Thursday, April 12, 2007

serial TLK 3: Sorry

"Mas Yoyok, boleh nanya ga?" tanya Icha pagi-pagi setelah acara senam pagi ia mendatangi kakak kelasnya ini yang tengah duduk-duduk sendiri di beranda Masjid At Taqwa
"Apa, kalo masalah keputrian nanyanya sama mbak Ika!"
"Oh bukan, bukan ga ada hubungannya sama keputrian kok" Icha berfikir bagaimana musti menyampaikan keresahan hatinya.
"Ada apa sich?" Yoyok penasaran
"Mas Kris kok Jutek sich, padahal perasaan kalo sama yang lain biasa-biasa aja tapi kalo sama aku rasanya benciiiiiiiiiiiiiii banget, emang aku salah apa?" jelas Icha sambil mengusapkan kedua tangannya ke muka dan menjatuhkannnya malas ke pangkuannya
"Masak sich? enggak kok, perasaan kamu aja kali, ehhmm... aku ke kelas dulu ya... ada PR!" Yoyok segera bergegas sebelum Icha menyadari kalo Kris memang mengistimewakannya.
Kalo ga ada apa-apa kenapa gugup gitu kata Icha dalam hati, ngacir lagi.
Ditempat lain, Kris sedang berkutat dengan buku latihan UANnya.
"Kris...Kris... kamu tuh ya.. ga di kosan ga dimasjid ga dikelas kerjaanmu belajar mulu, bosen tahu, santai ajalah men, kaya aku gini!" Sapa Rendi sambil mengetuk-ngetuk meja.
"Aku khan tahu diri Ren, aku ga secerdas kamu yang bisa cepat menangkap pelajaran, nah kalo aku ya harus berusaha keras dulu biar bisa ngerti" jawab kris seraya menutup buku setebal 25 mm.
"Tapi nilai raportmu selalu bagus khan, masuk tiga besar lagi" Eko ikutan nimbrung.
"Ya setelah kerja keras, kalian inget khan akhir kelas satu dulu, waktu aku barusan aktif di FOSKI, raportku sempet hampir kebakaran kalo ga ada her, dan aku harus begadang tiap malem buat belajar untuk mengejar ketinggalan" cerita Kris panjang lebar.
"ha... ha... ha... iya aku masih inget, soalnya aku juga kebagian pusing gara-gara kamu begadang, aku sampe ga bisa tidur ndengarin Kris ngapalin rumus!" Eric langsung nimbrung tanpa izin.
"Eh Kris gmana kabar gadismu? sepertinya tambah akrab nich, sabtu besok katanya FOSKI sama Pramuka mo ada acara bareng lagi ya..?" goda Anton
"Iya, tapi aku ga mo ikut, maless!!!"
"Kenapa? takut ya..." tebak Eko
"Gini aja deh Kris, kalo kamu emang ga suka deket2 sama tuch cewek, nanti aku kasih pelajaran biar dia ga deket-deket kamu lagi!" Ce'bux yang dari tadi jadi pendengar menyatakan usul, sayang usulnya malah membuat teman-temannya menyumbat mulutnya, tahu pake apa.
"Pelajaran matematika?" Eko kesal
"Dasar Lu Bux, diotak lu cuma ada gebux menggebux orang ya... kris mana terima ceweknya lu bantai adanya lu yang tewas habis itu!" kata Eric sambil melirik Kris, yang dilirik cuma senyam-senyum memerah tepat saat terdengar suara seorang gadis mengucap salam, ia menanyakan bilakah ia bisa bicara dengan Kris, Kris bangkit dari tempat duduknya meninggalkan teman-temannya, betapa wajahnya menjadi merah, perasaannya campur baur melihat Icha duduk di bangku panjang di depan kelasnya sambil membuka-buka map warna hijau di pangkuannya.
"Ngapain kamu disini?" tanya kris ketus teman-temannya mengikuti kejadian-kejadian dari balik jendela dibelakang Icha, Icha sudah bisa menebak kalo dia tidak akan mendapatkan sambutan ramah namun ia begitu kaget saat mendapati lelaki didepannya ini menanyakan perihal kedatangannya dengan hampir berteriak, ia terpana hampir saja ia jatuh karena kakinya gemetaran.
"Cuma mau kasih ini..." Icha mengulurkan map berwarna hijau ditangannya yang diterima kris dengan cepat, matanya mulai berair sebelum air itu jatuh lebih banyak dan deras Icha segera berlari membelakangi Kris tanpa pamit dan salam.
Melihat hal itu Hati Kris sakit seolah teriris-iris pisau, ia hendak mengejar Icha namun ia urungkan niatnya, ia kembali ketempat duduknya semula membuka buku setebal 25 mm dan menekuninya dengan tertunduk diam tanpa suara entah apa yang ada di pikirannya saat ini, tak ada seorangpun yang berniat mengganggunya sampai pelajaran selesai.
Gontai ia melangkah pelan menuju masjid, ia memilih duduk di beranda masjid tidak seperti jum'at -jum'at biasanya dimana ia akan duduk dibarisan terdepan untuk menyimak khutbah khatib.
Usai Shalat Jum'at Kris berjalan-jalan mengelilingi sekolahnya yang luas, ia berhenti sejenak di depan salah satu kelas di gedung selatan, ia mendapati Icha tengah menceritakan perihal tadi siang pada jam istirahat di depan kelasnya, sesekali ia mengusap air matanya. Kris membalikkan badannya meninggalkan mereka.
Minggu Siang, Ragu, ia letakkan lagi ranselnya.
"Kenapa Kris?" Eric yang sejak kemarin diam tak ingin mengganggu teman sekamarnya ini akhirnya capekk!!
"Ga apa-apa!"
"Udah dari pada lu stress, belajar ga konsen mending lu kesana, ajak ngomong dia , terus terang ato kalo lu ga mau bilang perasaanmu alasan aja kemarin kamu lagi ga mood, beres khan!" Eric menawarkan saran pada sobatnya ini, Kris masih berdiri mematung bersandar di tembok.
"Udah sana berangkat keburu anaknya pulang, sono!!" Eric berdiri meraih ransel kris dan membuka laci Kris mengambil kotak yang sudah terbungkus rapi lalu memasukkan ke dalam ransel, menyodorkannya pada Kris.
"Buat Icha khan?" Kris mengangguk.
"Besok dia Milad" jawab Kris lirih.
Diantarkannya Sobatnya itu sampai didepan pintu (kayak mo berangkat perang ya... sodara-sodara?).
"Di, mo kemana aku boleh nebeng ga, mo ke sekolah nich?" tanya Kris saat melihat Adi menuntun motornya keluar halaman.
"Yuk!" sambut Adi.
Siang yang terik Adi menurunkannya di depan At Taqwa, sudah sepi tinggal Ika yang masih disana menunggu jemputan.
"Kemana aja Akh, kok ikut kemarin?"
"Sibuk belajr ukh" jawab Kris singkat sambil mengedarkan pandangannya.
"Lagi nyari sapa, acaranya udah selesai satu jam yang lalu, anak2 juga pada pulang" Kris mendadak lemas.
"Kalo anak-anak Pramuka masih rapat evaluasi..." Ika masih berniat menceritakan acara kemarin tapi keburu dipotong sama Kris.
"Dimana?"
"Apanya?" Ika heran bukannya kemarin ia yang ga setuju bikin kegiatan sama anak Pramuka nah ini kok nanya dimana mereka rapat.
"di gedung utara kelas 3 gambar"
"Jazakillah ukh!!" ucapnya sambil bergegas, setelah melewati ruang guru ia bisa melihat gadis yang ia cari2 di seberang lapangan sedang memasukkan kursi-kursi sendirian kedalam kelas. Ia berjalan memutar menghindari terik matahari menghampirinya, Icha menoleh sebentar lalu melanjutkan pekerjaannya. Kris meletakkan ransel birunya di meja guru didalam dan mulai membantunya.
"Kok... ga ada yang bantu?" tanya kris pelan, yang ditanya salah tingkah
'wah jangan-jangan kesambet penghuni pohon jambu depan kos-kosan kali ya, tumben nice' Takuuuuuuuut seru Icha dalam hati
"Yang lain mana?" Tanya kris agak sewot tanya baek-baek dicuekin, udah dibantuin lagi (ikhlas dong akh!!)
'nah ni dia aslinya' kata Icha dalam hati lagi
"Ada kok mas di belakang, Icha dihukum masukin bangku sendirian soalnya tadi pagi bikin salah" Selanjutnya dalam diam dan sepi mereka memasukkan bangku satu persatu serta menatanya agar besok penghuni kelas itu tidak marah atau protes karena kelasnya berantakan.
"Terima kasih mas, Icha mau ke sanggar ambil tas" pamitnya pada Kris.
"Aku mau ngomong, aku tunggu di masjid ya!" Setelah menganggukkan kepalanya tanda setuju ia berlari kecil kearah sanggar Pramuka yang letaknya ada di belakang sekolah.
Lama Kris menunggu sambil membaca buku, khusuk sekali (emang shalat ya akh!) hingga tak menyadari kalau Icha sudah datang, baru Kris menyadari kehadirannya setelah mengucap salam.
"Ada apa mas?" tanya Icha
"E......" tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya
"Soal kemarin, aku minta maaf"
'nich orang ngomong sama sapa sich?' kata Icha dalam hati abis ngomong kok g liat yang diajak ngomong, digaruknya kepalanya yang tidak gatal.
"Nich" Kata kris sambil mengulurkan bungkusan yang dibawanya.
"Apa ini?" penuh tanda tanya, heran.
"Buku, kemarin aku jalan2 ditoko buku, mungkin kamu suka"
"buat Icha?" tanyanya tidak percaya, tumben jangan-jangan bener nih orang lagi kesambet.
"Ya... aku khan mau minta maaf sama kamu" jelas kris agak ketus, orang dikasih buku kok ga terima kasih malah ga percaya gerurtu kris.
"Yang kemarin.... ga pa pa kok, tapi ya... makasih bukunya" Icha menerima bungkusan yang berisi buku tersebut dengan senyum, semoga besok dia ga jutek lagi, harapnya.
"Bentar mas!" pinta Icha saat kris hendak meninggalkannya tanpa pamit (belas dendam ya!), Kris menghentikan langkahnya.
"Besok-besok jangan jutek sama Icha lagi ya..." Icha tersenyum memelas, Kris membalasnya dengan senyum dan anggukan "Insya Allah" katanya
Semoga aja besok kalau ketemu lagi aku ga nervous kata Kris dalam hati soalnya kalo iya mungkin ia bakal lebih galak n jutek. Icha menyusul kris yang berjalan dengan langkah lebar, karena kualahan dan tidak mau merusak hari itu ia mengalah takut ntar dijutekin lagi.

No comments: