
Setelah baca catatannya mbak Wulan di milis menggugah niat ku untuk menulis kembali. Setelah diingat-ingat rasanya sudah lamaaaaaaaaa sekali diri ku tidak membuat resolusi tahun baru (ya iyalah gmana ga males, kalo akhirnya resolusi hanya jadi resolusi, kalo tahun baru udah lewat sebulan, lupa ama resolusinya ) tapi sebelum itu muhasabah dulu deh ye... Muhasabanya dimulai dari hilangnya kebiasaaan - kebiasaan baik yang dulu sempat ku punya dan hampir membuat teman - teman ku ngiri abis.
Puasa sunnah yang dlu adalah ibadah yang hampir tak pernah absen minimal dua hari sebulan kini hampir blas, paling sekali-sekali kalo pas pengeeeeeeeen banget, baru deh puasa. Qiyamul lail, beh ini lagi. sejak kuliah tahun kedua knapa dirikyu mulai ancur-ancuran yach??? usut punya usut, itu karena sejak tahun kedua kuliah aku udah ga ngaji lagi alias absen halaqah.
Sebenernya sih abis lebaran idul fitri kemaren udah dapet tempat ngaji di perumahan tempatnya ummu Faris, tapi...... sayang seribu sayang waktunya bentrok ama jam kantor, secara hari jumat, akhir minggu kerjaan seolah ga pernah ada habisnya dan ga bisa ditinggal dengan alasan URGENT!!!!! jadilah aku hanya smepet datang dihari pembukaan liqa, dan sudah hampir dua bulan absen lagi.... Maap ya Mom....
Oh ya, dlu aku pernah punya impian membuat perpustakaan mini dirumah, akhirnya untuk merealisasikan mimpi itu, aku membuat janji pada diriku, bahwa bila aku sudah bekerja nanti (ceritanya obsesi ini terjadi pada waktu masih nganggur dan kerjaannya dirumah baca buku, hasil minjem di perpustakaan Daerah Sidoarjo) setiap bulan aku musti beli buku minimal satu buku. akhirnya sih iya setiap bulan pasti beli buku tapi ya itu, setahun kok ya buku ku kok masih segitu aja, padahal kalo duit masih sisa di akhir bulan pasti dibeliin buku, jadilah kadang sebulan beli tiga buku... Ternyata sodara-sodara beberapa buku ku emang tidak kembali setelah di pinjem teman-teman ku.
Nah cerita itu juga berawal dari mimpi ku yang laen... Secara sebagai muslim punya kewajiban untuk berdakwah, sedangkan diriku sadar bahwa aku orangnya tidak pandai berbicara dan tawaran untuk ngisi liqa di skul ku tolak mentah-mentah karena aku tidak berani ( ga kuat tanggung jawabnya bo... ). Akhirnya aku menemukan cara yang lebih oke (menurut ku sih :-D :-P). Berdakwah dengan meminjamkan buku-buku islam. Namun ternyata.... buku-buku ku banyak yang hilang tanpa jejak, tapi berhubung niatnya dakwah, ya di ikhlasin aja, selama yg minjem bilang terus terang kalo bukunya ilang, lupa karena dipinjemin lagi ato apalah, yang peling sebel dan susah buat maapinya itu gara-gara udah buku ga balik ga minta maap, bilang balikin minggu depan, minggu depannya bilang minggu depannya lagi. di datengin kerumahnya, minta tlg temen yg rumahnya deket eh malah yg temen yg nolongin ngingetin malah di marah-marahain gila khan tuh anak. mana udah tak telpon berkali-kali malah nyodorin ke kakaknya buat jawab, aku di omelin lagi.
ampun deh sama anak yang atu ini. malah bikin ati tambah sakit, udahlah kuserahkan semua urusan ku dengan anak ini sama Allah aja, terserah yang pasti aku sama sekali tidak terima sama perlakuannya pada teman ku. fuih...
Eit, urusan buku belum selesai sampe disini, karena mimpi ku harus ku rem saat mulai kuliah. yupz budged beli bukunya terpaksa dipangkas bahkan nyaris hilang dilaihkan untuk urusan kuliah, mulai dari potokopy, ekstra bensin, seminar (yang ini bo'ong soalnya suci jarang-jarang mau ikut seminar kalo disuruh bayar, akhirnya milih jadi panitia biar g disuruh bayar, meskipun resikonya g konsen pas seminar karena sering diganggu tetek bengek keuangan alias urusan bayar - menbayar, ya iyalah org suci kebagian jadi bendahara). Nah berhubung ga ada yg dirubung (hua...ha...ha.... kalimat ini lama tak terdengar, ini biasa kudengar saat masih aktip di Sanggar Pramuka Dewa Ruci-Dewi Kunthi alias Dewa-dewi Perkapalan) kuliah udah selese, program sebulan minimal sebuku bisa dilaksanakan lagi, SIAP..... GRAAAAAKKKK....
Abis itu.... kebiasaan selanjutnya apa ya.... Bukan oey, bukan kebiasaan, tapi urusan masak-memasak, dlu sempet belajar masak, tapi belajarnya sama mami dan kakak, tapi lagi, lagi dan lagi setelah kesibukan baru dikampus dengan aktifitas organisasi segudang dan pindah kerja di perusahaan yang baru ini jadi ogah ke dapur kecuali terpaksa karena perut keroncongan tengah malam dan tak ada lauk yang bisa dimakan, itupun hanya buat omlet, nasi goreng dan mie instan atau ketika lagi ngidam (istilah kakak iparku, katanya aku kayak ibu hamil yg lagi ngidam kalo lagi pengen makanan, abis yg di pengen makanan yg aku pengen termasuk susah di cari) bubur sumsum, puding, kacang ijo ato makanan lain baru aku turun ke dapur.
Ya di penghujung tahun ini, aku ingin lebih baik lagi Menjadi hamba Allah, manjadi umat Rasulullah yang lebih taat, jadi anak yang lebih berbakti, menjadi adik dan kakak yang lebih sayang, ngerti dan peka akan kesulitan saudaraku. menjadi muslimah yang lebih shalihah.
Aku akan berusaha lebih banyak bersedekah, lebih banyak senyum, mengurangi kata-kata ketus, pedas, mengurangi sifat dominanku meski yang ini sepertinya susah. ^_^
SO, SUCIYATININGTIYAS... Besok tahun akan berganti, meski besok (Insya Alla) kamu tetap akan bertemu dengan mentari yang sama, orang sama, rumah yang sama, dan negara yang sama ruwetnya dengan hari ini, Kamu harus memancarkan energi baru, energi positif. Energi untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Bismillah, dengan nama-Nya lah engkau akan memulai hari yang sama besok dengan semangat baru...
30 Dhulhijjah 1430
17 Desember 2009
Suci
Thursday, December 17, 2009
Muhasabah Dodol Mbak Icus ^_^
Wednesday, December 9, 2009
Akhirnya Hanya Terima Kasih

Assalamu'alaikum
Shahabatku yang baik…
Bagaimana kebahagiaan mu hari ini? Semoga, ia selalu engkau peluk, dijaga dan dirawat agar betah bersama jiwa. Sehingga setiap kali anda dan saya berbersahabat dengan siapapun. Ada desakan dalam diri mereka menjadikan kita kawannya. Karena dalam cerahnya wajah yang kita tunjukkan, cerminan kebahagiaan dalam diri.
Tadi jam 11.40 setelah selesai perkuliahan, pulang menuju tempat istirahat. Saya bertemu dengan orang-orang yang mengabdikan dirinya demi kemanfaatan orang lain. Mereka telah memutuskan pekerjaannya pada bidang tersebut. Mungkin bagi kita dan kebanyakan orang, enggan untuk melakukan pekerjaan itu. Tapi bagi pribadi-pribadi bertanggung jawab, Kehalalan merupakan keberkahan terindah.
Sementara itu, bulan hijriah sedang kita jalani. Bagi ummat muslim ada perayaan besar bulan ini. Yaitu hari Raya Qurban. Musim ini juga banyak membawa berkah bagi penjual kambing dan sapi. Hewan qurban yang dijual tentu yang terbaik. Sebagaimana diperintahkan. Dan ini telah menjadi saksi sejarah terjadi pada habil dan qabil dalam pengorbanan mereka.
Sudah menjadi fitrah kita sebagai manusia. Naluri kita senang hal-hal yang indah dan baik. Buktinya, setiap hari kita berusaha untuk tampil prima. Ketika beranjak ketempat ibadahpun, kita dianjurkan untuk mengenakan pakaian terbaik dan dengan wewangian. Sungguh hal yang jorok dan menjijikkan tidak kita senangi.
Begitulah dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang itu. Mereka bekerja dengan kondisi yang berbau, kurang nyaman dihidung. Mungkin bagi mereka telah menjadi hal biasa. Bertemu dengan indera penciuman saja, saya mungkin juga anda kurang nyaman. Bagaimana dengan mereka melihat dan bahkan bersetuhan dengan nya ?
Jejak langkah sentuhan mereka, menghadirkan sejuta makna dalam diri. Sungguh menginspirasi, patut untuk diapresiasi. Menghargai dengan uang mungkin tidaklah banyak mereka terima. Namun lebih dari pada itu, sepantasnya dipersembahkan. Ungkapan Terima Kasih, bisa jadi hal berharga.
Terima kasih sangatlah mudah terucap dari mulut. Dihitung dari biaya, tidak sedikitpun mengurangi simpanan kita. Namun terkadang, dizaman kompetisi ini, dua kata itu menjadi sulit bagi sebagian orang. Entah enggan, atau merasa jatuh martabat nya. Namun ini kenyataannya.
Dekat tempat saya tinggal. Ada seorang bapak berkacamata, rambut sudah memutih, kulitnya tidak sekencang kita lagi. Mengenakan baju putih, celana biru. Topi yang beliau kenakan bertuliskan Satpam. Setiap pagi dan siang hari, saya menyaksikan beliau menyebrangi siswa-siswi sekolah dasar yang bahagia itu. Dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tugasnya mungkin kita anggap kecil. Mungkin tidak disadari, berapa anak telah beliau hidarkan dari kecelakaan lalu lintas? Sungguh ungkapan Terima kasih, sepatutnya kita berikan.
Di hotel berbintang daerah slipi. Saya pernah melihat, bagaimana seorang anak muda, sedang membersihkan lantai tempat kita buang hajat. Tidak hanya itu, tempat yang kita duduki melepaskan hasratpun, Setelah dia bersihkan dengan pembersih. Kemudian di lap mengunakan tangannya, memastikan tidak ada sisi yang tak dibersihkan. Jabatan mereka mungkin pada level terbawah dalam struktur organisasi. Tapi saya tidak dapat membayangkan. Apakah hotel tersebut masih ada pengunjungnya, bila tanpa ada mereka? Sungguh patas penghargaan Terima kasih.
Bila ramadhan telah tiba. Biasanya, sebagian orang mulai kebingungan. Karena pembantu selama ini yang selalu siap meringankan tugas rumah tangga, akan segera mudik. Bahkan ada yang berani menawar gaji dua kali lipat, agar tidak mudik. Sehari saja pembantu sakit. Kita bisa merasakan betapa besar kontribusi mereka. Sungguh mereka pantas mendapat terima kasih.
Demikian juga kehidupan berumah tangga. Ungkapan terima kasih kepada istri atau suami adalah mutlak. Karena ia sudah rela untuk menua bersama Anda. Sebagai anak, kita telah dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang oleh ayah ibu kita. Tidak hanya orang tua kandung, tetapi juga kepada mertua. Yang telah percaya dan menitipkan putri tercintannya kepada anda.![]()
Bahkan, bapak Gede prama pernah bertutur. Orang-orang yang membenci, menfitnah dan berbuat jahat kepada anda. Sepantasnya anda beri penghargaan terima kasih kepada mereka. Karena merekalah, kita menjadi tau dan faham akan makna Cinta dan Kasih Sayang.
Sahabatku yang penuh Cinta kasih
Masih terlalu banyak dalam kehidupan ini patut kita ungkap dengan Terima kasih. Bukan hanya hal-hal besar, tetapi kita mulai dari hal terkecil disekeliling kita. Karena sesuatu yang besar, dulunya bermula dari yang kecil.
Akhirnya, Hanya Terima kasih yang bisa saya ucapkan kepada anda. Hingga huruf terakhir ini, masih setia bersama saya. Dan orang-orang yang saya ceritakan tadi. Mereka adalah Pembersih Tinja.
Bogor 3 Desember 2009
RAHMADSYAH
Motivator&Mind-Therapist
Tuesday, November 24, 2009
Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga
Penulis: Ummu Ayyub
Muroja'ah: Ust Abu Ahmad
Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?
Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita `menunjukkan eksistensi diri' di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.
Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama "Sekarang kerja dimana?" rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk "Saya adalah ibu rumah tangga". Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu "sukses" berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan "nasehat" dari bapak tercintanya: "Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak." Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.
Ibu Sebagai Seorang Pendidik
Syaikh Muhammad bin Shalih al `Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta'ala yang artinya:
"Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS. Al-Ahzab: 33)
Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.
Sebuah Tanggung Jawab
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At Tahrim: 6)
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang artinya: "Peliharalah dirimu dan keluargamu!" di atas menggunakan Fi'il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.
Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu `anhu berkata, "Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu." (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)
Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.
Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya." (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu." (QS. At Tahrim: 6)
Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.
Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala yang artinya:
"dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat." (QS asy Syu'ara': 214)
Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari 2/91)
Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.
Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih![]()
Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, "Mau untuk apa nak, tabungannya?" Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab "Mau buat beli CD murotal, Mi!" padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab "Mau buat beli PS!" Atau ketika ditanya tentang cita-cita, "Adek pengen jadi ulama!" Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi "pengen jadi Superman!"
Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?
Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.
Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!
Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.
Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?
Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?
Lalu…
Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata `cuma'? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?
Wallahu a'lam
Maroji':
1. Dapatkan Hak-Hakmu, Wahai Muslimah oleh Ummu Salamah as Salafiyyah. Judul asli: Al-Intishaar li Huquuqil Mu'minaat
2. Mendidik Anak bersama Nabi oleh Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Judul Asli: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl
3. Majalah Al Furqon Edisi: 8 Tahun V/Rabi'ul Awwal 1427/April 2006
PS : Idealisme normatif atau realistiskah ditengah kejamnya fitnah dunia ini, bagai buah simalakama
Thursday, November 5, 2009
KESEDERHANAAN YANG MEMESONA: EMAK INGIN NAIK HAJI

Jika anda adalah seorang Hollywood movie's freak, maka jangan pernah membayangkan film EMAK INGIN NAIK HAJI adalah sebuah film yang menawarkan adegan berbumbu baku tembak yang heboh. Atau diselipi adegan spektakuler alien turun ke bumi, khas Hollywood. Atau ketitipan sedikit adegan thriller yang membuat jantung anda berdebar sangat kencang. Tentu saja tidak ada, karena ini adalah film drama murni. Murni memotret masalah-masalah sosial warga kebanyakan di Indonesia.

Jika anda seorang Bollywood movie's freak, maka jangan pernah membayangkan dalam film EINH ini akan menemukan adegan ber-lebay-lebay. Atau anda akan menjumpai dialog-dialog sangat panjang (layaknya dialog khas sinetron yang 'gentayangan' di layar kaca), atau pun disuguhi scoring music yang 'berlebihan.'
Jujur, ketika saya mengetahui bahwa cerpen Mba Asma Nadia yang berjudul EMAK INGIN NAIK HAJI -yang dimuat di Majalah An Noor di tahun 2007 dan telah saya baca juga- sukses memprovokasi seorang sutradara muda potensial bernama Aditya Gumay untuk memfilmkannya, saya menjadi sangat-sangat tertarik pada hasil akhir pembuatan film ini.
Bagi saya yang saat ini sedang belajar menulis novel dengan rumus SHOWING not TELLING, lalu menemukan fakta bahwa Aditya Gumay tertarik memfilmkannya, sungguh membuat saya penasaran penuh tanya, "Akankah film ini sanggup mengembangkan ide cerita yang ditulis Mba Asma hanya dalam beberapa halaman tersebut menjadi sebuah film utuh yang sama menyentuhnya dengan versi cerpennya?"
Beberapa film adaptasi novel bertema relijius yang telah lebih dahulu difilmkan di mata saya terasa kedodoran dalam memindahkan teks -yang memang sangat tebal dengan banyak tokoh dan konflik- ke ruang seni tiga dimensi yang terbatas waktunya.
Maka Aditya Gumay telah mengambil resiko sebaliknya, yaitu 'memuaikan' cerpen yang pendek menjadi sebuah film dengan durasi sekitar 90 menit.
Setahu saya ini adalah hal baru di Indonesia. Ide sebuah film diangkat dari sebuah cerpen. Interesting!
Maka saya pun 'tak berani' berharap banyak terhadap film ini. Takut 'kecewa' lagi.
Saya tak punya ekspektasi apapun atas film ini, kecuali kesadaran saya bahwa cerpen yang ditulis Mba Asma bagus dan menyentuh saya :-)
***
CATATAN SEDERHANA DARI HATI
Film langsung diputar setelah sambutan diberikan secara singkat oleh Mas Putut Wijanarko -mewakili Mizan Productions- dan Aditya Gumay selaku sutradara.
Tanpa berlama-lama, adegan pembuka langsung mengantarkan penonton untuk 'berkenalan' dengan para tokoh utama, berikut konflik mereka masing-masing.
Di adegan awal ini, saya langsung menyukai 'furniture' dan 'setting tempat' yang dipakai oleh Aditya. Nampak ALAMI. Menghidupkan film seketika.
Dengan kokoh film bertutur tentang tokoh Emak lansia yang welas asih pada anaknya yang bernama Zein. Emak penyabar ini sedang 'menabung' mimpi. Ingin pergi ke Mekah menunaikan rukun Islam yang kelima. Sementara kemiskinan yang membelit mereka tak mampu jua mewujudkan cita-cita Emak. Bertahun-tahun Emak membuat kue dan menjualnya di pasar, apa daya ongkos naik haji selalu naik secara signifikan setiap tahunnya. Sehingga impian terasa semakin utopis!
Ironisnya, tetangga sebelah rumah mereka yang kaya raya justru bolak balik ke tanah suci.
Adegan di atas juga digambarkan dengan pas. Tak berlebihan di mata saya :-)
Bahkan, beberapa dialog terasa 'mencubit-cubit' hati saya.
Adegan kemudian berpindah. Melukiskan dialog antara seorang sekretaris dengan seorang anggota partai politik yang 'sibuk' mempersiapkan haji politisnya.
Adegan ini pun tak lebay. Semua terasa proporsional. Jujur tanpa tedeng aling-aling 'menyindir' perilaku haji atas nama gengsi sosial sebagian pemeluk yang mengaku beragama Islam di negeri ini.
Saya semakin larut dalam film 'sederhana' ini.
Saya terhanyut dalam pusaran konflik masing-masing tokohnya (yang tentu saja tak saling berhubungan), hingga kemudian emosi saya mencuat.
Pun saya dihempas berkali-kali, bahkan digedor dengan 'keras' oleh indahnya sikap tulus Emak dan rapuhnya 'jiwa binatang' berkedok manusia!
Hingga tanpa saya sadari, setitik bening mengalir berkali-kali dari sudut mata saya. Saya tak ingin menghapusnya. Saya ingin menikmati film 'sederhana' yang disuguhkan dengan indah ini sepenuh jiwa.
Aaah, syahdu...
Saya menoleh ke kiri dan kanan saya, hehehe... semua ternyata merasakan hal yang sama, terbukti dari adanya genangan di sudut mata mereka :-)
Sepanjang film diputar, saya sempat berbisik ke orang yang di samping saya untuk menebak ending cerita. Kami sempat 'berdiskusi kecil' menebak sebuah adegan sebagai ending cerita, dan kami fikir, sungguh biasa jika ending klimaksnya seperti itu.
Ternyata...
Saya salah duga!
Endingnya agak di luar dugaan saya!
(Hehehe..., atau saya memang penonton yang sungguh sederhana?)
Wah! Film bertema 'sederhana' ini menjadi tak sederhana lagi di mata saya :-)
Bravo Mas Aditya!
Saya melanjutkan menatap layar besar di hadapan saya. Tiba-tiba saja film ini sudah 'selesai!'
Lalu tepuk tangan terdengar MEMBAHANA. Berkali-kali.
Benar-benar 'membangunkan' saya, bahwa film 'sederhana' ini telah selesai...!
Sungguh enggan rasanya meninggalkan kursi saya. Saya masih ingin menonton akting cantik Emak 'Ati Kanser', juga masih ingin menatap kerennya ekspresi Reza Rahardian yang semakin 'berkembang' dan manisnya narasi liris yang dituturkan Emak.
Di mata saya, Emak dan Zein sukses menciptakan chemistry Ibu dan Anak yang saling mencintai. Sampai-sampai saya merasa tak percaya, bahwa mereka sesungguhnya hanya bermain peran, bukan Ibu dan Anak sungguhan.
*Ah, berhentilah mengetik, Ima, resensi ini akan menjadi sangat panjang dan tidak menjadi resensi lagi, jika kamu tak berhenti! Atau kamu akan tergoda menceritakan spoiler-spoiler yang tentu saja akan merugikan produser, hehehe...*
"Btw, Mas Aditya, saya tunggu loh film-filmmu yang berikutnya!" :-D
Whuah!
I want more...
I want more...!!!
***
Pros:
- Sepertinya pelaku industri perfilman di Indonesia masih harus belajar dengan Hollywood dan Bollywood jika ingin memasukkan 'pesan sponsor/iklan' di dalam sebuah film. Karena advertisement yang terlalu mencolok akan mengurangi keindahan sinematografi.
Cons:
- Saya menikmati dialog-dialog singkat-padat, kadang juga cerdas dan 'lucu'.
- Setting-nya boleh dibilang 'sempurna'! Aditya adalah sutradara yang detail.
- Film ini 'bertumbuh' secara alami. Pertentangan batin para tokoh dan perubahan- perubahannya pun digambarkan dengan alami.
***
Karena saya 'kebetulan' terpilih menjadi salah satu penonton pertama di bioskop FX Senayan hari ini, saya ingin bilang:
Jika kamu ingin menyaksikan indahnya lukisan cinta seorang anak pada ibunya, tontonlah film ini.
Jika kamu bosan dengan film Indonesia bertema sejenis yang 'itu-itu' saja, tontonlah film ini.
Jika kamu ingin menonton film dengan budjet minim, tapi dibuat dengan HATI dan hasilnya keren, tontonlah film ini.
Jika kamu 'terlupa' atau tak merasakan kasih sayang seorang Ibu, maka tontonlah film ini. Karena saya percaya, film genre drama keluarga yang akan everlasting ini dibuat sebagai kado istimewa untuk para Ibu.
Dan..., jika kamu mengakui ketimpangan sosial di negeri ini dan ingin 'diwakili', tontonlah film ini.
Film ini insyaAllah akan melautkan debur batinmu, memeluk gelisah anak jiwamu, menentramkan kemanusiaanmu. Mengembalikanmu pada fitrah: peduli pada sesama.
sumber asli:
http://imazahra.multiply.com/reviews/item/8/EMAK_INGIN_NAIK_HAJI?replies_read=72
Wednesday, October 7, 2009
Isu Gempa......

Astaghfirullah....
Siang ini ponsel ku berdering, nomor telp Bapak ku yang muncul 'tumben' tidak biasanya Bapak menelponku. Segera ku angkat.
"Awakmu ga kerungu kabar ta Ci??" kata Bapak Q setelah mengucap salam, aQ yang tidak tau sedang ada berita apa semakin penasaran. Selanjutnya Bapak bercerita tentang kejadian yang sangat mengejutkan, beliau bilang bahwa di pabrik paman Q, semua karyawan diperintahkan keluar pabrik karena ada prediksi gempa, tidak berhenti di situ, putra dari saudara juga mengabarkan bahwa dia dan seisi sekolah diminta untuk meninggalkan kelas karena hal ini.
Sempet panik juga dalam hati, soalnya kok disini ga denger berita apa-apa, mungkin karena lokasi yang cukup jauh dari pusat kota kali yach....
saat itu juga langsung browsing berita gempa d intrenet, Vivanews.com ( kalo gasalah nulis yeee ) mengatakan "Jawa Timur Siaga Gempa 8,8 Skala Richter" rasanya langsung dag dig dug, Ya Rabb, apalagi rencanaMU....
Tangan langsung dingin membaca berita tersebut, nyari berita dari BMG sulit banget....
Panik mulai melanda, sampe sempet paranoid segala, meski kantor cuma dua lantai, tapi ngeri juga liat aku berdiri dibawah profil WF dan cor-coran kl tiba2 runtuh gmana, Astaghfirullah, pikiran langsung negatip.... Apalagi tiba-tiba monitor mati gara-gara kabelnya soak, g bisa browsing... hanya bisa berharap semoga prediksi itu tidak benar, makan siang berasa hambar meski sambalnya isinya juga cabe...
Rabb....
Tak henti-hentinya istigfar keluar dari mulut ini, jantung masih berdebar-debar. Alhamdulillah Monitor ku bisa nyala, kulanjutkan browsingnya, akhinya bisa masuk websitenya BMG. Disana tertulis bahwa "Prediksi gempa bumi Prediksi gempa bumi masih dalam taraf penelitian. Parameter prediksi adalah lokasi, besarnya dan waktunya. Perkiraan lokasi dan besarnya gempa dapat saja dilakukan, namun tantangan yang paling sulit adalah menjawab kapan gempa tersebut terjadi"
meski hati masih gelisah tapi sudah mulai tenang, aku hubungi Bapak dan jelaskan apa yang ku ketahui.
Ya Rabb....
Sungguh hamba hanya manusia yang lemah, yang masih bergelimpang dosa...
Ampunilah hamba Ya Rabb....
Astaghfirullah......
Astaghfirullah......
Astaghfirullah......
Berita ilmiah versus berita public, tentang prediksi gempa

Beberapa hari setelah gempa besar maka wartawan sangat haus dengan berita tentang dampak terhadap gempa tersebut dan apa yang akan dilakukan beberapa hari kedepan. Hal ini sangat realistis berhubung kekawatiran akan dampak berikutnya sangat tinggi, sehingga berita yang realistis sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan masarakat yang sedang trauma. Sangat tidak realistis apabila berita yang beredar adalah kemungkinan kejadian beberapa tahun yang akan datang, bahkan ratusan tahun yang akan datang.
Berita yang tidak realistis dalam skala waktu sangat berbahaya bagi masarakat yang sedang ketakutan, karena tidak membantu keselamatan bahkan menambah kesengsaraan dan merepotkan aparat dalam penanganan paska bencana.
Kalau ungkapan tersebut di atas dapat dimaklumi, maka keselamatan masarakat yang sedang ketakutan untuk menghadapi dampak beberapa hari yang akan datang menjadi prioritas utama berita, sehingga berita tentang prediksi gempa besar yang akan terjadi beberapa tahun atau ratusan tahun yang akan datang merupakan berita yang sangat tidak sesuai diungkapkan. Persoalannya adalah bagaimana menyikapi wartawan pencari berita sensasional yang menggunakan momen momen besar paska bencana.
Tugas team BMKG ke lokasi bencana
1. Memantau gempa susulan memakai seismograph portable dekat dengan sumber gempa sehingga gempa kecil dapat terpantau dengan baik.
2. Hasil pantauan dapat dilihat langsung oleh masarakat bagaimana perkembangannya setiap hari.
3. Menjelaskan pada masarakat di lokasi pemantauan tentang hasil pantauan yang pada dasarnya adalah penurunan intensitas gempa, baik jumlah maupun skalanya.
Prediksi gempa bumi
Prediksi gempa bumi masih dalam taraf penelitian. Parameter prediksi adalah lokasi, besarnya dan waktunya. Perkiraan lokasi dan besarnya gempa dapat saja dilakukan, namun tantangan yang paling sulit adalah menjawab kapan gempa tersebut terjadi.
Berdasarkan sejarah gempa maka bisa dihitung probabilitasnya; makin kecil gempa maka makin besar probabilitasnya terjadi dilokasi yang memang potensi (seperti di daerah pertemuan lempeng tektonik). Sebaliknya makin besar gempanya maka makin kecil probabilitasnya.
Berdasarkan monitoring tanda-tanda pendahuluan (precursor) gempa bumi besar, maka secara fisika bisa kita ungkapkan bahwa apabila materi mengalami stress maka beberapa sifat materi tersebut mengalami perubahan yang dapat di monitor, seperti kepadatan, kandungan air, kandungan electron, sifat kemanignitan, sifat radio aktif dsb. Di daerah pertemuan lempeng tektonik terjadi akumulasi stress akibat tekanan pergerakan lempeng tektonik. Maka bisa dilakukan monitoring perubahan gravitas, electron, kemagnitan, tinggi air tanah, radon (radio aktif), seismic dsb. Sampai saat ini yang dapat dibuktikan adalah setelah gempa besar maka hasil monitoring sebelum terjadi gempa dikaji lagi. Hasilnya memang ada beberapa tanda menunjukkan gejala anomaly tertentu. Namun belum dapat disimpulkan bahwa tanda tersebut menandakan gempa akan terjadi, karena tanda tersebut sering juga muncul tanda tanpa disertai adanya gempa besar. Hal ini membuktikan bahwa prediksi gempa belum konsisten secara ilmiah dan belum dapat dikatakan sebagai teknologi yang dapat dipakai.
Cina mengoperasikan system prediksi gempa dengan memakai bermacam sensor seperti GPS (Global, Posisioning System), Gravity, magnit, radon, termasuk gejala tingkah laku binatang. Hasilnya memang beberapa kali sukses, namun lebih sering gagal memprediksi gempa besar.
Sejarah Gempa dan Tsunami di Jawa Timur

VIVAnews - Mengantisipasi terjadinya gempa di wilayah pesisir selatan Jawa Timur, Gubernur Jawa Timur Soekarno terus berupaya melakukan tindakan dan antisipasi bila ternyata benar prediksi Jawa Timur sebagai salah satu daerah yang rawan tsunami.
Soekarwo bukan saja melakukan langkah preventif diantaranya memasang 23 alat early warning system (EWS) atau alat deteksi dini yang ditempatkan di gunung dan laut, namun Gubernur juga telah mengirimkan radiogram ke seluruh kabupaten/kota beberapa hari lalu.
Isinya, berupa himbauan agar setiap kepala daerah terutama di pantai selatan Jawa Timur meningkatkan kewaspadaan. Melakukan sosialisasi ke masyarakat, mengintensifkan langkah preventif untuk menghindari banyak jatuh korban akibat bencana.
Jika mengacu pada sejarah gempa di Jawa Timur yang disebutkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, propinsi ini juga merupakan wilayah langganan gempa dengan jarak waktu yang berbeda-beda, dari tujuh tahun hingga belasan tahun.
Dari belasan kali gempa selama dua abad, Jawa Timur juga beberapa kali mengalami gempa besar, bahkan menimbulkan tsunami sehingga memakan korban dalam bilangan tak sedikit. Itu pernah terjadi di Trenggalek dan Banyuwangi.
Misalnya, gempa yang terjadi di Blitar-Trenggalek pada 37 tahun lalu, tepatnya pada 4 Oktober 1972 dengan kekuatan 6 skala Richter dan skala intensitas gempa sebesar V-VI MMI.
Gempa ini menimbulkan kerusakan sejumlah bangunan di Gandusari & Trenggalek. Goncangan terasa kuat sehingga mengakibatkan 250 orang meninggal, 127 orang hilang, 423 luka, 1.500 rumah rusak, 278 perahu rusak dan hilang. Gempa ini juga menimbulkan terjangan tsunami dengan ketinggian gelombang belasan meter dan terjangan ombak hingga mencapai 500 meter dari pantai.
Berikut sejarah gempa Jawa Timur yang dikutip VIVAnews dari Pusat Vulkanologi Departemen Energi.
22/03/1836
Gempa terjadi di Mojokerto. Tidak diketahui berapa kekuatan gempa tersebut, namun skala intensitas dampak gempa mencapai VII-VIII MMI. Akibat gempa ini terjadi kerusakan pada bangunan.
20/11/1862
Gempa terjadi di Madiun dengan skala intensitas gempa mencapai VII MMI. Akibat gempa ini sejumlah bangunan retak.
15/08/1896
Gempa terjadi di Wlingi dengan skala intensitas gempa mencapai VII MMI. Gempa terasa sampai Brangah. Kerusakan pada bangunan dan rumah penduduk.
20/08/1902
Gempa terjadi di Tulungagung dengan skala intensitas gempa mencapai VII MMI. Akibat gempa terjadi kerusakan pada bangunan.
11/08/1939
Gempa terjadi di Jawa Timur dengan skala intensitas VII MMI. Getaran gempa terasa hingga Rembang, Jawa Tengah. Sebuah rumah roboh di Brondong.
19/06/1950
Gempa terjadi di Jawa Timur dengan skala intensitas gempa mencapai VI MMI. Beberapa bangunan retak. Getaran terasa sampai Kalimantan dan Jawa Barat.
20/11/1958
Gempa terjadi di Malang dengan skala intensitas gempa mencapai VII-VIII MMI.
Akibat gempa terjadi retakan pada bangunan, tanah, dan 8 orang tewas.
19/2/1967
Gempa terjadi di Malang dengan skala intensitas gempa sebesar VII - IX MMI. Kerusakan terparah terjadi di Dampit, 1.539 rumah rusak, 14 orang tewas, 72 orang luka-luka. Di Gondanglegi 9 orang tewas, 49 orang luka-luka, 119 bangunan roboh, 402 retak, 5 masjid rusak. Di Trenggalek 33 rumah bambu retak. Getara gempa terasa hingga Banyumas dan Cilacap di Jawa Tengah.
4/10/1972
Gempa terjadi di Blitar-Trenggalek dengan kekuatan 6 skala Richter dan skala intensitas gempa sebesar V-VI MMI. Akibatnya, terjadi kerusakan sejumlah bangunan di Gandusari & Trenggalek. Goncangan terasa kuat sehingga mengakibatkan 250 orang meninggal, 127 orang hilang, 423 luka, 1.500 rumah rusak, 278 perahu rusak dan hilang. Gempa ini juga menimbulkan terjangan tsunami dengan ketinggian gelombang belasan meter dan terjangan gelombang hingga mencapai 500 meter dari pantai.
3/6/1994
Gempa terjadi di Banyuwangi dengan kekuatan gempa mencapai 7 skala Richter dan skala intensitas gempa VIII MMI. Akibat gempa menimbulkan bencana di Rajegwesi, Gerangan, Lampon, Pancer, Pulau Sempu, Grajagan, Pulau Merah, Teluk Hijau, Sukamade, Watu Ulo, Teluk Sipelori dan Teluk Tambakan. Efek tsunami mencapai pantai Banyuwangi, Jember, Malang, Blitar, Tulung Agung, Trenggalek & Pacitan.
20/7/2003
Gempa terjadi di Pacitan dengan kekuatan 5,9 skala Richter. Akibatnya terjadi kerusakan pada sejumlah bangunan dan plester dinding lepas di rumah dinas Polres Pacitan, 4 rumah di desa Pucang Sewu, 1 rumah di desa Sambong, 1 rumah di desa Ponggok, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan; 1 rumah di desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek; pasar Madiun dan sebuah Ruko di kota Yogyakarta. Getaran terasa di Pacitan, Trenggalek, Madiun, Surakarta, Yogyakarta hingga Surabaya. Terjadi gempabumi susulan.
heri.susanto@vivanews.com
