Wednesday, October 20, 2010
Adek Iqbal Ga Nakal Kok
Wednesday, October 13, 2010
Bakso Khalifatullah
Photo hanya ilustrasi
Emha Ainun Nadjib
Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobagnya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.
“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.
Maksud Bapak?” ia ganti bertanya.
“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?” Ia tertawa.
“Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya” “Maksud Pak Patul?”, ganti saya yang bertanya.
“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”. Aduh gawat juga Pak Patul ini.
“Maksudnya?”, saya mengejar lagi.
“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.
Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya.Hati saya meneriakkan
“Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!”
tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya.Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya. Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul.Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya.Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya:“Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”. Peradaban saya masih peradaban “milik saya”.
Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggung jawab, lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya.
30 th silam saya pernah menuliskan kekaguman saya kepada Penjual cendhol yang marah-marah dan menolak cendholnya diborong oleh Pak Kiai Hamam Jakfar Pabelan karena “kalau semua Bapak beli, bagaimana nanti orang lain yang memerlukannya?” Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua. Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya tawar.Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung. “Lho, uang saya tidak cukup, Pak” “Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap” “Berarti saya hutang?” “Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya”. Doooh adoooh…! Tompes ako tak’iye!
Di pasar Khan Khalili semacam Tenabang-nya Cairo saya masuk sebuah toko kemudian satu jam lebih pemiliknya hilang entah ke mana, jadi saya jaga tokonya.Ketika datang saya protes: “Keeif Inta ya Akh…ke mane aje? Kalau saya ambilin barang-barang Inta terus saya ngacir pigimane dong….” Lelaki tua mancung itu senyum-senyum saja sambil nyeletuk:“Kalau mau curi barang saya ya curi saja, bukan urusan saya, itu urusan Ente sama Tuhan….”
Sungguh manusia adalah ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah, master-piece.Orang-orang besar bertebaran di seluruh muka bumi.Makhluk-makhluk agung menghampar di jalan-jalan, pasar, gang-gang kampung, pelosok-pelosok dusun dan di mana-manapun.
Bakso Khalifatullah, bahasa Jawanya: bakso-nya Pak Patul, terasa lebih sedap karena kandungan keagungan. Itu baru tukang bakso, belum anggota DPR. Itu baru penjual cendhol, belum Menteri dan Dirjen Irjen Sekjen. Itu baru pemilik toko kelontong, belum Gubernur Bupati Walikota tokoh-tokoh Parpol.Itu baru penjual jagung bakar, belum Kiai dan Ulama.
Sunday, September 5, 2010
Mengenang Yu Yuan
Gadis kecil duduk meringkuk kedinginan.
Selang plastik menggantung diatas menyalurkan tetes – tetes bening dari botol infus ke jarum tajam menghujam di lengan, meninggalkan bekas tusukan – tusukan menyakitkan.
Ayahnya duduk diatas ranjang membelai sayang rambutnya yang kusam, seminggu tak keramas. Tangan satunya menggenggam tangan gadis kecil lemah tak berdaya terkulai diatas ranjang.
“Sakit nduk?”
Yang ditanya hanya menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum menunjukkan deretan mungil berwarna putih pucat, berharap sang ayah percaya bahwa ia tak merasakan sakit sedikitpun. Namun senyumnya malah membuat sejumput air tumpah dari mata sang ayah.
“Ayah, akan berusaha lebih giat agak kamu mendapatkan pengobatan terbaik” ucapnya dengan penekanan
“Ayah, Yuan sudah tidak sakit lagi”
“Kita pulang saja”
Sang ayah menggeleng tanda tidak setuju atas permintaan sang anak.
“Kamu boleh pulang kalau kamu sudah sembuh, ayah sedang berusaha nak”
“Ayah, jangan berkorban untuk ku,aku hanya anak yang kau pungut di tepi jalan, aku tidak berharga, orang tuaku saja tak menginginkan ku” pinta gadis kecil itu pada sang ayah.
Tentu saja permintaan itu tidak diiyakan oleh sang ayah.
“Siapa yang bilang kau tidak berharga anak ku sayang, kau anak yang baik, penurut pintar”
“Bukan kah kau ingin jadi dokter?”
“Jadi kau harus sembuh”
“Tapi Ayah...” gadis kecil itu tak bisa melanjutkan kalimatnya, sebuah cairang hangat keluar dari hidungnya. Merah pekat.
Sang ayah sigap mengambil tisyu gulung diatas meja dan membersihkan aliran darah yang keluar dari hidung putri kecilnya.
‘Tuhan, ia hanya gadis kecil yang baru berumur 8 tahun, mengapa ia harus mengalami penderitaan seberat ini’ gumannya dalam hati.
Gadis kecil duduk meringkuk diantara tumpukan kardus .
‘Ayah aku ingin mati’
Malam itu didalam kamarnya ia mendekap hidungnya yang terus mengeluarkan darah, dibalik tembok ia mendengar Istri ayahnya sedang marah.
“Apa lagi yang mau kau jual?”
“Televisi, Kulkas, perabot rumah sudah habis”
“Perhiasan ku pun menjadi korban anak pungutmu itu”
“Apa kau ingin menjual ku juga, hah?” wanita itu duduk membelakangi laki – laki berkemeja kotak kotak yang sedang menggenggam sebuah buku kecil tipis berwarna biru. Angka terakhir menunjukkan Rp. 52.399,-
“Astaghfirullah Bu, nyebut, Istighfar”
“Jangan keras – keras, Anak kita ada dikamar sebelah” kata laki – laki itu lirih, berharap sang gadis yang dimaksud sudah tidur.
“Biar dia dengar semua, biar dia tau kalau penyekit sialan itu sudah membuat kita miskin, tak punya apa – apa”
“Biar dia tahu diri, biar dia pergi minta duit sama orang tua kandungnya”
Di ruangan yang hanya terhalang tembok, gadis itu menangis dalam diam, cairan merah pekat itu tak jua berhenti mengalir, berlomba keluar dengan iar matanya. Ia tertidur dalam kesakitan.
Istri ayahnya mebawanya pulang setelah membayar biaya pengobatannya dengan uang pinjaman. Meskipun dokter malarangnya pulang.
Ia tak keberatan pulang, ia memilih menuruti kata – kata istri ayahnya. Ia tak ingin menjadi beban untuk ayahnya, sakit yang ia rasakan menjadi semakin sakit katika melihat wajah segar ayahnya dulu kini berubah menjadi kurustak terurus. Ia tak ingin ayahnya benar- benar ditinggalkan istrinya karena dia.
Gadis kecil itu tak lagi duduk meringkuk, melainkan sudah terkapar tak berdaya diatas tumpukan kardus.
Sang ayah kebingungan berlari kesana kemari mencari anaknya dibawah titik – titik air yang turun semakin deras.
Selembar photo didalam plastik bening ia tunjukan pada setiap orang yang ia temui, berharap mereka tahu keberadaan gadis kecil yang tersenyum lebar dalam photo. Dibalik photo iku tertulis sebuah pesan.
Ayah, maafin aku yang buat ayah sedih,
Aku tidak mau melihat ayah sedih lagi,
Ayah...
Aku sayang sama ayah”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Mengenang Yu Yuan
Aku pernah datang dan aku sangat penurut”
Suci
Wonoayu, 6 Septembar 2010 11.17
Baca Selengkapnya ...
Thursday, September 2, 2010
INGIN KU...
“Aku ingin mencintaimu dalam diam seperti cintanya Ali pada Fatimah dan cintanya Fatimah kepada Ali”
Aih...........
Ungkapan diatas membuatku melayang ke masa yang masih tertutup tabir. Kemana cinta ku akan ku labuhkan. ^_^
Aku ingin dicintai seperti Muhammad mencintai Khadijah, aku ingin dicintai selayaknya Ali mencintai Fatimah. Cinta yang tak terbagi. Egois yap? Masa bodo namanya juga ingin.
Tapi keinginan itu membuatku menatap diri ku, apakah aku sehangat Khadijah yang Muhammad merasa nyaman berada didekatnya. Apakah aku setangguh Fatimah hingga Ali begitu setia padanya?
Tidak sama sekali, aku tak sehangat khadijah ataupun setangguh fatimah. Tapi inilah aku, hanya seorang wanita biasa yang hidup dengan biasa, tak ada yang luar biasa pada diriku.
Kadang hal itu membuatku berfikir, apa ada keistimewaan pada diriku hingga berani menginginkan cinta seperti Muhammad dan Ali?
Tidak ada, kutegaskan lagi, tidak ada yang istimewa pada diriku, tidak ada yang luar biasa di dalam diri ini. Hanya seorang perempuan biasa, tidak lebih.
Tapi...
Kalau hanya ingin boleh dunk, toh hanya ingin. ^_^
Aku sendiri juga ga tau, apa cinta seperti itu yang ku butuhkan, karena apa yang indah dimata ku belum tentu baik untuk ku, sebaliknya apa yang terlihat tidak menyenangkan belum tentu tidak menggembirakan ku.
Dia lah Yang Maha Mengetahui apa yang dibutuhkan makhluk-Nya, termasuk apa yang baik untuk ku.
Aku hanya berharap yang terbaik, dan berusaha memperbaiki diri. Tentu tak lupa menyerahkan semua urusan ini pada Nya Sang Pembolak – Balik hati. Bukan begitu? ^_^
Semoga tabir ini segera terbuka. Amien....
^_^
Suci
Wonoayu, 3 September 2010 11.41
DIAM
“Aku ingin mencintaimu dalam diam seperti cintanya Ali pada Fatimah dan cintanya Fatimah kepada Ali”
Sebuah ungkapan yang indah.
Mengingatkan aku pada seseorang, ia pernah berkata padaku
“Belajarlah berkomunikasi”
Ia mengatakan hal itu karena aku kerap kali diam, ketika ditelphone, dalam ym ketika ia menyapa ku bahkan bila kami bertemu.
Sampai akhirnya (mungkin) ia sudah berhenti berusaha membuatku berbicara, mengatakan apa yang ada dikepalaku.
Diam, adalah salah satu pilihan dalam hidup ku, ketika aku marah, atau ketika memang tak ada yang perlu dikatakan. Ada kalanya begitu banyak yang ingin diungkapkan, namun akan lebih baik bila hal itu tak perlu diungkapkan.
Ya, memang banyak hal yang bila diungkapkan hanya akan membawa luka, menjadi hal yang sia – sia.
Maka biarkan aku tetap dalam pilihan ku. DIAM.
Dan inilah caraku berkomunikasi, dengan ini ku harap tak banyak yang akan tersakiti oleh lidah tajam ini, dan semakin berkurang kesia-siaan yang keluar dari mulut ini.
Maka, berkatalah yang baik atau DIAM.
Suci
Wonoayu, 3 September 2010 10.51
Wednesday, September 1, 2010
BARU
Ramdhan masih seminggu lagi, artinya Ramdhan karim segera pergi. Sesak dan sesal menyelimuti. Namun aroma Idul Fitri seolah telah sampai di ujung hidung. Hiruk pikuk persiapan lebaran mendadak mengaburkan sendu yang menyeruak kehilangan Ramadhan.
Godaan terbesar menjelang akhir Ramadhan. Malam - malam yang harusnya sibuk bermunajat menanti Lailatul Qadar dihabiskan dengan beramai - ramai mengunjungi tempat - tempat belanja, departement store dan mall - mall yang menyuguhkan mid night sale.
Iktikaf pun kini beralih lokasi, mall. Merdunya suara Qori' melantunkan ayat - ayat Al Quran terdengar lirih ditelinga dibandingkan dengan para pemilik toko yang menyerukan pesta diskon besar - besaran menyihir langkah - langkah kaki mendatanginya.
Akankah Ramadhan ini akan diakhiri dengan pesta serba baru?
Bukan hati dan semangat baru, namun baju baru, kerudung baru, sepatu baru, sandal baru, mukena baru, baju koko baru, peci baru, sarung baru. TAMPILAN BARU.
Hanya itu kah?
Perih, disaat Ramadhan kita belajar merasakan perihnya lapar saudara kita yang kekurangan, diakhiri dengan mencemooh mereka dengan TAMPILAN serba BARU yang notabene sulit mereka dapatkan.
Ramadhan, Jangan tinggalkan aku dalam keBARUan yang semu.
Suci
Wonoayu, 2 September 2009 11.29
Friday, August 6, 2010
[Diary Kenangan] Jilbab Pertama Ku
7 Juli 2003
Hari ini untuk pertama kalinya aku menggunakan seragam sekolah kebanggan kami dengan cara yang berbeda
Gugup, aku agak kuatir dengan reaksi teman – teman yang akan kutemui nanti, aku takut mereka mencibir.
Memakai pakaian ini serasa memanggul beban berat di pundakku, aku takut setiap gerak gerik ku akan berpengaruh pada reputasi muslimah kebanyakan, aku yang ceroboh, yang tak bisa diam. Semoga mereka dapat berfikir dengan bijak bahwa kalau aku belum bisa bersikap baik karena ini aku. Tidak semua muslimah seperti aku.
Namun ketakutan ku tak menyurutkan niat ku tuk melanjutkan langkah ku berbaju muslimah, menutup aurat. Alhamdulillah.
Setelah mematut diri didepan cermin, ku kembangkan senyum kubalikkan badan memandang satu persatu teman – teman sekamar ku. Senyum mereka memberi kekuatan tambahan untuk menjalani hari tanpa beban. Terima kasih.
Selain hari pertama mengenakan jilbab, hari ini adalah hari pertama aku menjadi siswa kelas empat salah satu sekolah menengah kejuruan, kelas empat? Agak aneh ya, di sekolah ku ada ekstra 6 bulan untuk melakukan Praktek Kerja Lapangan di industri yang lebih dikenal dengan sebutan On The Job Training, dan diakhir semester akan ditutup dengan sidang tugas akhir sama persis dengan skripsi untuk mendapat gelar sarjana.
Karena lokasi OJT yang cukup jauh dengan rumah, aku bersama ke empat teman yang lain memilih ngekos didekat tempat OJT. Dan hari ini hari pertama aku menginjakkan kaki diperusahaan perkapalan terbesar di Indonesia bahkan dengar dengar ini adalah galangan kapal trebesar seasia tenggara.
Aku kaget, hampir tak percaya pada sambutan teman – teman yang ku temui di tempat OJT saat kami semua dikumpulkan di depan halaman diklat PT. PAL. Teman – teman yang sudah terlebih dahulu mengenakan hijab menyambutku dengan pelukan hangat yang menenangkan, begitu pula ucapan selamat dari yang lain.
Teman – teman pria pun menatap ku dengan wajah sumringah, celetukan celetukan mereka menjadi dukungan yang berarti untuk ku.
Kilasan – kilasan kenangan masa lalu kerap hadir mengingatkan ku akan arti indahnya ukhuwah, meskipun hanya secuil senyum yang tulus, itu berarti dukungan yang besar. Pelukan hangat dari saudara dapat menenangkan hati yang gelisah.
Terima kasih teman telah memberi warna dalam hidup ku. Menguatkan ku dalam langkah ku.
Suci
Wonoayu, 6 Agustus 2010 15.14
Di sela sela menunggu tamu kantor yang tak kunjung datang, apa ditinggal pulang aja ya…
^_^