Sunday, July 31, 2011

[Review] TRTTE, Kisah Pangeran Muslim Mongol Mengambil kembali Haknya

Lama sekali buku ini masuk dalam waiiting list, Alhamdulillah jumat kemaren buku ini beserta sekuel keduanya "Tahta Awan" sampai dengan selamat sentosa di kamarku terbungkus rapi kumplit dengan tanda tangan dan pesan spesial dari sang penulis ^_^. Maklum beli langsung pada penulisnya Mbak Sinta Yudisia.

Ini bukan buku pertama Mbak Sinta yang kubaca, jadi tidak kaget dengan deskripsi panjang diawal menjelaskan duduk perkara ihwal pelarian sang Pangeran Pertama Takudar Khan. Meskipun seret diawal (secara daku memang rada enggan baca deskripsi yang terlalu panjang ^_^') tapi setelah sampai sekitar sepertiga, cerita mulai menglir lancar malah membuatku enggan melepaskannya seolah menuntut untuk segera menamatkannya. ^_^

Dalam pelarian inilah Takudar khan dan pelayannya berganti nama menjadi Baruji dan Almamuchi (bener ga nih tulisannya?) bertemu dengan Rasyiduddin yang juga berganti nama menjadi Salim (my fav character in this story ^_^), mereka berdua bekerja sama demi mengembalikan hak sang pangeran pertama akan Tahta Mangolia dan mengembalikan kejayaan Islam.


Mbak Sinta benar - benar membuatku teraduk - aduk emosi, mulai dari geregetan sama Baruji yang kerap meragukan ketulusan Salim (bagian paling aku benci), pada Urghana yang gegabah. Sayang pada kepolosan Buzun yang sangat menyayangi kedua saudaranya, dan dilema yang dia hadapi.

Membaca buku ini serasa menonton film Kingdon of Heaven, filmis banget emang. Mata berasa panas saat pasukan Rasyiduddin terpojok apalagi saat Ia dan beberapa sahabatnya harus menjadi tawanan, disiksa begitu rupa oleh prajurit Arghun Khan, marah pada kebejatan Arghun dan jendral - jendralnya yang telah berbuat nista, rasanya pengen jambak rambutnya (cewek banget neh marahnya, jambak - jambakan ^_^).

Sempet deg - degan pas Takudar Muhammad Khan memilih kembali pada sahabat dan pasukannya yg ditawan menolak untuk mundur, mendapati sahabatnya disiksa tak bergeming saat ia mencoba membangunkan, seolah kejadian itu nyata aku pun berdoa, jangan mati salim, jangan mati.... 

Rada kaget sih, ternyata dari tangan seorang muslimah terlahir sebuah novel yang penuh dengan intrik - intrik politik dan adu ketangkasan bela diri, saluuuut. Makanya aku berani memberikan semua jempol ku (dua jempol tangan dan dua jempol kaki) untuk buku ini. 

Setelah ini "Tahta Awan" telah menunggu untuk dibabat habis, tapi harus menunggu hingga week end, secera kl hari kerja waktu mepet banget. Benar - benar harus menahan nafsu untuk menyimpan "Tahta Awan", masih ada Mushaf yang harus tetap jadi prioritas. Tapi sepertinya pertahanan sudah mulai goyah, pagi ini saat mengembalikan "The Road To The Empire" ke lemari "Tahta Awan" melambai - lambai menggoda, hasilnya sempat curi - curi beberapa lembar, ga pa pa deh asal tilawahnya g lupa ^_^


Wonoayu 9.41 1 Agustus 2011 / 1 Ramadhan 1432

2 comments:

Ibnu At-Tambani said...

Kl diluar pulau jawa ada gk ya mbak?

Anonymous said...

Kurang tau, pesen online aja, saya juga pesen online ke penulisnya langsung bonus gantungan kunci n tanda tanggan plus spesial note