak hikmah yang dapat kita petik. Diantaranya sebagai berikut.
ABU SULAIMAN AL DARANI berkata: "Suatu hari Nabi Musa AS melewati seseorang yang diterkam binatang buas. Musa AS mencari tahu tentang orang tersebut. Ternyata ia seorang soleh. Lalu Nabi Musa bermunajat: "Ya Tuhanku, sesungguhnya ia orang yang taat kepada-Mu, mengapa aku diberi kesempatan untuk menyaksikan peristiwa ini?" Allah SWT menjawab: "Sesungguhnya ia telah memohon derajat yang tinggi, tetapi amalnya belum mencapai derajat tersebut. Oleh karena itu, Aku berikan cobaan kepadanya agar dapat mencapai derajat yang dia inginkan."
Lain waktu Nabi Musa bermunajat dibukit Thursina. Isinya: "Ya Allah, tunjukkanlah keadilan-Mu kepadaku!" Allah memerintahkan Nabi Musa turun ke lembah. Tidak lama kemudian Musa melihat seorang penunggang kuda datang menuju sebuah sumur. Disitu ia minum dan berwudhu. Setelah salat ia buru-buru pergi, sampai-sampai satu kantong yang berisi uang seribu dinar, tertinggal. Tidak lama kemudian datang seorang bocah. Ia mampir di sumur itu untuk minum. Melihat ada sebuah kantong, ia pungut dan membawanya pergi. Berikutnya datang lagi seorang kakek yang buta. Dengan tertatih-tatih, ia berhasil juga menemukan air. Usai minum ia berwudhu dan salat. Setelah salam, datang lagi si Penunggang Kuda yang kantongnnya ketinggalan. Ia menuduh si kakek itulah yang mengambil kantong tersebut. Walaupun berbagai argumentas telah disampaikannya kepada si Penunggang kuda itu, namun tuduhan tetap kepadanya. Akhirnya si Penunggang Kuda habis kesabarannya dan ia bunuhlah si kakek buta itu.
Melihat adegan itu, Musa munajat: "Ya Tuhan, sungguh aku tidak sabar atas kejadian itu. Namun aku yakin Engkau sangat adil. Mengapa kejadian mengenaskan itu bisa terjadi?" Malaikat Jibril AS turun menjelaskan: "Anak kecil yang memungut kantong itu adalah mengambil haknya. Dahulu, ayahnya pernah bekerja di tempat si Penunggang Kuda itu, tetapi ia tidak membayar secara penuh, sejumlah seribu dinar tersebut. Adapun kakek buta itu adalah orang yang telah membunuh ayah anak kecil itu sebelum mengalami kebutaan."
Nabi Musa AS pernah melihat seorang yang sedang berdoa dengan khusyuk dan nampak memelas. Musa merasa hiba kepada orang itu, karena doanya belum juga dikabulkan Tuhan. Lalu Nabi Musa bermunajat lagi: "Ya Tuhan, jika saja aku mempunyai apa yang dimintanya itu, niscaya akan aku berikan!" Allah SWT menjawab: "Wahai Musa, ketahuilah bahwa Aku sayang kepada orang itu. Akan tetapi dia berdoa kepada-Ku sedangkan hatinya masih mengingat pada kambing yang dimilikinya. Aku tidak mau mengabulkan doa seorang hamba yang ketika berdoa hatinya masih mengingat selain-Ku."
Dikisahkan lagi, Nabi Musa AS mengadukan sakit giginya kepada Allah. Allah berfirman: "Ambillah rumput tifani dan letakkan di gigimu yang sakit." Nabi Musa AS megikuti perintah itu. Seketika sakit giginya hilang. Beberapa waktu kemudian, ia mengelami sakit gigi lagi. Karena sudah tahu obatnya, ia langsung mengambil rumput tifani dan meletakkannya sebagaimana pertama kali. Cuma anehnya, kali ini bukannya sembuh, sakit giginya justru bertambah parah. Nabi Musa AS kembali memohon pertolongan Allah SWT. Allah SWT berfirman: "Wahai Musa! Aku adalah yang menyembuhkan dan menyehatkan. Aku adalah yang memberikan bahaya dan manfaat. Pada waktu pertama, engkau melakukannya karena Aku, sehingga Kuhilangkan penyakitmu. Sedangkan sekarang engkau melakukannya bukan karena Aku, melainkan rumput tifani itu. ( Hikayat Sufi ). Kisah Nabi Musa AS tersebut memberikan gambaran bahwa yang menolong kita sebenarnya bukan ikhtiar kita, tetapi kekuasaan dan pertolongan Allah.
Pada lain waktu, nabi Musa AS bermunajat kepada Allah: "Ya Tuhan. Katanya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tapi kenapa masih ada hamba-Mu yang dimasukkan ke dalam neraka?" Allah SWT tidak menjawab langsung, tapi menyuruh Musa menanam padi sampai dipanen dan hasilnya dibawa pulang kerumah. Perintah Allah itu dikerjakan oleh nabi Musa AS. Kemudian Allah SWT bertanya: "Apakah semua padi hasil panen itu kau bawa pulang kerumah?" Musa menjawab: "Tidak, ya Tuhan! Yang saya bawa pulang adalah padi yang baik. Sedang yang tidak baik (hampa) dan busuk, saya bakar, agar tidak merusak padi yang baik-baik." Lalu Alllah SWT menjawab: "Begitulah, wahai Musa. Bagi hamba-hamba-Ku yang baik, Aku masukkan ke dalam surga-Ku. Tapi yang tidak baik Aku bakar agar tidak merusak hamba-Ku yang baik-baik." Wallahualam.*

Baca Selengkapnya ...

Sunday, May 25, 2008

Kutukan Keledai

Dikatain keledai aja gondoknya udah bukan main. Gimana lagi kalau dikutuk jadi keledai? Duh, kasiannya! Berikut ini kisahnya yang disebutkan oleh Ibnul Jauzy -rahimahullah- dalam kitabnya "Akhbarul Hamqo wal Mughaffalin" . Beliau berkata
"Aku diceritakan oleh beberapa orang teman ada seorang pandir yang sedang menuntun keledainya. Seorang yang melihat ini, berkata kepada temannya, "Ane bisa ngambil keledainya tuh orang tanpa dia sadar"
"Gimane caranya? Diakan megang talinya?"
Maka orang ini mengambil talinya dan melingkarkannya ke lehernya seraya berkata kepada temannya,
"Ente bawa pergi nih, keledainya!"
Temannyapun membawa pergi keledai tersebut.
Orang ini berjalan dibelakang si pandir dengan tali melingkar di lehernya beberapa lama. Kemudian dia berhenti. Si pandir yang nggak sadar, menarik-narik tapi dia tetap berhenti. Si pandir menoleh, terkaget-kaget kok yang dia bawa orang.
"Hei, mana keledaiku?"
"Ane adalah keledai tuan."
"Ha, gimane ceritanye?
"Dulu ane pernah durhaka ama emak ane. Terus ane dikutuk menjadi keledai. Selama ini ane membantu tuan. Sekarang emak ane udah gak marah lagi, maka ane jadi orang lagi."
"La haula wala quwwata illa billah, jadi selama ini aku memperkerjakan seorang manusia?
"Begitulah"
"Pergilah"
Maka orang ini pun pergi. Si pandir pulang ke rumahnya. Dia cerita ama bininya,
"Tahu kagak, ternyata kita dulu memperkerjakan seorang manusia. Gimana caranya untuk menghapus dosa kita ini? Bagaimana caranya kita bertobat?
"Bersedekahlah sebisamu!" (kayaknya laki bini sama aja nih....-pent)
Setelah beberapa hari, bininya berkata,
"Belilah keledai yang lain supaya abang bisa kerja!"
Maka si pandirpun pergi ke pasar. Alangkah kagetnya dia melihat keledainya ada di pasar. Keledainyapun ketika melihat tuannya datang, langsung teriak-teriak memanggil tuannya. Si pandir langsung menghampiri keledainya, menarik kupingnya, seraya berteriak,
"Hei, b*****t! Ente durhaka lagi ya?
"?!?!?!?!?!? "
(Akhbarul Hamqo wal Mughaffalin 186)

Hehehehe.... gak usah terlalu serius ya..! "Akhbarul Hamqo wal Mughaffalin" kalo diterjemahin kira2 : Kisah orang-orang pandir dan dungu. Lumayanlah.. untuk ngurangin stress....

http://oaseilmu. wordpress. com/2008/ 05/22/keledai- kutukan/

Baca Selengkapnya ...