Sunday, July 31, 2011
[Review] TRTTE, Kisah Pangeran Muslim Mongol Mengambil kembali Haknya
Thursday, December 17, 2009
Muhasabah Dodol Mbak Icus ^_^
Setelah baca catatannya mbak Wulan di milis menggugah niat ku untuk menulis kembali. Setelah diingat-ingat rasanya sudah lamaaaaaaaaa sekali diri ku tidak membuat resolusi tahun baru (ya iyalah gmana ga males, kalo akhirnya resolusi hanya jadi resolusi, kalo tahun baru udah lewat sebulan, lupa ama resolusinya ) tapi sebelum itu muhasabah dulu deh ye... Muhasabanya dimulai dari hilangnya kebiasaaan - kebiasaan baik yang dulu sempat ku punya dan hampir membuat teman - teman ku ngiri abis.
Puasa sunnah yang dlu adalah ibadah yang hampir tak pernah absen minimal dua hari sebulan kini hampir blas, paling sekali-sekali kalo pas pengeeeeeeeen banget, baru deh puasa. Qiyamul lail, beh ini lagi. sejak kuliah tahun kedua knapa dirikyu mulai ancur-ancuran yach??? usut punya usut, itu karena sejak tahun kedua kuliah aku udah ga ngaji lagi alias absen halaqah.
Sebenernya sih abis lebaran idul fitri kemaren udah dapet tempat ngaji di perumahan tempatnya ummu Faris, tapi...... sayang seribu sayang waktunya bentrok ama jam kantor, secara hari jumat, akhir minggu kerjaan seolah ga pernah ada habisnya dan ga bisa ditinggal dengan alasan URGENT!!!!! jadilah aku hanya smepet datang dihari pembukaan liqa, dan sudah hampir dua bulan absen lagi.... Maap ya Mom....
Oh ya, dlu aku pernah punya impian membuat perpustakaan mini dirumah, akhirnya untuk merealisasikan mimpi itu, aku membuat janji pada diriku, bahwa bila aku sudah bekerja nanti (ceritanya obsesi ini terjadi pada waktu masih nganggur dan kerjaannya dirumah baca buku, hasil minjem di perpustakaan Daerah Sidoarjo) setiap bulan aku musti beli buku minimal satu buku. akhirnya sih iya setiap bulan pasti beli buku tapi ya itu, setahun kok ya buku ku kok masih segitu aja, padahal kalo duit masih sisa di akhir bulan pasti dibeliin buku, jadilah kadang sebulan beli tiga buku... Ternyata sodara-sodara beberapa buku ku emang tidak kembali setelah di pinjem teman-teman ku.
Nah cerita itu juga berawal dari mimpi ku yang laen... Secara sebagai muslim punya kewajiban untuk berdakwah, sedangkan diriku sadar bahwa aku orangnya tidak pandai berbicara dan tawaran untuk ngisi liqa di skul ku tolak mentah-mentah karena aku tidak berani ( ga kuat tanggung jawabnya bo... ). Akhirnya aku menemukan cara yang lebih oke (menurut ku sih :-D :-P). Berdakwah dengan meminjamkan buku-buku islam. Namun ternyata.... buku-buku ku banyak yang hilang tanpa jejak, tapi berhubung niatnya dakwah, ya di ikhlasin aja, selama yg minjem bilang terus terang kalo bukunya ilang, lupa karena dipinjemin lagi ato apalah, yang peling sebel dan susah buat maapinya itu gara-gara udah buku ga balik ga minta maap, bilang balikin minggu depan, minggu depannya bilang minggu depannya lagi. di datengin kerumahnya, minta tlg temen yg rumahnya deket eh malah yg temen yg nolongin ngingetin malah di marah-marahain gila khan tuh anak. mana udah tak telpon berkali-kali malah nyodorin ke kakaknya buat jawab, aku di omelin lagi.
ampun deh sama anak yang atu ini. malah bikin ati tambah sakit, udahlah kuserahkan semua urusan ku dengan anak ini sama Allah aja, terserah yang pasti aku sama sekali tidak terima sama perlakuannya pada teman ku. fuih...
Eit, urusan buku belum selesai sampe disini, karena mimpi ku harus ku rem saat mulai kuliah. yupz budged beli bukunya terpaksa dipangkas bahkan nyaris hilang dilaihkan untuk urusan kuliah, mulai dari potokopy, ekstra bensin, seminar (yang ini bo'ong soalnya suci jarang-jarang mau ikut seminar kalo disuruh bayar, akhirnya milih jadi panitia biar g disuruh bayar, meskipun resikonya g konsen pas seminar karena sering diganggu tetek bengek keuangan alias urusan bayar - menbayar, ya iyalah org suci kebagian jadi bendahara). Nah berhubung ga ada yg dirubung (hua...ha...ha.... kalimat ini lama tak terdengar, ini biasa kudengar saat masih aktip di Sanggar Pramuka Dewa Ruci-Dewi Kunthi alias Dewa-dewi Perkapalan) kuliah udah selese, program sebulan minimal sebuku bisa dilaksanakan lagi, SIAP..... GRAAAAAKKKK....
Abis itu.... kebiasaan selanjutnya apa ya.... Bukan oey, bukan kebiasaan, tapi urusan masak-memasak, dlu sempet belajar masak, tapi belajarnya sama mami dan kakak, tapi lagi, lagi dan lagi setelah kesibukan baru dikampus dengan aktifitas organisasi segudang dan pindah kerja di perusahaan yang baru ini jadi ogah ke dapur kecuali terpaksa karena perut keroncongan tengah malam dan tak ada lauk yang bisa dimakan, itupun hanya buat omlet, nasi goreng dan mie instan atau ketika lagi ngidam (istilah kakak iparku, katanya aku kayak ibu hamil yg lagi ngidam kalo lagi pengen makanan, abis yg di pengen makanan yg aku pengen termasuk susah di cari) bubur sumsum, puding, kacang ijo ato makanan lain baru aku turun ke dapur.
Ya di penghujung tahun ini, aku ingin lebih baik lagi Menjadi hamba Allah, manjadi umat Rasulullah yang lebih taat, jadi anak yang lebih berbakti, menjadi adik dan kakak yang lebih sayang, ngerti dan peka akan kesulitan saudaraku. menjadi muslimah yang lebih shalihah.
Aku akan berusaha lebih banyak bersedekah, lebih banyak senyum, mengurangi kata-kata ketus, pedas, mengurangi sifat dominanku meski yang ini sepertinya susah. ^_^
SO, SUCIYATININGTIYAS... Besok tahun akan berganti, meski besok (Insya Alla) kamu tetap akan bertemu dengan mentari yang sama, orang sama, rumah yang sama, dan negara yang sama ruwetnya dengan hari ini, Kamu harus memancarkan energi baru, energi positif. Energi untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Bismillah, dengan nama-Nya lah engkau akan memulai hari yang sama besok dengan semangat baru...
30 Dhulhijjah 1430
17 Desember 2009
Suci
Monday, June 22, 2009
Siapakah Kau, Perempuan Sempurna?
Sebuah Catatan Kecil Afifah Afra
Ketika akhirnya saya dilamar oleh seorang lelaki, saya luruh dalam kelegaan. Apalagi lelaki itu, kelihatannya ‘relatif’ sempurna.Hapalannya banyak, shalih, pintar. Ia juga seorang aktivis dakwah yangsudah cukup matang. Kurang apa coba?
Saya merasa sombong! Ketika melihat para lajang kemudian diwisudasebagai pengantin, saya secara tak sadar membandingkan, lebih keren mana suaminya dengan suami saya.
Sampai akhirnya air mata saya harus mengucur begitu deras, ketika suatu hari menekuri 3 ayat terakhir surat At-Tahrim. Sebenarnya, sebagian besar ayat dalam surat ini sudah mulai saya hapal sekitar 10 tahun silam, saat saya masih semester awal kuliah. Akan tetapi, banyak hapalan saya menguap, dan harus kembali mengucur bak air hujan ketika saya menjadi satu grup dengan seorang calon hafidzah di kelompok pengajian yang rutin saya ikuti.
Ini terjemah ayat tersebut:
66:10. Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)".
66:11. Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim",
66: 12. dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.
SEBUAH KONTRADIKSI
Ada 4 orang yang disebut dalam 3 ayat tersebut. Mereka adalah Istri Nuh, Istri Luth, Istri Firaun dan Maryam. Istri Nuh IN), dan Istri Luth (IL) adalah symbol perempuan kafir, sedangkan Istri Firaun (IF) dan Maryam (M), adalah symbol perempuan beriman. Saya terkejut, takjub dan ternganga ketika menyadari bahwa ada sebuah kontradiksi yang sangat kuat. Allah memberikan sebuah permisalan nan ironis. Mengapa begitu?
IN dan IL adalah contoh perempuan yang berada dalam pengawasan lelaki shalih. Suami-suami mereka setaraf Nabi (bandingkan dengan suami saya! Tak ada apa-apanya, bukan?). Akan tetapi mereka berkhianat, sehingga dikatakanlah kepada mereka, waqilad khulannaaro ma’ad daakhiliin…
Sedangkan antitesa dari mereka, Allah bentangkan kehidupan IF (Asiyah binti Muzahim) dan M. Hebatnya, IF adalah istri seorang thaghut, pembangkang sejati yang berkoar-koar menyebut “ana rabbakumul a’la.” Dan Maryam, ia bahkan tak memiliki suami. Ia rajin beribadah, dan Allah tiba-tiba berkehendak meniupkan ruh dalam rahimnya. Akan tetapi, cahaya iman membuat mereka mampu tetap bertahan di jalan kebenaran. Sehingga Allah memujinya, wa kaanat minal qaanithiin…
PEREMPUAN SEMPURNA
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda: "Sebaik-baik wanita penghuni surga itu adalah Khadijah binti huwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim istri Firaun, dan Maryam binti Imran." (HR. Ahmad 2720, berderajat shahih).
Empat perempuan itu dipuji sebagai sebaik-baik wanita penghuni surga. Akan tetapi, Rasulullah saw. masih membuat strata lagi dari 4 orang tersebut. Terpilihlah dua perempuan yang disebut sebagai perempuan sempurna. Rasul bersabda, “Banyak lelaki yang sempurna, tetapi tiada wanita yang sempurna kecuali Asiyah istri Firaun dan Maryam binti Imran. Sesungguhnya keutamaan Asiyah dibandingkan sekalian wanita adalah sebagaimana keutamaan bubur roti gandum dibandingkan dengan makanan lainnya.” (Shahih al-Bukhari no. 3411).
Inilah yang membuat saya terkejut! Bahkan perempuan sekelas Fathimah dan Khadijah pun masih ‘kalah’ dibanding Asiyah IF dan Maryam binti Imran. Apakah gerangan yang membuat Rasul menilai semacam itu?
Ah, saya bukan seorang mufassir ataupun ahli hadits. Namun, dalam keterbatasan yang saya mengerti, tiba-tiba saya sedikit meraba-reba, bahwa penyebabnya adalah karena keberadaan suami. Khadijah, ia perempuan hebat, namun ia tak sempurna, karena ia diback-up total oleh Muhammad saw., seorang lelaki hebat. Fathimah, ia dahsyat, namun ia tak sempurna, karena ada Ali bin Abi Thalib kw, seorang pemuda mukmin yang tangguh.
Sedangkan Asiyah? Saat ia menanggung deraan hidup yang begitu dahsyat, kepada siapa ia menyandarkan tubuhnya, karena justru yang menyiksanya adalah suaminya sendiri. Siksaan yang membuat ia berdoa, dengan gemetar, "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim." Siksaan yang membuat nyawanya terbang, ah… tidak mati, namun menuju Surga. Mendapatkan rizki dan bersukaria dengan para penduduk akhirat.
Bagaimana pula dengan Maryam? Ia seorang lajang yang dipilih Allah untuk menjadi ibunda bagi Nabi Isa. Kepada siapa ia mengadu atas tindasan kaumnya yang menuduh ia sebagai pezina?
Pantas jika Rasul menyebut mereka: Perempuan sempurna…
JADI, YANG MENGANTAR ke Surga, Adalah Amalan Kita
Jadi, bukan karena (sekadar) lelaki shalih yang menjadi pendamping kita. Suami yang baik, memang akan menuntun kita menuju jalan ke surga, mempermudah kita dalam menjalankan perintah agama. Namun, jemari akan teracung pada para perempuan yang dengan kelajangannya (namun bukan sengaja melajang), atau dengan kondisi suaminya yang Memprihatinkan (yang juga bukan karena kehendak kita), ternyata tetap bisa beramal dan cemerlang dalam cahaya iman. Kalian adalah Maryam-Maryam dan Asiyah-Asiyah, yang lebih hebat dari Khadijah-Khadijah dan Fathimah-Fathimah.
Sebaliknya, alangkah hinanya para perempuan yang memiliki suami-suami nan shalih, namun pada kenyataannya, mereka tak lebih dari istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth. Yang alih-alih mendukung suami dalam dakwah, namun justru menggelendot manja, “Mas… kok pergi pengajian terus sih, sekali-kali libur dong!” Atau, “Mas, aku pengin beli motor yang bagus, gimana kalau Mas korupsi aja…”
Benar, bahwa istri hebat ada di samping suami hebat. Namun, lebih hebat lagi adalah istri yang tetap bisa hebat meskipun terpaksa bersuamikan orang tak hebat, atau bahkan tetapi melajang karena berbagai sebab nan syar’i. Dan betapa rendahnya istri yang tak hebat, padahal suaminya orang hebat dan membentangkan baginya berbagai kemudahan untuk menjadi hebat. Hebat sebagai hamba Allah!
Wallahu a’lam bish-shawwab.