Friday, April 25, 2008

INTERNET: MEDIA DAKWAH ALTERNATIF

Internet, sebagai suatu infrastruktur awalnya adalah infrastruktur telekomunikasi yang dikembangkan oleh para empu teknologi komputer dan telekomunikasi dari ruang dan garasi riset di Amerika Serikat di sekitar akhir dasawarsa 60-an. Kemudian, Dephankam AS melalui program ARPA mendanai pengembangan lebih lanjut riset-riset tersebut sebagai suatu alternatif sistem telekomunikasi untuk mengantisipasi serangan nuklir.


Ya, Internet pada akhirnya adalah produk teknologi perang dingin yang kemudian (kembali) dielobrasi lebih jauh untuk kepentingan sipil. Peranannya yang semakin signifikan kemudian tidak menjadikannya sebagai sarana telkomunikasi saja. Namun berkembang lebih jauh untuk memenuhi dan menciptakan berbagai kebutuhan masyarakat modern mulai dari pengiriman surat elektronik, forum diskusi, media online, sarana jual beli dan juga sarana untuk menampilkan semangat spiritualisme.

Sampai sekarang, walaupun Amerika Serikat bisa dianggap sebagai pemrakarsa teknologi Interet, tidak ada satu pun negara atau entitas yang berhak mengakui kepemilikan infrastruktur Internet. Internet pada akhirnya berkembang demikian pesat tanpa pemilikan dan sangat terbuka. Siapapun yang mau memanfaatkan dan berkiprah untuk memanfaatkan Internet tidak ada yang melarang. Namun disinilah kemudian masalahnya muncul. Dengan keterbukaannya ini, Internet berkembang menjadi suatu sarana, suatu media baru dimana "The bad" dan "The Good" cuma dipisahkan oleh satu klik tetikus pemakainya; Dimana mudharat dan manfaat sama-sama tampil sejajar; Dimana pornografi dan sopan santun bisa saling berselisih atau tampil bersamaan. Internet menjadi suatu medium yang multiintepretasi dan menjadi sarana anonimitas yang terbuka.

Internet sebagai media dakwah

Dulu masih belum begitu banyak memanfaatkan Internet sebagai alternatif media dakwah. Situs tertua yang ditemui adalah situs Isnet.org yang dikelola oleh aktivis Pelajar Islam Indonesia yang sedang belajar di luarnegeri. Isnet bisa disebut sebagai pionir komunitas Islam di Internet yang notabene diprakarsai oleh pelajar-pelajar Islam Indonesia yang berada di mancanegara. Basis kekuatannya dalah milis (mailing list) yaitu forum diskusi melalui email, dimana pesertanya dapat berdiskusi secara aktif untuk berbagai topik keagamaan. Selain itu, terdapat juga upaya-upaya untuk membangun jaringan informasi Islam seperti Jaringan Informasi Islam, yang diprakarsai oleh Pusat teknologi serba guna Salman ITB. Media tradisional seperti hidayatullah dengan hidayatullah.com dan sabili (sabili.ku.org saat ini sabili.co.id) pun setidaknya sudah memanfaatkan Internet sebagai alternatif publikasinya di akhir 90-an itu. Selebihnya adalah situs-situs organisasi seperti al-islam.or.id , kisdi, laskarjihad, dll. Paling menarik adalah munculnya situs-situs personal yang menginformasikan tentang Islam sebagai suatu personality page.

Beberapa tahun yang lalu kalau kita melakukan pencarian melalui situs pencari paling populer Yahoo.com dengan kata kunci “Islam”, ribuan situs yang menginformasikan Islam akan ditampilkan. Saat ini, bila kita masukkan kata kunci “Islam” yang muncul adalah puluhan bahkan ratusan ribu situs tentang Islam dari yang dikelola dalam skala personal dan amatir sampai situs yang memang dipersiapkan sebagai media dakwah abad-21 seperti yang dikelola oleh islamonline.net sampai azzam.com yang sangat kontroversial karena dituduh Pemerintah AS sebagai situs propaganda Al Qaida. Situs islamonline.net dikelola oleh Dr. Yusuf Qadharawi seorang ulama Internasional yang terkenal dari Mesir.

Representasi dakwah di Internet semakin terakomodir dengan semakin berkembangnya teknologi multimedia melalui World Wide Web (WWW). Sebenarnya, perkembangan teknologi internet yang web enable inilah yang banyak menyokong popularitas Internet sejak awal tahun 90-an yang lalu. Dengan teknologi WWW ini penampilan informasi dan pengetahuan dapat dirancang dalam berbagai format multimedia yang lebih atraktif dan menarik. Tidak cuma teks, namun gambar, suara dan videopun sudah bisa ditampilkan diweb. Tidak Cuma informasi yang pasif namun streaming audio dan video pun sudah bisa dilakukan dengan adanya integrasi teknologi penyiaran radio melalui medium Internet. Sebagai contoh, Radio Al Islam Mesir sudah melakukan streaming audio Al Qur’an dimana suara orang mengaji akan terdengar 24 jam penuh sepanajng hari setiap kali kita mengklik ke ayat yang ingin kita dengarkan (Lihat juga http://www.myquran.com/alquran). Islamicity.com dan islamonline.net menyediakan wawancara eksklusif secara berkala dengan ulama-ulama dan pakar Islam Internasional seperti DR. Yusuf Qaradhawi, John L. Esposito, dan ulama serta pakar Islam lainnya baik untuk menyatakan fatwa maupun untuk menyatakan pendapat keilmuan mengenai suatu masalah. Tidak jarang dilakukan juga obrolan real time (chatting) dengan para pakar dan ulama ini untuk menyikapi berbagai masalah yang muncul di dunia Islam. Tragedi 911 WTC dan serangan AS ke Afghanistan yang baru lalu merupakan contoh topik yang banyak dibincangkan di situs-situs Islam. Tidak jarang munculnya situs-situs Islam ini membuat gerah pemerintah AS. Contohnya, situs azzam.com yang sangat vokal sempat disweeping dan kemudian dituduh oleh AS sebagai situs propaganda Usamah Bin Laden. Di Texas AS suatu perusahaan web hosting (tempat menyewakan ruang server untuk publikasi di Internet) digrebek dan dibredel FBI karena menyediakan tempat untuk sekitar 200 situs Islam yang dituduh berkaitan dengan jaringan terorisme internasional.

Di Indonesia situs-situs Islam mulai marak sekitar awal tahun 1999. Situs myquran.com, al-islam.or.id, laskarjihad.or.id, kisdi.or.id, pesantrenvirtual.com, iiman.co.id, hidayatullah.com, republika.co.id dan banyak lagi yang lainnya mulai menyemarakkan Internet dengan berbagai format sajian. Perkembangannya kemudian semakin pesat di tahun 2000-an dengan masuknya berbagai investasi asing di Indonesia yang berhubungan dengan Internet. Format penampilan pun berbeda-beda bahkan semakin tersegmentasi sesuai dengan kebutuhan yang ada di masyarakat. Myquran.com menampilkan situs komunitas kolaboratif dimana pengunjung situs dapat memanfaatkan berbagai fasilitas yang ada seperti Al Qur’an online, direktori situs islam, forum diskusi, chatroom, berita serta artikel dan berbagai sarana interaktif lainnya yang disumbangkan oleh para pengunjung dan anggotanya. Sasarannya adalah pemakai internet usia 17 sampai 35 tahun yang merupakan segmen pemakai Internet terbesar dewsa ini. Situs pesantrenvirtual.com yang dikelola oleh para santri virtual bimbingan KH. Mustopha Bisri merupakan contoh lain situs Islam yang menyajikan berbagai hasil konsultasi virtual dengan Pengelola Pesantren. Situs ini awalnya merupakan komunitas milis yang kemudian di-online-kan menjadi situs. PadhangMbulan.com merupakan contoh lain situs yang lahir dari komunitas milis yang dikelola oleh Budayawan Emha Aiunun Najib. Cybernasyid.com menyediakan berbagai informasi dan perkembangan nasyid yang mengejutkan dunia seni suara di tanah air. Moslemworld.co.id merupakan contoh situs Islam yang mendapat dukungan dana dari moslemworld.com dari Brunei Darussalam yang menyajikan berbagai referensi dan informasi Islam terkini. Demikian juga pesantren.net, tazkia.com, ukhuwah.or.id, eramuslim.com, pesantren-online.com, islamlib.com, cybernasyid.com, indohalal.com dan banyak lagi yang lainnya yang merupakan representasi dakwah islamiyah baik langsung maupun tidak langsung di Internet. Ini baru menyebutkan beberapa situs Islam saja. Perkembangan yang lebih pesat sebenarnya terjadi di komunitas milis islam yang jumlahnya sekarang ini mencapai ribuan milis Islam dari Indonesia. Kecenderungan yang demikian tentunya menggembirakan bagi dunia Islam.

Sebagai produk teknologi, Internet bisa dikatakan tidak bebas nilai karena teknologi pada dasarnya dibuat untuk membantu memecahkan masalah dan untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. Namun, dari sisi pemakai, baik atau buruk suatu alat sebagai produk teknologi pada akhirnya tergantung pada bagaimana kita menggunakannya dan bagaimana kita melihatnya. Pada akhirnya nilai positif atau negatif produk teknologi akan ditentukan oleh niat dan motivasi yang akan menjadi penentu apakah suatu alat akan menjadi bermanfaat atau mudharat. Disini, diperlukan pendekatan yang terbaik untuk menjelaskan kepada masyarakat mengenai suatu produk teknologi dalam hal ini adalah internet. Utamanya adalah komunitas-komunitas muslim tradisional yang menjadi center of influence masyarakat muslim Indonesia selama beradab-abad. Sejak jaman para wali sampai zaman sekarang ini peran komunitas tradisional dan figur tradisional yang kharismatis sangat signifikan bagi masyarakat Indonesia.

Untuk mengurangi dampak negatif solusi bisa didekati baik secara teknis maupun non teknis. Solusi teknis seperti menggunakan software netnanny, security etc, folterisasi dll. Namun solusi teknis sangat terbatas dan parsial. Perlu pemantauan dan updating yang terus menerus. Dengan pertumbuhan content dan teknologi Internet yang pesat, solusi teknis sebaiknya menjadi suatu pagar yang tujuannya adalah meminimalkan "upaya".

Solusi alternatif lain yang bisa lebih menyeluruh adalah dengan melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai apa itu Internet secara tuntas dan tidak sepotong-sepotong. Sosialisasi kepada masyarakat dalam hal ini sangat berperanan. Tujuannya adalah mengeliminir "keinginan" atau niat buruk dan meningkatkan motivasi positif untuk memanfaatkan Internet. Media massa perlu menggambarkan Internet dengan tuntas bukannya secara parsial mengeksploitasi dari satu sisi. Demikian juga para edukator baik guru, dai maupun ulama perlu lebih terbuka dan tuntas dalam memahami perkembangan teknologi informasi dalam kontek perkembangan zaman dan perkembangan umat untuk mengantisipasi berbagai tantangan yang semakin berat. Para ulama perlu menyikapi perkembangan zaman dalam konteks kekinian bukan menghambat dan menyumbat berbagai perkembangan dalam lamunan masa lalu. Dengan melibatkan berbagai pihak baik pelaku bisnis, pemerintah, organisasi masyarakat Islam, Komunitas tradisional pendidikan Islam, Internet sebagai suatu produk perkembangan zaman bisa disiasati dengan lebih positif dengan tindakan yang lebih produktif untuk meningkatkan kompetitifitas umat.

Tentu saja masalah Internet dengan isu kesenjangan dijital yang diwakili oleh aksesabilitas internet bagi masyarakat cuma masalah kecil dibandingkan masalah-masalah lain yang sedang dihadapi Bangsa Indonesia. Namun, tentunya hal ini tidak menjadikan kita lalai atas perkembangan dan dampaknya yang terjadi diwaktu mendatang. Bagi Umat Islam khususnya, perkembangan teknologi perlu disikapi lebih arif dan smart. Radio, televisi dan sederetan budaya pop barangkali bisa menjadi petunjuk bagaimana suatu perkembangan teknologi dan budaya pada akhirnya berkembang dan susah dibendung hanya karena kita lalai dalam menyikapi implikasinya. Mungkin setengah abad yang lalu kita tidak pernah mengira dampak yang ditimbulkan oleh mereka. Namun, sebagai suatu komunitas umat yang berkembang sesuai zaman, antisipasi teknologi internet tentunya mesti bisa diadopsi dengan lebih positif. Jadi bukan cuma sekedar waspada dan rasa takut yang dibangun, namun kearifanlah yang diperlukan. Kalau tidak, kita Umat Islam akan semakin menjadi buih-buih kecil di ganasnya gelombang perubahan peradaban Umat Manusia.

http://www.stream.plasa.com