Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Tuesday, June 19, 2012

Rose



Rose,
Akhirnya sampai juga buku ini dalam genggaman, saat mulai membaca aq benar – benar tidak punya gambaran sedikitpun buku ini bercerita tentang apa. Sinta Yudisia sudah merupakan jaminan bacaan bagus dan berbobot bagiku. Jadi saat ditag mbak Sinta review buku ini via fesbuk, aq langsung skip. Bukannya ga suka, tapi ogah dapet spoiler, soalnya direview biasanya ada spoilernya. Bahkan saat mengambil buku ini dari rak, aku tidak mengintip sinopsi dibelakangnya. Padahal membaca sinopsis buku adalah salah satu kegiatan wajib ku saat hendak membawa buku ke meja kasir. Pengecualian untuk mbak Sinta Yudisia.


Membaca judulnya dan dari awal cerita kupikir cerita ini akan berkisar tentang perempuan bernama “Rose” ternyata dugaan ku tidak sepenuhnya benar. Rose adalah sebuah kisah keluarga, konflik saudara perempuan, cemburu, hal – hal yang biasa muncul didalam keluarga.

Rose, betapa besar luka yang dibuat oleh saudara, ia tetaplah saudara. Sejauh apapun ia pergi, suatu saat ia pasti kembali. Sebesar apapun permasalahan yang muncul dan usaha untuk menghindarinya dia harus dihadapi.

Rose, membuatku menekuri satu demi satu keputusan yang telah kubuat. Ku ingat – ingat kapan terakhir kali aku memohon bantuan pada Nya untuk mengambil keputusan? Sudah lama sekali.

Ah, Rose...

Tapi, seperti kebanyakan buku mbak Sinta terdahulu, ending Rose juga dibikin gantung. Entah nanti mau dibuat sekuel atau memang diserahkan pada pembaca untuk berandai – andai bagaimana kelanjutannya.

Mbak Sinta Yudisia, Terima kasih atas tamparan keras “Rose” pada ku... sakit sih, tapi pantas.

Wonoayu, 19 Juni 2012

Baca Selengkapnya ...

Wednesday, May 23, 2012

Moribito: Guardian of The Spirit


Karena telah menolong Chagum sang pangeran kedua, Balsa harus berhadapan dengan sang permaisuri. Ia pun harus memilih mati saat itu juga atau menyelamatkan pangeran dan menerima imbalan besar, namun menerima pekerjaan itu sama artinya dengan kematian yang tertunda.

Saat itu juga ia harus merencanakan pelarian sang pangeran, dengan bantuan sang permaisuri mereka kabur dari istana melalui terowongan air. Sejak keluar dari istana Balsa menekankan pada sang pangeran bahwa ia bukan lagi seorang anggota keluarga kerajaan, ia adalah anak biasa.

Baca Selengkapnya ...

Tuesday, September 27, 2011

[Review] Tahta Awan


Buku kedua dari trilogi “The Road To the Empire” ini masih berkisah tentang Pangeran Mongol Muslim pertama. Cerita bagaimana asal mula keislamannya ada pada buku pertama. Yang belum baca rekomended banget buat dibaca.

Setelah kemenangan atas perang melawan adik kandungnya Arghun Khan di Cekung Turpan, Akhirnya Takudar pangeran Kesatu Mongolia naik Tahta dengan gelar Takudar Muhammad Khan. Bukan hal yang mudah baginya memimpin Mongol dengan gelar keislamannya, banyak kalangan yang meremehkan. Bayang – bayang Arghun Khan yang memimpin Mongol dengan tangan besi kerap membuatnya dibanding – bandingkan dengannya.

Ia banyak membuat perubahan dalam kepemerintahan, ia juga berusaha mengubah pola kehidupan rakyatnya agar mulai memperhitungkan pertanian. Kedekatannya dengan utusan dari wilayah muslim pun menimbulkan kecemburuan suku – suku mongol. Ia dituding lebih suka berlama – lama dengan utusan muslim dan membaca kitab.

Keputusannya untuk membiarkan Arghun Khan tetap hidup pun dianggap sebagai bentuk kelemahannya, Ia tak dapat bertindak tegas. Ia kerap datang sendiri menemui saudaranya dipenjara Bayarkhuu, menolak usulan pejabat negara dan bangsawan agar Arghun Khan yang datang menemuinya dengan kawalan ketat. Tidak, Takudar tak ingin Arghun mendapat simpati dari orang – orang yang masih setia kepadanya.

Baca Selengkapnya ...

Sunday, July 31, 2011

[Review] TRTTE, Kisah Pangeran Muslim Mongol Mengambil kembali Haknya

Lama sekali buku ini masuk dalam waiiting list, Alhamdulillah jumat kemaren buku ini beserta sekuel keduanya "Tahta Awan" sampai dengan selamat sentosa di kamarku terbungkus rapi kumplit dengan tanda tangan dan pesan spesial dari sang penulis ^_^. Maklum beli langsung pada penulisnya Mbak Sinta Yudisia.

Ini bukan buku pertama Mbak Sinta yang kubaca, jadi tidak kaget dengan deskripsi panjang diawal menjelaskan duduk perkara ihwal pelarian sang Pangeran Pertama Takudar Khan. Meskipun seret diawal (secara daku memang rada enggan baca deskripsi yang terlalu panjang ^_^') tapi setelah sampai sekitar sepertiga, cerita mulai menglir lancar malah membuatku enggan melepaskannya seolah menuntut untuk segera menamatkannya. ^_^

Dalam pelarian inilah Takudar khan dan pelayannya berganti nama menjadi Baruji dan Almamuchi (bener ga nih tulisannya?) bertemu dengan Rasyiduddin yang juga berganti nama menjadi Salim (my fav character in this story ^_^), mereka berdua bekerja sama demi mengembalikan hak sang pangeran pertama akan Tahta Mangolia dan mengembalikan kejayaan Islam.

Baca Selengkapnya ...

Friday, December 10, 2010

Dari Bedah Buku Existere Sampai Kalap Buku


Pagi itu kami berdua berjibaku dengan jalanan Sidoarjo, polusi, rentetan mobil dan motor yang berebut kecepatan ingin segera sampai dilokasi tujuan. Beberapa tetes keringat tak ingin ketinggalan ikut membuatku merasa tidak nyaman, kulirik Mbak mufa yang duduk disamping, ia terlihat menikmati perjalanan, mungkin ia sudah terbiasa dengan lalu lintas Surabaya dipagi hari. Ia santai membuka lembar demi lembar koran yang sempat dibelinya sebelum naik angkot.

Sempat beberapa kali menengok layar hape untuk sekedar melihat jam berapa sekarang, sudah lewat jam sepuluh kami masih berada di terminal Joyoboyo menunggu penumpang penuh, syukurlah tidak lama kemudian sang supir melajukan colt berwarna coklat membelah jalanan Surabaya.

Meskipun sampai di tempat acara Bedah Buku Existere telat lebih dari tiga puluh menit ternyata kami tidak telat sedikitpun, acara belum dimulai. Aku tidak melihat Mbak Sinta Yudisia penulis buku yang akan dibedah.

Bedah bukupun segera dimulai bersama dengan naiknya Mbak Sinta Yudisia ke atas panggung bersama sang moderator, acara berjalan dengan santai meskipun tema yang dibawakan cukup serius, tentang kehidupan para "kupu - kupu malam".

Mbak Sinta Yudisia menceritakan beberapa kisah tentang narasumber yang ia gunakan dalam menulis bukunya. Alasan yang sering diungkap mengapa mereka menjerumuskan diri kedunia pelacuran, kemiskinan. meskipun saat ini kekurangan materi bukan lagi satu - satunya alasan seseorang terjun kesana.

Menurut penuturan narasumber, pemberontakan pada orang tua juga menjadi penyebab mengapa mereka memilih menjadi pelacur.

Selanjutnya sesi tanya jawab berlangsung, dengan iming - imingi doorprice, banyak tangan - tangan yang diangkat untuk bertanya. ups, bisa jadi karena memang ingin bertanya, bukan karena doorprice dong!!

Setelah dipilih tiga penanya untuk mendapatkan doorprice, tiba saatnya untuk bagi - bagi hadiah. Setelah pertanyaan dilempar, yang bisa menjawab diharuskan lari kedepan, bukan angkat tangan, jadi yang cuma angkat tangan dan diam ditempat musti rela gigit jari ga dapat hadiah. Hanya yang berani maju kedepan saja yang mendapat kesempatan untuk dapat hadiah.

Semeriah apapun acaranya tetap harus berakhir, sayangnya kami musti pulang tanpa membawa oleh - oleh doorprice satu pun, bahkan mug yang digadang - gadang mau dibawa pulang pun tak ada. Karena kata mbak Sinta mugnya telah diserahkan pada panitia. Hiks... hiks...

Tapi bukan berarti kita pulang dengan tangan kosong, karena ternyata Atrium PPIC (Plasa Pendidikan Indonesia Cerdas) yang berada di Kapas Krampung Plasa adalah gudangnya toko buku dengan diskon bervariasi dan sangat menggiurkan. Benar - benar surganya para kutu bukuer.

Saran ku, kalau ada yang ingin kesana siapkan budget terlebih dahulu, dan yang paling penting jangan bawa atm. ingat JANGAN BAWA ATM, kalau tak ingin kalap dan berakhir dengan tongpes. Jangan sampai baru sadar ketika barang bawaan anda sudah terlalu berat, bertas - tas kresek sudah memberati tangan anda.

Peringatan itu bukan hanya sekedar warning, itu karena penulis sudah mengalaminya sendiri, Atrium PPIC Kapas Krampung Plasa telah membuat ku benar - benar lupa diri, lupa waktu, lupa budget. hi hi hi.

Wonoayu

10 Desember 2010 16.34

Baca Selengkapnya ...

Thursday, December 17, 2009

Muhasabah Dodol Mbak Icus ^_^



Setelah baca catatannya mbak Wulan di milis menggugah niat ku untuk menulis kembali. Setelah diingat-ingat rasanya sudah lamaaaaaaaaa sekali diri ku tidak membuat resolusi tahun baru (ya iyalah gmana ga males, kalo akhirnya resolusi hanya jadi resolusi, kalo tahun baru udah lewat sebulan, lupa ama resolusinya ) tapi sebelum itu muhasabah dulu deh ye... Muhasabanya dimulai dari hilangnya kebiasaaan - kebiasaan baik yang dulu sempat ku punya dan hampir membuat teman - teman ku ngiri abis.

Puasa sunnah yang dlu adalah ibadah yang hampir tak pernah absen minimal dua hari sebulan kini hampir blas, paling sekali-sekali kalo pas pengeeeeeeeen banget, baru deh puasa. Qiyamul lail, beh ini lagi. sejak kuliah tahun kedua knapa dirikyu mulai ancur-ancuran yach??? usut punya usut, itu karena sejak tahun kedua kuliah aku udah ga ngaji lagi alias absen halaqah.

Sebenernya sih abis lebaran idul fitri kemaren udah dapet tempat ngaji di perumahan tempatnya ummu Faris, tapi...... sayang seribu sayang waktunya bentrok ama jam kantor, secara hari jumat, akhir minggu kerjaan seolah ga pernah ada habisnya dan ga bisa ditinggal dengan alasan URGENT!!!!! jadilah aku hanya smepet datang dihari pembukaan liqa, dan sudah hampir dua bulan absen lagi.... Maap ya Mom....

Oh ya, dlu aku pernah punya impian membuat perpustakaan mini dirumah, akhirnya untuk merealisasikan mimpi itu, aku membuat janji pada diriku, bahwa bila aku sudah bekerja nanti (ceritanya obsesi ini terjadi pada waktu masih nganggur dan kerjaannya dirumah baca buku, hasil minjem di perpustakaan Daerah Sidoarjo) setiap bulan aku musti beli buku minimal satu buku. akhirnya sih iya setiap bulan pasti beli buku tapi ya itu, setahun kok ya buku ku kok masih segitu aja, padahal kalo duit masih sisa di akhir bulan pasti dibeliin buku, jadilah kadang sebulan beli tiga buku... Ternyata sodara-sodara beberapa buku ku emang tidak kembali setelah di pinjem teman-teman ku.

Nah cerita itu juga berawal dari mimpi ku yang laen... Secara sebagai muslim punya kewajiban untuk berdakwah, sedangkan diriku sadar bahwa aku orangnya tidak pandai berbicara dan tawaran untuk ngisi liqa di skul ku tolak mentah-mentah karena aku tidak berani ( ga kuat tanggung jawabnya bo... ). Akhirnya aku menemukan cara yang lebih oke (menurut ku sih :-D :-P). Berdakwah dengan meminjamkan buku-buku islam. Namun ternyata.... buku-buku ku banyak yang hilang tanpa jejak, tapi berhubung niatnya dakwah, ya di ikhlasin aja, selama yg minjem bilang terus terang kalo bukunya ilang, lupa karena dipinjemin lagi ato apalah, yang peling sebel dan susah buat maapinya itu gara-gara udah buku ga balik ga minta maap, bilang balikin minggu depan, minggu depannya bilang minggu depannya lagi. di datengin kerumahnya, minta tlg temen yg rumahnya deket eh malah yg temen yg nolongin ngingetin malah di marah-marahain gila khan tuh anak. mana udah tak telpon berkali-kali malah nyodorin ke kakaknya buat jawab, aku di omelin lagi.
ampun deh sama anak yang atu ini. malah bikin ati tambah sakit, udahlah kuserahkan semua urusan ku dengan anak ini sama Allah aja, terserah yang pasti aku sama sekali tidak terima sama perlakuannya pada teman ku. fuih...

Eit, urusan buku belum selesai sampe disini, karena mimpi ku harus ku rem saat mulai kuliah. yupz budged beli bukunya terpaksa dipangkas bahkan nyaris hilang dilaihkan untuk urusan kuliah, mulai dari potokopy, ekstra bensin, seminar (yang ini bo'ong soalnya suci jarang-jarang mau ikut seminar kalo disuruh bayar, akhirnya milih jadi panitia biar g disuruh bayar, meskipun resikonya g konsen pas seminar karena sering diganggu tetek bengek keuangan alias urusan bayar - menbayar, ya iyalah org suci kebagian jadi bendahara). Nah berhubung ga ada yg dirubung (hua...ha...ha.... kalimat ini lama tak terdengar, ini biasa kudengar saat masih aktip di Sanggar Pramuka Dewa Ruci-Dewi Kunthi alias Dewa-dewi Perkapalan) kuliah udah selese, program sebulan minimal sebuku bisa dilaksanakan lagi, SIAP..... GRAAAAAKKKK....

Abis itu.... kebiasaan selanjutnya apa ya.... Bukan oey, bukan kebiasaan, tapi urusan masak-memasak, dlu sempet belajar masak, tapi belajarnya sama mami dan kakak, tapi lagi, lagi dan lagi setelah kesibukan baru dikampus dengan aktifitas organisasi segudang dan pindah kerja di perusahaan yang baru ini jadi ogah ke dapur kecuali terpaksa karena perut keroncongan tengah malam dan tak ada lauk yang bisa dimakan, itupun hanya buat omlet, nasi goreng dan mie instan atau ketika lagi ngidam (istilah kakak iparku, katanya aku kayak ibu hamil yg lagi ngidam kalo lagi pengen makanan, abis yg di pengen makanan yg aku pengen termasuk susah di cari) bubur sumsum, puding, kacang ijo ato makanan lain baru aku turun ke dapur.

Ya di penghujung tahun ini, aku ingin lebih baik lagi Menjadi hamba Allah, manjadi umat Rasulullah yang lebih taat, jadi anak yang lebih berbakti, menjadi adik dan kakak yang lebih sayang, ngerti dan peka akan kesulitan saudaraku. menjadi muslimah yang lebih shalihah.
Aku akan berusaha lebih banyak bersedekah, lebih banyak senyum, mengurangi kata-kata ketus, pedas, mengurangi sifat dominanku meski yang ini sepertinya susah. ^_^

SO, SUCIYATININGTIYAS... Besok tahun akan berganti, meski besok (Insya Alla) kamu tetap akan bertemu dengan mentari yang sama, orang sama, rumah yang sama, dan negara yang sama ruwetnya dengan hari ini, Kamu harus memancarkan energi baru, energi positif. Energi untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Bismillah, dengan nama-Nya lah engkau akan memulai hari yang sama besok dengan semangat baru...


30 Dhulhijjah 1430
17 Desember 2009


Suci

Baca Selengkapnya ...

Thursday, November 5, 2009

KESEDERHANAAN YANG MEMESONA: EMAK INGIN NAIK HAJI



Jika anda adalah seorang Hollywood movie's freak, maka jangan pernah membayangkan film EMAK INGIN NAIK HAJI adalah sebuah film yang menawarkan adegan berbumbu baku tembak yang heboh. Atau diselipi adegan spektakuler alien turun ke bumi, khas Hollywood. Atau ketitipan sedikit adegan thriller yang membuat jantung anda berdebar sangat kencang. Tentu saja tidak ada, karena ini adalah film drama murni. Murni memotret masalah-masalah sosial warga kebanyakan di Indonesia.





Jika anda seorang Bollywood movie's freak, maka jangan pernah membayangkan dalam film EINH ini akan menemukan adegan ber-lebay-lebay. Atau anda akan menjumpai dialog-dialog sangat panjang (layaknya dialog khas sinetron yang 'gentayangan' di layar kaca), atau pun disuguhi scoring music yang 'berlebihan.'

Jujur, ketika saya mengetahui bahwa cerpen Mba Asma Nadia yang berjudul EMAK INGIN NAIK HAJI -yang dimuat di Majalah An Noor di tahun 2007 dan telah saya baca juga- sukses memprovokasi seorang sutradara muda potensial bernama Aditya Gumay untuk memfilmkannya, saya menjadi sangat-sangat tertarik pada hasil akhir pembuatan film ini.

Bagi saya yang saat ini sedang belajar menulis novel dengan rumus SHOWING not TELLING, lalu menemukan fakta bahwa Aditya Gumay tertarik memfilmkannya, sungguh membuat saya penasaran penuh tanya, "Akankah film ini sanggup mengembangkan ide cerita yang ditulis Mba Asma hanya dalam beberapa halaman tersebut menjadi sebuah film utuh yang sama menyentuhnya dengan versi cerpennya?"

Beberapa film adaptasi novel bertema relijius yang telah lebih dahulu difilmkan di mata saya terasa kedodoran dalam memindahkan teks -yang memang sangat tebal dengan banyak tokoh dan konflik- ke ruang seni tiga dimensi yang terbatas waktunya.

Maka Aditya Gumay telah mengambil resiko sebaliknya, yaitu 'memuaikan' cerpen yang pendek menjadi sebuah film dengan durasi sekitar 90 menit.

Setahu saya ini adalah hal baru di Indonesia. Ide sebuah film diangkat dari sebuah cerpen. Interesting!

Maka saya pun 'tak berani' berharap banyak terhadap film ini. Takut 'kecewa' lagi.

Saya tak punya ekspektasi apapun atas film ini, kecuali kesadaran saya bahwa cerpen yang ditulis Mba Asma bagus dan menyentuh saya :-)
***

CATATAN SEDERHANA DARI HATI

Film langsung diputar setelah sambutan diberikan secara singkat oleh Mas Putut Wijanarko -mewakili Mizan Productions- dan Aditya Gumay selaku sutradara.

Tanpa berlama-lama, adegan pembuka langsung mengantarkan penonton untuk 'berkenalan' dengan para tokoh utama, berikut konflik mereka masing-masing.

Di adegan awal ini, saya langsung menyukai 'furniture' dan 'setting tempat' yang dipakai oleh Aditya. Nampak ALAMI. Menghidupkan film seketika.

Dengan kokoh film bertutur tentang tokoh Emak lansia yang welas asih pada anaknya yang bernama Zein. Emak penyabar ini sedang 'menabung' mimpi. Ingin pergi ke Mekah menunaikan rukun Islam yang kelima. Sementara kemiskinan yang membelit mereka tak mampu jua mewujudkan cita-cita Emak. Bertahun-tahun Emak membuat kue dan menjualnya di pasar, apa daya ongkos naik haji selalu naik secara signifikan setiap tahunnya. Sehingga impian terasa semakin utopis!

Ironisnya, tetangga sebelah rumah mereka yang kaya raya justru bolak balik ke tanah suci.

Adegan di atas juga digambarkan dengan pas. Tak berlebihan di mata saya :-)
Bahkan, beberapa dialog terasa 'mencubit-cubit' hati saya.

Adegan kemudian berpindah. Melukiskan dialog antara seorang sekretaris dengan seorang anggota partai politik yang 'sibuk' mempersiapkan haji politisnya.

Adegan ini pun tak lebay. Semua terasa proporsional. Jujur tanpa tedeng aling-aling 'menyindir' perilaku haji atas nama gengsi sosial sebagian pemeluk yang mengaku beragama Islam di negeri ini.

Saya semakin larut dalam film 'sederhana' ini.

Saya terhanyut dalam pusaran konflik masing-masing tokohnya (yang tentu saja tak saling berhubungan), hingga kemudian emosi saya mencuat.

Pun saya dihempas berkali-kali, bahkan digedor dengan 'keras' oleh indahnya sikap tulus Emak dan rapuhnya 'jiwa binatang' berkedok manusia!

Hingga tanpa saya sadari, setitik bening mengalir berkali-kali dari sudut mata saya. Saya tak ingin menghapusnya. Saya ingin menikmati film 'sederhana' yang disuguhkan dengan indah ini sepenuh jiwa.

Aaah, syahdu...

Saya menoleh ke kiri dan kanan saya, hehehe... semua ternyata merasakan hal yang sama, terbukti dari adanya genangan di sudut mata mereka :-)

Sepanjang film diputar, saya sempat berbisik ke orang yang di samping saya untuk menebak ending cerita. Kami sempat 'berdiskusi kecil' menebak sebuah adegan sebagai ending cerita, dan kami fikir, sungguh biasa jika ending klimaksnya seperti itu.

Ternyata...
Saya salah duga!

Endingnya agak di luar dugaan saya!
(Hehehe..., atau saya memang penonton yang sungguh sederhana?)

Wah! Film bertema 'sederhana' ini menjadi tak sederhana lagi di mata saya :-)

Bravo Mas Aditya!

Saya melanjutkan menatap layar besar di hadapan saya. Tiba-tiba saja film ini sudah 'selesai!'

Lalu tepuk tangan terdengar MEMBAHANA. Berkali-kali.
Benar-benar 'membangunkan' saya, bahwa film 'sederhana' ini telah selesai...!

Sungguh enggan rasanya meninggalkan kursi saya. Saya masih ingin menonton akting cantik Emak 'Ati Kanser', juga masih ingin menatap kerennya ekspresi Reza Rahardian yang semakin 'berkembang' dan manisnya narasi liris yang dituturkan Emak.

Di mata saya, Emak dan Zein sukses menciptakan chemistry Ibu dan Anak yang saling mencintai. Sampai-sampai saya merasa tak percaya, bahwa mereka sesungguhnya hanya bermain peran, bukan Ibu dan Anak sungguhan.

*Ah, berhentilah mengetik, Ima, resensi ini akan menjadi sangat panjang dan tidak menjadi resensi lagi, jika kamu tak berhenti! Atau kamu akan tergoda menceritakan spoiler-spoiler yang tentu saja akan merugikan produser, hehehe...*

"Btw, Mas Aditya, saya tunggu loh film-filmmu yang berikutnya!" :-D

Whuah!
I want more...
I want more...!!!
***

Pros:

- Sepertinya pelaku industri perfilman di Indonesia masih harus belajar dengan Hollywood dan Bollywood jika ingin memasukkan 'pesan sponsor/iklan' di dalam sebuah film. Karena advertisement yang terlalu mencolok akan mengurangi keindahan sinematografi.

Cons:
- Saya menikmati dialog-dialog singkat-padat, kadang juga cerdas dan 'lucu'.
- Setting-nya boleh dibilang 'sempurna'! Aditya adalah sutradara yang detail.
- Film ini 'bertumbuh' secara alami. Pertentangan batin para tokoh dan perubahan- perubahannya pun digambarkan dengan alami.

***

Karena saya 'kebetulan' terpilih menjadi salah satu penonton pertama di bioskop FX Senayan hari ini, saya ingin bilang:


Jika kamu ingin menyaksikan indahnya lukisan cinta seorang anak pada ibunya, tontonlah film ini.

Jika kamu bosan dengan film Indonesia bertema sejenis yang 'itu-itu' saja, tontonlah film ini.

Jika kamu ingin menonton film dengan budjet minim, tapi dibuat dengan HATI dan hasilnya keren, tontonlah film ini.

Jika kamu 'terlupa' atau tak merasakan kasih sayang seorang Ibu, maka tontonlah film ini. Karena saya percaya, film genre drama keluarga yang akan everlasting ini dibuat sebagai kado istimewa untuk para Ibu.

Dan..., jika kamu mengakui ketimpangan sosial di negeri ini dan ingin 'diwakili', tontonlah film ini.

Film ini insyaAllah akan melautkan debur batinmu, memeluk gelisah anak jiwamu, menentramkan kemanusiaanmu. Mengembalikanmu pada fitrah: peduli pada sesama.

sumber asli:
http://imazahra.multiply.com/reviews/item/8/EMAK_INGIN_NAIK_HAJI?replies_read=72

Baca Selengkapnya ...