Showing posts with label Puasa. Show all posts
Showing posts with label Puasa. Show all posts

Thursday, July 28, 2011

Tips Puasa



Kurang dari seminggu kita akan memasuki bulan puasa nih sahabat, saya mau berbagi tips puasa, tips ini saya dapat dari twitter DiaryKiranti, selanjutnya silahkan simak tips - tipsnya semoga manfaat dan puasa kita diterima oleh Allah.
  • Sarapan kaya akan protein akan membuat kita kenyang lebih lama dengan asupan kalori yang lebih sedikit.
  • Usahakan cukup tidurnya agat tidak membangunkan hormon pemberi sensasi lapar.
  • Sahur dengan makanan yang hangat, agar merangsang keluarnya enzim pencernaan.

Baca Selengkapnya ...

Tuesday, July 26, 2011

Ramadhan ceria

Ramadhan tiba, Ramadhan tiba...

Lirik lagu Om Opick akhir – akhir ini terus terngiang – ngiang diotak, ya gimana engga hampir tiap hari lagu ini selalu berada di daftar putar winamp. Sengaja beberapa bulan terakhir ini memang ingin mengkondisikan diri untuk membawa aura Ramadhan datang lebih awal, ^_^ maksa. Tapi sebenernya, meski ga dipaksa ramdhan juga bakalan datang kok, minggu depan gitu.

Yap, minggu depan sodara – sodara, Ramadhan sudah diambang pintu. Ups, Btw siapa kah gerangan sih Ramadhan ini, kenapa juga orang – orang musti nunggu – nunggu dengan antusian kehadirannya? Yeee, dia bukan orang kali. Capek Deh! ^_^’.

Baca Selengkapnya ...

Wednesday, September 17, 2008

Kembali Ke Fitrah..

 

Alhamdulillah, sudah selayaknya kita banyak bersyukur kepada Allah SWT, karena kita telah berhasil melewati hari-hari Ramadhan hingga memasuki bagian akhir bulan yang penuh berkah ini. Sebentar lagi kita pun akan menyambut satu hari yang indah, Idul Fitri. Namun, kita pun sepatutnya banyak beristigfar, karena boleh jadi—meski ini jelas tidak kita harapkan—ibadah shaum pada hari-hari Ramadhan yang kita lewati itu tidak mengantarkan kita untuk meraih derajat takwa sebagai hikmah dari kewajiban puasa yang telah Allah titahkan kepada kita.

 

            Karena itu, sebelum Ramadhan benar-benar meninggalkan kita, dan Idul Fitri hadir di tengah-tengah kita, sejatinya kita banyak bertafakur dan melakukan muhâsabah (instrospeksi diri): Layakkah kita bergembira merayakan Idul Fitri, yang sering dimaknai sebagai 'kembali ke fitrah' dan juga sebagai 'hari kemenangan'? Pertanyaan ini penting kita jawab dengan jujur, agar kita meninggalkan bulan Ramadhan ini tanpa kesia-siaan serta merayakan Idul Fitri nanti tanpa kehampaan.

 

 

Kembali ke Fitrah

 

 

            Idul Fitri sering diterjemahkan sebagai 'kembali ke fitrah'. Secara bahasa, fithrah berarti al-khilqah (naluri, pembawaan) dan ath-thabî'ah (tabiat, karakter) yang diciptakan Allah Swt. pada manusia. (Jamaluddin al-Jauzi, Zâd al-Masîr, VI/151; az-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, III/463).

 

            Karena itu, secara bahasa Idul Fitri bisa diterjemahkan sebagai 'kembali ke naluri/pembawaan yang asli'. Di antara naluri/pembawaan manusia yang asli adalah adanya naluri beragama (gharîzah at-tadayyun) pada dirinya. Dengan naluri ini, setiap manusia pasti merasakan dirinya serba lemah, serba kurang dan serba tidak berdaya sehingga ia membutuhkan Zat Yang Mahaagung, yang berhak untuk disembah dan dimintai pertolongan. Karena itulah, secara fitrah, manusia akan selalu membutuhkan agama yang menuntun dirinya melakukan penyembahan ('ibâdah) terhadap Tuhannya dengan benar. Itulah Islam sebagai satu-satunya agama dari Allah, Tuhan yang sebenarnya. Konsekuensinya, sesuai dengan fitrahnya pula, manusia sejatinya senantiasa mendudukkan dirinya sebagai hamba di hadapan Tuhannya, Allah SWT, Pencipta manusia.

 

            Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa kembali ke fitrah—sebagai esensi dari Idul Fitri—adalah kembalinya manusia ke jatidirinya yang asli sebagai seorang hamba di hadapan Allah sebagai Tuhannya. Menurut Imam Ja'far ash-Shadiq, seorang Muslim yang mengklaim sebagai hamba Allah mesti menyadari bahwa: (1) apa yang ada pada dirinya bukanlah miliknya, tetapi milik Allah; (2) tunduk, patuh dan tidak pernah membantah setiap perintah Allah; (3) tidak membuat aturan sendiri kecuali aturan yang telah Allah tetapkan untuk dirinya.

 

 

Membuang Sekularisme: Wujud Kembali ke Fitrah

 

 

      Dengan memaknai kembali ke fitrah sebagai 'kembali pada kesadaran sejati sebagai seorang hamba', sudah sepatutnya kaum Muslim yang ber-Idul Fitri membuang jauh-jauh sekularisme. Mengapa? Sebab, sekularisme justru menjauhkan diri manusia dari kedudukannya sebagai seorang hamba Allah. Bahkan sekularisme menempatkan manusia sejajar dengan Tuhan. Pasalnya, sekularisme pada dasarnya adalah akidah yang hanya mengakui Tuhan dari sisi eksistensi (keberadaan)-Nya saja, tidak mengakui otoritas (kewenangan)-Nya untuk mengatur manusia. Dengan kata lain, sekularisme hanya mengakui keberadaan agama, tetapi menolak kewenangan agama untuk mengatur kehidupan. Dalam pandangan sekularisme, hak mengatur manusia atau hak membuat aturan bagi kehidupan manusia mutlak ada pada manusia itu sendiri, bukan pada Tuhan/agama. Hak ini kemudian mereka wujudkan dalam demokrasi, yang menempatkan kedaulatan manusia (kedaulatan rakyat) di atas kedaulatan Tuhan.

 

Dari sini lahirlah ideologi Kapitalisme, yang berisi seperangkat aturan yang khas, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Saat ini, justru Kapitalismelah—dan bukan Islam—yang diterapkan di tengah-tengah kehidupan umat Islam saat ini, termasuk di negeri ini.

 

Padahal fakta telah membuktikan bahwa peratuan–peraturan yang dibuat manusia—karena lebih didasarkan pada kecenderungan dan hawa nafsunya—telah melahirkan banyak ekses negatif, kerusakan dan kekacauan. Itulah yang terjadi saat ini ketika hak membuat aturan/hukum diberikan kepada manusia (rakyat) melalui mekanisme demokrasi. Mahabenar Allah yang berfirman:

 

 

 ]أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ[

 

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?! (QS al-Maidah [5]: 50).

 

 

Karena itu, perayaan Idul Fitri—yang dimaknai sebagai kembali ke fitrah itu—sudah sepatutnya dijadikan momentum untuk membuang sekularisme, yang memang telah menjauhkan manusia dari fitrahnya yang hakiki sebagai hamba Allah.

 

 

Hari Kemenangan

 

 

Idul Fitri juga sering disebut sebagai hari kemenangan. Artinya, kaum Muslim yang telah berhasil melaksanakan ibadah shaum selama Ramadhan dianggap sebagai kaum yang meraih kemenangan. Persoalannya, shaum seperti apa yang bisa mengantarkan kaum Muslim menjadi kaum yang menang? Tentu shaum yang berkualitas, sebagaimana yang dilakoni oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat. Shaum Rasulullah saw. dan para Sahabat tidak hanya memberikan kemenangan kepada diri mereka secara individual dalam melawan hawa nafsu dan setan selama bulan Ramadhan, tetapi juga memberikan kemenangan kepada kaum Muslim secara kolektif dalam melawan musuh-musuh Islam. Mereka dan generasi gemilang sesudahnya justru sering mencatat prestasi gemilang pada bulan Ramadhan. Beberapa peperangan yang dimenangkan kaum Muslim seperti Perang Badar, Fath Makkah (Penaklukan Makkah) atau Pembebasan Andalusia terjadi pada bulan Ramadhan.

 

Kemenangan Perang Badar telah memperkuat posisi kaum Muslim di dunia internasional saat itu, terutama di Jazirah Arab; bahwa negara baru yang dibangun kaum Muslim, Daulah Islam, adalah negara kuat yang tidak bisa disepelekan. Kondisi ini tentu memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara Daulah Islam.

 

Bandingkan dengan kondisi kaum Muslim saat ini. Negeri-negeri Islam terpecah-belah menjadi beberapa negara kecil yang lemah. Kondisi ini membuat musuh-musuh Allah dengan gampang dan sombong membantai dan membunuh kaum Muslim serta mengekspolitasi kekayaan alamnya dengan rakus; tanpa ada pelindung sama sekali.

 

Perang Badar juga secara internal telah membuat pihak-pihak di dalam negeri Daulah Islam—orang-orang Yahudi, musyrik dan munafik—takut untuk berbuat macam-macam terhadap Daulah Islam. Bandingkan dengan keberadaan orang-orang kafir dan antek-antek Barat saat-saat ini di Dunia Islam. Mereka berbuat makar dan kekejian seenaknya. Di negeri-negeri Islam, orang-orang kafir yang didukung oleh para penguasa yang menjadi antek-antek penjajah, membuat berbagai kebijakan yang merugikan rakyat dengan bebasnya.

 

Futûhât juga telah memberikan kebaikan yang luar biasa bagi umat manusia. Lewat futûhât ini dakwah Islam diterima dengan mudah oleh manusia. Futûhât ini juga telah menjadi jalan bagi diterapkannya syariah Islam di seluruh kawasan dunia. Lewat penerapan syariah Islam inilah seluruh warga negera Daulah Islam, baik Muslim maupun non-Muslim, mendapat kebahagian, kesejahteraan dan keamanan. Peradaban Islam pun kemudian menjadi peradaban unggul.

 

Karena itu, ada beberapa hal yang wajib kita teladani dari shaum generasi Sahabat ini. Pertama: para Sahabat tidak hanya melakukan tadarus al-Quran (baik di bulan Ramadhan maupun di luar itu), tetapi juga mengamalkannya. Sebab, para Sahabat memahami bahwa membaca al-Quran adalah sunnah, sementara menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup mereka adalah wajib. Mereka sangat menyadari bahwa al-Quran harus menjadi dasar konstitusi kaum Muslim.

 

Kedua: para Sahabat tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari segala hal yang diharamkan oleh Allah; tidak berdusta, tidak berbuat batil, tidak membuat kerusakan dan tentu saja tidak berhukum pada selain hukum Allah Swt. Mereka tidak seperti kaum Muslim saat ini, yang justru masih berhukum pada perundang-undangan dan sistem kufur yang bersumber dari sekularisme.

 

Ketiga: para Sahabat telah nyata-nyata menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan tobat. Tobat mereka adalah tawbah nasûhâ, tobat yang sebenar-benarnya. Seharusnya saat ini pun kaum Muslim, yang telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan tobat, tidak lagi melakukan maksiat meski Ramadhan telah berlalu. Maksiat terbesar yang harus segera ditinggalkan kaum Muslim saat ini adalah ketika mereka tidak menerapkan hukum-hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan akibat ketiadaan Daulah Khilafah Islam di tengah-tengah mereka. Ketiadaan Daulah Khilafah juga berarti umat ini tidak memiliki pelindung dari musuh-musuh Allah.

 

Karena itu, dalam momentum Idul Fitri ini, yang berarti kembali ke fitrah, sudah selayaknya kaum Muslim segera kembali menerapkan semua aturan-aturan Islam (syariah)—yang memang sesuai dengan fitrah manusia—dalam semua aspek kehidupan. Sebaliknya, sudah selayaknya kaum Muslim segera meninggalkan berbagai aturan kufur yang berasal dari sekularisme, yang nyata-nyata bertentangan dengan fitrah manusia, dan terbukti banyak menyengsarakan umat manusia.

 

Karena itu, pada Hari Kemenangan ini, sudah sepatutnya pula kita berjanji kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum Muslim untuk mengerahkan segenap upaya, secara damai, demi tegaknya Khilafah dan syariah Islam. Kita memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT agar menolong kita untuk mewujudkan hal ini sehingga kaum Muslim merasakan kegembiraan yang hakiki karena meraih kemenangan yang juga hakiki, sebagaimana digambarkan Allah SWT dalam firman-Nya:

 

 

]وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ$بِنَصْرِ اللهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ[

 

 

Pada hari (kemenangan) itu bergembiralah kaum Mukmin karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (QS ar-Rum [30]: 4-5).

 

 

[]

 

KOMENTAR:

 

21 Tewas Saat Pembagiaan Zakat (Kompas, 16 September 2008)

 

Innalillâhi wa inna ilayhi raâji'ûn. Allahumaghfir lahum warhamhum wa 'âfihim wa'fu 'anhum.

 

 

 

 

UCAPAN SELAMAT:

Pimpinan dan Seluruh Jajaran Redaksi Buletin AL-ISLAM mengucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H

 

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَ صِيَامَكُمْ، وَ كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ

 

 

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ وَلَكِنَ الْعِيْدَ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ

 

Idul Fitri bukanlah diperuntukkan bagi mereka yang mengenakan segala hal yang serba baru. Namun, Idul Fitri dipersembahkan kepada mereka yang ketaatannya kepada Allah bertambah.

 

 

 

 

 

SEHUBUNGAN DENGAN HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H, BULETIN AL-ISLAM

LIBUR SELAMA 3 MINGGU. TANGGAL 26 SEPT, 03 OKT, DAN 10 OKT.

INSYA ALLAH AKAN KEMBALI TERBIT PADA TANGGAL 17 OKTOBER 2008

 

 

 

 




Baca Selengkapnya ...

Tuesday, September 9, 2008

Ramadhan Momentum Untuk..




RAMADHAN: MOMENTUM

UNTUK MENGUBUR SEKULARISME

Buletin Al-Islam Edisi  422

 

 

Ramadhan sering disebut sebagai bulan suci. Namun sayang, di masyarakat kita, kesucian Ramadhan sering dimaknai hanya dalam konteks ritual, spiritual dan religius semata.

 

Untuk memelihara kesucian bulan Ramadhan bermunculanlah berbagai imbauan, seruan dan kebijakan. Selama bulan Ramadhan warung makan dan restoran dihimbau untuk tidak buka pada siang hari. Diskotek, pub dan tempat sejenis diminta tutup selama Ramadhan. Untuk menjamin terpeliharanya kesucian Ramadhan, di beberapa daerah bahkan dibuat Perda Ramadhan.


 

Selama Ramadhan, televisi pun berubah menjadi "religius". Berbagai acara siraman ruhani, renungan Ramadhan dan sinetron religi ditampilkan. Pembawa dan pengisi acaranya mengenakan busana islami.

 

Selain itu, berbagai kegiatan keislaman, pengajian dan sebagainya dilakukan dimana-mana sepanjang Ramadhan. Semua kemeriahan syiar Ramadhan ini tentu bagus dan perlu didukung.

 

Namun demikian, tampaknya semua itu hanya pengulangan belaka dari tahun-tahun sebelumnya. Yang agak berbeda, Ramadhan kali ini berada di tengah masa kampanye Pemilu 2009. Di beberapa daerah Ramadhan bertepatan dengan masa kampanye Pilkada atau dekat dengan pelaksanaan Pilkada. Tidak aneh jika kemeriahan Ramadhan kali ini ditambah dengan semaraknya kegiatan yang bernuansa kampanye atau kegiatan bernuansa politik lainnya, seperti safari Ramadhan, misalnya. Padahal di sebagian masyarakat kita, politik masih dianggap sebagai sesuatu yang murni bersifat duniawi dan cenderung kotor. Jadilah kegiatan politik itu dianggap bisa mencemari kesucian Ramadhan. Karena itulah, imbauan dan peringatan seperti "Jangan sampai bulan suci Ramadhan yang penuh keberkahan ini diperkeruh oleh urusan-urusan dan kepentingan politik pragmatis" atau seruan yang serupa bermunculan.

 

Tampaknya yang terjadi selama Ramadhan ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tidak lain merupakan perubahan dan kemeriahan instan dan bersifat sesaat. Instan karena begitu Ramadhan tiba, para wanita Muslimah, misalnya, ramai-ramai bersegera mengenakan kerudung dan busana islami; yang laki-laki mengenakan gamis dan berpeci. Fenomena ini sangat nyata terlihat terutama di kalangan para selebritis. Jika sebelum Ramadhan pengajian amat jarang, begitu Ramadhan pengajian diadakan bukan hanya setiap hari, bahkan setiap waktu. Begitu masuk Ramadhan, safari, santunan kepada fakir miskin dan anak yatim, dan berbagai kegiatan keislaman lainnya langsung menjamur dimana-mana.

 

Selain instan, fenomena keagamaan di atas juga bersifat sesaat karena, seperti yang lalu-lalu, semua itu sering hanya berlangsung selama Ramadhan saja. Begitu Ramadhan pergi, semua kegiatan dan fenomena keagamaan itu pun berhenti. Fenomena seperti itu sudah berlangsung bertahun-tahun dan berulang.

 

 

Mengapa Terjadi?

 

 

Jika kita renungkan, tampak bahwa Ramadhan, sebagai bulan suci, telah dianggap sebagai waktu yang khusus untuk urusan ritual, spiritual dan keakhiratan. Karenanya, semua kegiatan di bulan Ramadhan bernuansa spiritual, ritual dan religius. Pada bulan suci ini, aktivitas yang dianggap duniawi harus ditinggalkan atau minimal dikurangi. Agaknya latar belakang pemikiran inilah yang mendorong munculnya imbauan untuk menjauhkan aktivitas politik dari aktivitas Ramadhan. Tidak lain karena politik dinggap sebagai aktivitas duniawi dan cenderung kotor; kalau disatukan atau dimasukkan ke dalam aktivitas Ramadhan dianggap akan mengotori kesucian bulan Ramadhan. Kesucian Ramadhan juga tidak boleh dikotori oleh kemaksiatan. Karenanya, dikeluarkanlah imbauan bahkan perda agar tempat-tempat yang berbau maksiat seperti pub, diskotek, panti pijat dan sebagainya diminta tutup selama Ramadhan. Setelah Ramadhan, semua itu dipersilakan untuk buka kembali.

 

Cara pandang seperti itu merupakan cara pandang sekular. Sekularisme adalah paham yang memisahkan urusan dunia dengan urusan akhirat. Urusan dunia terserah manusia, sementara urusan akhirat diserahkan kepada agama. Agama tidak boleh dibawa-bawa dalam urusan dunia. Sebaliknya, urusan dunia tidak boleh dikaitkan dengan urusan akhirat atau agama. Dalam konteks waktu, dengan cara pandang sekular, seakan-akan ada waktu-waktu yang khusus untuk akhirat; yang harian adalah waktu-waktu shalat lima waktu, yang mingguan adalah hari Jumat, dan yang tahunan adalah Ramadhan.

 

Disadari atau tidak, paham sekularisme atau cara pandang sekular ini sudah merasuk jauh ke dalam diri kaum Muslim. Saat melaksanakan shalat, seorang wanita Muslimah akan dengan ringan menutup auratnya. Namun, di luar shalat, ia merasa berat melakukannya. Ketika di masjid seseorang merasa begitu dekat dengan Allah dan merasa ada dalam pengawasan-Nya. Namun, di luar masjid—ketika menangani proyek, berjual beli, berbisnis, dan berpolitik, mengurus pemerintahan, dll—seakan Allah begitu jauh dan tidak mengawasinya. Ketika beribadah ritual (shalat, misalnya) seorang Muslim begitu memperhatikan hukum-hukum syariah tentangnya; memperhatikan syarat dan rukunnya, juga sah dan batalnya. Namun, di luar itu—ketika memerintah, berpolitik, berdagang, memutuskan perkara dan sebagainya—hukum-hukum syariah bukan saja diabaikan, bahkan dicampakkan.

 

Paham sekularisme semacam ini tentu bertentangan dengan akidah Islam. Islam tidak membedakan urusan dunia dengan urusan akhirat. Islam diturunkan oleh Allah bukan hanya untuk mengurus urusan ukhrawi saja, melainkan juga untuk urusan duniawi. Hal ini bisa dipahami dengan sangat mudah oleh siapapun. Siapapun bisa memahami itu dengan mudah ketika membaca ayat-ayat al-Quran tentang hukum potong tangan bagi pencuri, cambuk/rajam bagi orang yang berzina; hukum seputar jual-beli, riba, timbangan; hukum tentang pergaulan laki-laki dan perempuan; hukum seputar perang, perjanjian, damai dsb. Tentu saja semua petunjuk dan hukum-hukum itu diturunkan oleh Allah SWT bukan sekadar untuk dibaca dan dipelajari, tetapi untuk dilaksanakan dan diterapkan. Bahkan Allah mengancam siapa saja yang mengambil sebagian isi al-Quran seraya meninggalkan sebagiannya yang lain:

 

 

]أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ[

 

Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lainnya? Tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dilemparkan ke dalam azab yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat. (QS al-Baqarah [2]: 85).

 

 

Introspeksi Ramadhan

 

 

Tentu kita semua tidak ingin Ramadhan ini meraih kegagalan, yaitu gagal meraih takwa sebagai hikmah atas diwajibkannya puasa. Takwa, seperti yang dijelaskan oleh Imam Nawawi, adalah mematuhi perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Perintah dan larangan Allah itu terwujud dalam totalitas hukum syariah. Karena itu, takwa hakikatnya adalah menjalankan seluruh hukum syariah dalam segala bentuk dan aspeknya.

 

Puasa telah mengajari kita untuk menjadi manusia yang bertakwa. Jika pada bulan Ramadhan, ketika kita diperintahkan meninggalkan makanan dan minuman yang halal pada siang hari, ternyata kita bisa; tentu lebih mudah bagi kita untuk meninggalkan makanan dan minuman haram di luar Ramadhan. Ketika puasa di bulan Ramadhan kita ringan menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, tentu seharusnya di luar Ramadhan semua itu juga pasti bisa kita lakukan.

 

Namun, karena pemaknaan terhadap Ramadhan didasarkan pada cara pandang sekular, lahirlah anggapan bahwa semua bentuk ketaatan itu seolah hanya berlaku selama Ramadhan saja; menjadi insan bertakwa itu seakan hanya dianggap khusus pada bulan Ramadhan saja.

 

Karena itu, pada pertengahan Ramadhan ini, hendaknya kita instrospeksi diri. Apakah pemaknaan Ramadhan dan aktivitas di dalamnya masih menggunakan cara pandang sekular? Jika ya, artinya kita terancam gagal mewujudkan hikmah puasa, yaitu takwa. Oleh karena itu, cara pandang sekular harus segera kita buang.

 

Takwa jelas bukan hanya diperintahkan selama Ramadhan saja. Takwa diperintahkan sepanjang waktu, kapan saja, juga dimana saja dan dalam hal apa saja. Rasulullah saw. bersabda:

 

 

«اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ»

 

Bertakwalah kamu kepada Allah kapan saja dan dimana saja kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik (HR Ahmad, at-Tirmidzi, al-Hakim dan al-Baihaqi).

 

 

Karena itulah, baik pada bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan, sepanjang hidup kita, juga di manapun kita berada, takwa harus senantiasa terwujud dalam diri kita.

 

Seiring waktu, mungkin aktivitas keseharian dan kesibukan duniawi telah menjadikan energi untuk bertakwa itu melemah. Supaya penurunan itu tidak sampai kebablasan, energi takwa itu perlu selalu di-charge. Ramadhan bisa dijadikan sebagai salah satu momentum untuk men-charge kembali energi itu. Dengan itu, selepas Ramadhan kita tetap bisa mewujudkan ketakwaan sepenuhnya, bukan malah sebaliknya; ketakwaan kita makin melemah, bahkan nyaris hilang selepas Ramadhan. Na'ûdzu billâh min dzâlik.

 

 

Wahai kaum Muslim:

 

 

Hendaknya Ramadhan sekarang kita jadikan sebagai momentum perubahan. Marilah kita tinggalkan paham sekularisme dan cara pandang sekular, khususnya dalam memaknai Ramadhan ini, dan umumnya di dalam segala aspek kehidupan kita. Marilah kita wujudkan ketakwaan dalam diri kita bukan hanya pada bulan Ramadhan ini saja, tetapi pada sebelas bulan berikutnya selepas Ramadhan.

 

Untuk memantapkan semua itu tidak ada lain adalah dengan kembali menerapkan Islam dan syariahnya secara kaffah. Puasa Ramadhan sungguh telah mengajari kita bahwa semua itu adalah mudah dan bisa kita terapkan. Wallâh a'lam bi ash-shawâb. []

 

 

Komentar al-Islam:

 

Anwar Ibrahim: Demokrasi Sering Munculkan Ketidaksabaran (Kompas, 9/9/2008).

 

Wajar, karena demokrasi hanya menjanjikan kesejahteraan, bukan mewujudkannya.




Baca Selengkapnya ...

Thursday, August 28, 2008

Andai Ini Ramadhan Terakhir

Assalaamu'alaikum Wr.Wb.

Andai Ini Ramadhan Terakhir

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu siangnya engkau sibuk berzikir
tentu engkau tak akan jemu melagukan syair rindu
mendayu..merayu... kepada-NYA Tuhan yang satu
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu sholatmu kau kerjakan di awal waktu
sholat yang dikerjakan...sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu...bersatu memperhamba diri
menghadap Rabbul Jalil... menangisi kecurangan janji
"innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"
[sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...
kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekalian alam]


andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tidak akan kau sia siakan walau sesaat yang berlalu
setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terluang
alunan Al-Quran bakal kau dendang...bakal kau syairkan

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu malammu engkau sibukkan dengan
bertarawih...berqiamullail...bertahajjud...
mengadu...merintih...meminta belas kasih
"sesungguhnya aku tidak layak untuk ke syurga-MU
tapi...aku juga tidak sanggup untuk ke neraka-MU"

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu dirimu tak akan melupakan mereka yang tersayang
mari kita meriahkan Ramadhan
kita buru...kita cari...suatu malam idaman
yang lebih baik dari seribu bulan

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu engkau bakal menyediakan batin dan zahir
mempersiap diri...rohani dan jasmani
menanti-nanti jemputan Izrail
di kiri dan kanan ...lorong-lorong ridha Ar-Rahman

Duhai Illahi....
andai ini Ramadhan terakhir buat kami
jadikanlah ia Ramadhan paling berarti...paling berseri...
menerangi kegelapan hati kami
menyeru ke jalan menuju ridho serta kasih sayangMu Ya Ilahi
semoga bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti

Namun teman...
tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi dirinya
yang mampu bagi seorang hamba itu hanyalah
berusaha...bersedia...meminta belas-NYA

"MOHON MAAF LAHIR & BATHIN
ATAS SEMUA KESALAHAN & KEKHILAFAN"


Semoga kita mendapatkan maghfiroh Ramadhan &

Semoga Allah SWT masih mempertemukan kita
di bulan Ramadhan tahun depan

Amiiin...

Wassalaamua'laikum Wr. Wb.

Baca Selengkapnya ...

Tuesday, August 26, 2008

Ramadhan Sarana Untuk...





RAMADHAN: SARANA UNTUK MEWUJUDKAN

KETAKWAAN PERSONAL DAN SOSIAL

Buletin Al-Islam Edisi  420

 

 

Bulan Rajab belum lama kita lalui. Bulan Sya'ban sebentar lagi kita akhiri. Kini, bulan Ramadhan segera datang menghampiri. Terkait dengan ketiga bulan mulia ini, Baginda Rasulullah saw. secara khusus memanjatkan doa ke haribaan Allah SWT:

 

 

«اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ وَ حَصِّلْ مَقَاصِدَنَا»

Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan pada bulan Sya'ban ini; sampaikanlah diri kami pada bulan Ramadhan; dan tunaikanlah keinginan-keinginan kami (HR Ahmad).

 

Ibarat samudera, Ramadhan menyimpan sejuta mutiara kemuliaan, memendam perbendaharaan segala keagungan dan di dalamnya bersemayam aneka kebesaran. Ramadhan juga merupakan cakrawala curahan karunia Allah SWT karena semua aktivitas hamba yang beriman pada bulan ini dinilai sebagai ibadah. Kecil yang dilakukan tetapi besar pahalanya di sisi Allah. Ringan yang dikerjakan namun berat timbangan di hadapan Allah. Apalagi jika amal yang besar dan berat, tentu akan mampu melesatkan hamba ke derajat kemuliaan dan meraih kenikmatan surga-Nya.

 

Datangnya Ramadhan bagi orang Mukmin adalah laksana 'kekasih' yang sangat ia rindukan; dengan sukacita ia akan menyiapkan segala sesuatu yang dapat mengantarkan perjumpaan menjadi penuh makna, berkesan dalam dan senantiasa melahirkan harapan-harapan mulia.

 

Begitu dasyatnya kemuliaan Ramadhan, Rasulullah saw. di penghujung bulan Sya'ban berkhutbah di hadapan manusia menjelaskan berbagai keutamaannya:

 

 

Wahai manusia sekalian...

 

Akan datang menaungi kalian bulan yang agung dan penuh berkah; bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang di dalamnya Allah wajibkan berpuasa dan melaksanakan qiyâm tathawwu' (salat sunnah tarawih). Siapa saja pada bulan itu mendekatkan diri dengan sebuah amal kebaikan, ia seperti telah melaksanakan kewajiban...Siapa saja yang mengerjakan kewajiban, ia seperti melaksanakan tujuh puluh kewajiban...

 

Ramadhan adalah bulan sabar. Sabar itu pahalanya surga. Ramadhan adalah bulan memberi pertolongan dan bulan Allah memberikan rezeki kepada Mukmin. Siapa saja yang memberi makan berbuka seseorang yang berpuasa, yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan keselamatan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang...Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.

 

Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Siapa saja yang meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan menyelamatkannya dari neraka. Karena itu, perbanyaklah empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhan kalian dan dua perkara lagi yang sangat kalian butuhkan. Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan memohon ampunan-Nya. Dua perkara yang sangat kalian perlukan ialah memohon surga dan perlindungan dari neraka... (HR Ibnu Huzaimah).

 

 

Kemulian dan keistimewaan Ramadhan juga terlukis dalam hadis Nabi saw. melalui  penuturan Abu Hurairah ra.:

 

 

«إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةُ وَ غُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارُ وَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ»

Jika Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka; pintu-pintu neraka ditutup; dan setan-setan dibelenggu (HR Muslim).

 

 

Derajat yang Harus Diraih

 

 

Kita patut merenungkan kembali firman Allah SWT:

 

 

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. (QS al-Baqarah [2]: 183).

 

 

Dari ayat ini, tanpa harus melalui pengkajian mendalam kita memahami bahwa target akhir dari pelaksanaan kewajiban shaum adalah takwa. Artinya, shaum adalah medium sekaligus momentum perubahan untuk mewujudkan individu dan masyarakat yang bertakwa.

 

Ayat tersebut diserukan kepada orang-orang yang beriman. Ini mengisyaratkan bahwa puasa akan mengantarkan pada ketakwaan jika dilakukan atas dorongan keimanan. Amal-amal Ramadhan akan bermakna dan berpengaruh jika didasari oleh keimanan.

 

Sayangnya, justru di sinilah yang menjadi kelemahan selama ini. Prosesi, ritual dan aktivitas Ramadhan sering tidak didasari oleh iman. Puasa dijalankan sering karena alasan sudah menjadi tradisi, bukan karena keimanan dan harapan akan ridha-Nya. Ramainya majelis zikir dan pengajian bisa jadi lebih karena terbawa suasana religius Ramadhan, bukan didasari oleh keyakinan bahwa semua itu adalah bagian dari kewajiban mengkaji Islam, dakwah, amar makruf nahi mungkar. Program-program religi mungkin diadakan lebih karena alasan bisnis, bukan karena keyakinan sebagai bagian dari kewajiban mewujudkan kehidupan yang islami. Penutupan tempat-tempat maksiat dan penghentian kemaksiatan pun dilakukan untuk menghormati kesucian Ramadhan karena toleransi, bukan didasari oleh keyakinan bahwa segala bentuk kemaksiatan besar ataupun kecil akan mendapatkan azab Allah kelak di akhirat.

 

Bisa juga Ramadhan selama ini menjadi kurang bermakna dan lemah pengaruhnya karena realitas takwa yang menjadi hikmah puasa itu sendiri belum  dihayati. Ketakwaan adalah hikmah dari puasa. Mereka yang berpuasa harus senantiasa memperhatikan dan mengupayakan secara maksimal agar ketakwaan terwujud dalam dirinya. Ketakwaan adalah derajat yang paling mulia bagi hamba yang beriman. Allah SWT berfirman:

 

 

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa (QS al-Hujurat [49]: 13).

 

 

Hakikat Takwa

 

 

Takwa berasal dari kata waqâ-yaqî-waqyan, yang dalam bahasa Arab diubah menjadi taqwa untuk membedakan antara isim dan sifat, yang meliputi makna: menjaga, menjauhi, takut dan berhati-hati. Dalam takwa itu rasa takut dan cinta kepada-Nya menyatu; berjalan seiring dan saling berkelindan. Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, takwa kepada Allah itu bukan dengan terus-menerus shaum di siang hari, shalat di malam hari atau sering melakukan kedua-duanya; takwa kepada Allah tidak lain adalah dengan meninggalkan apa saja yang Allah haramkan dan menunaikan apa saja yang Allah wajibkan. Siapa yang melakukan kebaikan setelah itu, itu adalah tambahan kebaikan di atas kebaikan.

Para Sahabat yang mulia, sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Ali bin Abi Thalib kw., sering menyatakan bahwa takwa adalah:

 

 

اَلْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ وَ الْعَمَلُ بِالتَنْزْيِلِ وَ اْلإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ

(Takut kepada Zat Yang Mahaagung; mengamalkan al-Quran; menyiapkan diri untuk menyambut datangnya hari yang kekal [akhirat]).

 

 

Dengan kata lain, takwa adalah kesadaran akal dan jiwa serta pengetahuan syar'i akan wajibnya mengambil halal-haram sebagai standar bagi seluruh aktivitas dan merealisasikannya secara praktis ('amalî) di tengah-tengah kehidupan. Nilai esensial dari seluruh ibadah wajib dan sunnah pada bulan Ramadhan ini harus mewujud dalam sebuah spektrum jiwa yang pasrah, tunduk dan sepenuhnya berjalan di bawah kesadaran ketuhanan (ihsân). Semua ini bermuara pada sebuah kesadaran bahwa Allahlah satu-satunya yang wajib disucikan (dengan hanya beribadah kepada-Nya) baik di kesunyian ataupun di keramaian; dalam kesendirian maupun berjamaah; di waktu malam ataupun siang; dalam keadan sempit atau lapang; di daratan ataupun di lautan. Semua itu mengalir sampai ujung batas kesempatan hidupnya.

 

 

Ketakwaan Personal dan Sosial

 

 

Takwa harus tercermin dalam kesediaan seorang Muslim untuk tunduk dan patuh pada hukum Allah. Kesediaan kita untuk tunduk dan patuh pada seluruh hukum syariah Islam inilah realisasi dari ketakwaan dan kesalihan personal kita.

 

Secara personal, hukum syariah seperti shalat, puasa, zakat, memakai jilbab, berakhlak mulia, berkeluarga secara islami; atau bermuamalah seperti jual-beli, sewa-menyewa secara syar'i dan sebagainya bisa dilaksanakan saat ini juga. Begitu ada kemauan, semua itu bisa dilakukan.

 

Namun, dalam konteks sosial, banyak hukum syariah yang saat ini seolah begitu sulit dilakukan, seperti:

 

1.       Peradilan/persanksian (misal: qishâsh, potong tangan bagi pencuri, cambuk/rajam bagi pezina, cambuk bagi peminum khamr, dsb).

2.       Ekonomi (misal: hukum tentang kepemilikan, pengelolaan kekayaan milik umum, penghapusan riba dari semua transaksi, dsb).

3.       Politik Luar Negeri (misal: dakwah ke luar negeri dan jihad/perang).

4.       Kewarganegaraan (misal: hukum tentang status kafir dzimmi, musta'min dan mu'âhad).

 

 

Kaum Muslim sesungguhnya diperintahkan untuk menjalankan semua hukum syariah tersebut. Kaum Muslim juga diperintahkan untuk memutuskan semua perkara di tengah-tengah masyarakat dengan hukum-hukum Allah. Sebagaimana hukum-hukum yang bersifat personal wajib dilaksanakan, demikian pula dengan hukum-hukum yang bersifat sosial. Hanya saja, semua hukum yang terkait dengan pengaturan masyarakat di atas adalah kewenangan penguasa/pemerintah, bukan kewenangan individual/personal. Karena itu, justru di sinilah pentingnya kaum Muslim memiliki penguasa (yakni Khalifah) dan sistem pemerintahan yang sanggup menerapkan hukum-hukum Islam di atas (yakni Khilafah). Inilah wujud ketakwaan kita secara sosial. Ketakwaan dan kesalihan sosial ini dengan sendirinya mendorong kita untuk gigih memperjuangkan penerapan semua hukum-hukum Allah terkait dengan masalah sosial kemasyarakatan tersebut.

 

Selama bulan Ramadhan ini, kita secara ruhiah memang dilatih untuk meningkatkan ketundukan dan ketaatan pada syariah. Pada bulan Ramadhan ini, hal-hal yang notabene biasa kita lakukan di luar Ramadhan—seperti makan, minum dan berhubungan suami-istri—ternyata bisa kita tinggalkan. Jika yang halal saja (di luar Ramadhan) bisa kita tinggalkan pada bulan Ramadhan ini, apalagi yang haram. Jika yang sunnah seperti shalat tarawih, sedekah dan sebagainya saja bisa kita lakukan, apalagi yang wajib. Artinya, dengan kemauan yang besar, semua hukum syariah yang Allah bebankan kepada kita, pasti bisa kita laksanakan. Ramadhan yang segera akan menyapa kita adalah madrasah untuk mewujudkan itu semua.

 

Akhirnya, marilah kira merenungkan firman Allah SWT:

 

 

Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa,  Kami akan membukakan pintu keberkahan atas  mereka dari langit dan bumi (QS al-A'raf [7]: 96).

 

 

Wallâhu a'lam bi ash-shawab. []

 

 

KOMENTAR:

 

Kerugian Indonesia dari kontrak ekspor gas ke Cina mencapai Rp 350 triliun (Republika, 26/8/2008).

 

Ironis! Gas diekspor sangat murah, sementara rakyat menjerit karena harga gas di dalam negeri sangat mahal




Baca Selengkapnya ...

8 agenda beribadah



Saudaraku, bulan suci Ramadhan selalu menjadi bulan yang kita nanti-nantikan setiap tahunnya dan berharap bahwa umur kita masih dapat melalui bulan yang penuh rahmah ini. Semoga kita bisa memasuki Ramadhan dalam kesiapan iman yang memadai untuk bisa meraih sebanyak-banyaknya pahala ibadah di bulan suci itu. Mari lalui bulan ini dengan lebih menekankan kualitas dan memperbanyak kuantitas ibadah kita kepada Allah SWT.
Dalam sebuah dialog, Ustadz Fathi Yakan Hafizhahullah menguraikan ada 8 agenda beribadah yang penting agar kita bisa menjaga keimanan di zaman yang penuh fitnah ini.

Agenda pertama: melakukan shalat 12 rakaat sunnah rawatib, yakni 2 rakaat sebelum subuh, 4 rakaat sebelum zhuhur, 2 rakaat setelah zhuhur, 2 rakaat setelah maghrib, dan 2 rakaat setelah isya. Manfaat yang diharapkan: Dibangunkan rumah di surge oleh Allah bagi orang yang selalu mengerjakannya. Dalilnya, sabda Rasulullah SAW, “ barangsiapa yang shalat sunnah satu hari 12 rakaat, Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. Muslim)
Agenda kedua: Shalat 2 rakaat di tengah malam. Manfaat yang diharapkan: pengabulan do’a, pengampunan dosa dan pemenuhan hajat serta keperluan. Dalilnya , sabda Rasulullah SAW, “ Allah SWT turun setiap malam ke langit dunia. Di saat tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, “ Siapa yang berdo’a kepada-Ku maka akan Kuberikan permintaannya, dan siapa yang memohon ampunan pada-Ku, akan Kuampuni dia.” (HR. Bukhari)
Agenda ketiga: Melakukan shalat dhua 2 rakaat, 4 rakaat atau 8 rakaat. Manfaat yang diharapkan: member sedekah pada setiap persendian tulang dalam tubuh. Dalilnya, sanda Rasulullah SAW dari Abi Dzar ra, “setiap persendian pada diri kalian harus di shadaqahkan. Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiabptakbir adalah shadaqah, memerintahkan yang ma’ruf itu adalah shadaqah,melarang yang mungkar itu shadaqah, semua itu akan terpenuhi dengan 2 rakaat yang dilakukan dalam shalat dhuha.” ( HR. Muslim dan Bukhari sebagiannya)
Agenda keempat: membaca surat Al-Mulk dan surat Al-qur’an lainnya. Manfaat yang diharapkan: Dihindarkan dari adzab kubur. Dalilnya, sabda Rasulullah saw, “ Sesungguhnya dalam Al-Qur’an terdapat satu surat yang terdiri dari 30 ayat. Surat itu bisa memberi syafaat kepada seseorang hingga diampuni dosa-dosanya. Yakni surat yang awalnya berbunyi “ Tabarakallahdzii biyadihil mulk.” (HR. Tarmidzi dan Ahmad, Tirmidzi mengatakan ini adalah hadits hasan)
Agenda kelima: Mengatakan “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syaiin qadiir” seratus kali. Manfaat yang diharapkan: sama dengan membebaskan 10 orang budak, dituliskan 100 kebaikan, menghapus 100 kesalahan, dan menjadi pelindung dari syaitan. Dalilnya, Rasulullah saw bersabda, “ barangsiapa yang mengatakan laa ilaaha ilallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu. Wa huwa ‘ala kulli syain qadir” dalam satu hari seratus kali, maka itu sama dengan membabaskan 10 orang budak, dituliskan 100 kebaikan, menghapus 100 kesalahan, dan akan menjadi pelindung baginya dari syaitan pada hari itu sampai tiba waktu sore. Dan tidak ada seorang pun yang telah dilakukannya itu kecuali bila ada seseorang yang mengerjakan lebih banyak dari itu.” (HR. Muslim)
Agenda keenam: Mengucapkan shalawat atas Rasulullah saw dalam jumlah yang ditentukan. Manfaat yang diharapkan: terpelihara dari sifat kikir dan mendapat do’a dari Allah SWT. Dalilnya, Rasulullah saw bersabda,” barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan mendo’akannya sebanyak 10 kali.” (HR. Muslim) “ orang yang kikir adalah yang apabila disebut di sisinya namaku, tapi dia tidak mengucapkan shalawat atasku.” (HR. Tarmidzi, dia mengatakan, ini adalah hadits hasan gharib sahih)
Agenda ketujuh: Mengucapkan “Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahil Azhiim” dalam jumlah yang tidak ditentukan. Manfaat yang diharapkan: Ditanamkan pohon kurma di surga. Dalilnya, sabda Rasulullah saw,” Barangsiapa yang mengucapkan Subhanallah wa bihamdihi akan ditanamkan untuknya pohon kurma di surga. (HR. Tarmidzi, dia mengatakan, ini adalah hadits hasan gharib sahih)
Agenda kedelapan: Mengucapkan “Astaghfirullahal Azhiim” dalam jumlah yang tidak ditentukan. Manfaat yang diharapkan: dilepaskan dari kesulitan dan dibanyakkan rezeki. Dalilnya, sabda Rasulullah saw, “ barangsiapa yang membiasakan istighfar maka Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan baginya dan akan diberikan kelapangan dari kecemasan dan didatangkan rezki dari arah yang tidak disangka-sangka. ( HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim dengan sanad shahih)
Saudaraku, mintalah kepada Allah agar kita senantiasa mendapat petunjuk dan kekuatan untuk mengikuti petunjuk itu.
(Sumber: Mencari Mutiara di Dasar Hati oleh Muhammad Nursani)

Baca Selengkapnya ...