Wednesday, October 20, 2010

Adek Iqbal Ga Nakal Kok



Sepertinya tidak ada habisnya bila bercerita tentangnya. Selalu saja ada hal – hal yang mengejutkan bagi kami yang berada didekatnya. Hal – hal kecil namun mampu membuat kami terpana, terpesona olehnya.

Tingkah polanya sering membuat kami betah berada lama – lama bersamanya. Aku sendiri bahkan merasa nyaman berada bersamanya, mengajaknya jalan – jalan berpetualang disiang hari yang panas, menyusuri jalan setapak ditepi sawah. Menghabiskan semangkuk mie ayam dan segelas es teh berdua. Energinya seperti tak kenal lelah, Kau berbicara tanpa henti, bergerak kesana kemari.

Sayangnya beberapa orang sering mencapnya “NAKAL” tak sadar kah mereka bahwa sebutan itu dapat menjadi doa, seolah mendoakan adik kecil kami yang aktif ini menjadi nakal. Mendengar hal itu dalam hati ku ucap doa ‘Rabbi, mohon jangan kabulkan doa orang ini, sayangi dan jagalah adik Iqbal kami agar selalu berada dalam lindungan Mu, Amien...’.






Di usianya yang belum genap tiga tahun ia sudah memiliki empati yang cukup besar, seperti semalam ketika aku mengajaknya berkunjung ke rumah Mbak Eni, ia mendapat hadiah sebuah buku karya sang tuan rumah berjudul “PELARI CILIK” ia senang sekali. Dalam perjalanan pulang kami lewat rumah Tante Wiwit, melihat pagarnya terbuka kami memutuskan untuk mampir, namun sayang ternyata tante wiwitnya sedang keluar, namun kami menunggu di teras rumahnya. Diteras itu ia menanyakan buku pemberian Mbak Eni.

Ketika mulai ku bacakan isi buku tersebut senyumnya memudar, ia mendengarkan dengan tenang dipangkuanku, lalu berseloroh
“Kasian yo, Mbak Sri ga bisa sekolah” Rabbi, ternyata ia menyimak cerita yang kubacakan, yang terpenting lagi empatinya angsung terketuk, Subhanallah... anak sekecil itu mengerti akan kesedihan tokoh pada sebuah cerita. Allahu Akbar!.

Sebenarnya ini bukan yang pertama kali ia menunjukkan empatinya, saat aku membaca buku Toto Chan the Children, ia melihat gambar – gambar anak – anak kurang beruntung dalam buku itu.

Photo – photo yang oleh teman – teman KBA Surabaya mengerikan, dipandangi dengan seksama olehnya. Wajah itu yang selalu penuh dengan ekspresi berubah datar, kesedihan terpancar dari matanya. Berkali – kali dia mengucapkan kata “KASIHAN” mengomentari photo demi photo.

Aku kembali ingin mempertanyakan sebutan “NAKAL” yang disematkan orang – orang padanya, sungguh rasanya aku tidak rela, memang kadangkala tingkahnya membuat gusar, tangannya tak jarang mulai ringan memukul, namun ia masih sangat muda, ia baru dua setengah tahun. Kenakalan yang biasa ditunjukkan anak kecil, namun dibalik itu ia termasuk anak yang suka memberi pertolongan.

Dia akan dengan cekatan mengambil karpet untuk alas duduk diteras, setelah itu ia akan segera bangkit dan berlari ke kamar ku bila diminta mengambil bantal. Pun ketika bapaknya menyuruhnya mengambil kunci dirumah, Ia punya keberanian pergi sendiri kerumahnya yang berada dibelakang rumah kami.

Aku ingat kejadian beberapa waktu lalu saat kami pergi ke Alun – alun, tiba – tiba saja ia menarik rok ku dan meminta uang, ketika ku tanya untuk apa dia pun menjawab,
“Itu lho, kasian yo...” sambil menunjuk orang yang tengah ngesot dengan membawa kaleng kosong, ‘Duh keponakan ku sayang’ seru ku dalam hati sembari mencium keningnya dan menyerahkan selembar kertas kepadanya.

Kalau melihat perilaku anak berumur dua setengah tahun seperti dia, apakah masih pantas mendapat sebutan “NAKAL” ?

I Don’t think so...

Suci
Sambil berdehem, tenggorokan gatel.
Wonoayu, 21 Oktober 2010 9:12

1 comment:

dimasady said...

definisi nakal apa ya?
*masih kecil, moga tumbuh jadi lebih...

~ dy ~