Showing posts with label muhasabah. Show all posts
Showing posts with label muhasabah. Show all posts

Tuesday, July 26, 2011

Ramadhan ceria

Ramadhan tiba, Ramadhan tiba...

Lirik lagu Om Opick akhir – akhir ini terus terngiang – ngiang diotak, ya gimana engga hampir tiap hari lagu ini selalu berada di daftar putar winamp. Sengaja beberapa bulan terakhir ini memang ingin mengkondisikan diri untuk membawa aura Ramadhan datang lebih awal, ^_^ maksa. Tapi sebenernya, meski ga dipaksa ramdhan juga bakalan datang kok, minggu depan gitu.

Yap, minggu depan sodara – sodara, Ramadhan sudah diambang pintu. Ups, Btw siapa kah gerangan sih Ramadhan ini, kenapa juga orang – orang musti nunggu – nunggu dengan antusian kehadirannya? Yeee, dia bukan orang kali. Capek Deh! ^_^’.

Baca Selengkapnya ...

Wednesday, October 20, 2010

Adek Iqbal Ga Nakal Kok



Sepertinya tidak ada habisnya bila bercerita tentangnya. Selalu saja ada hal – hal yang mengejutkan bagi kami yang berada didekatnya. Hal – hal kecil namun mampu membuat kami terpana, terpesona olehnya.

Tingkah polanya sering membuat kami betah berada lama – lama bersamanya. Aku sendiri bahkan merasa nyaman berada bersamanya, mengajaknya jalan – jalan berpetualang disiang hari yang panas, menyusuri jalan setapak ditepi sawah. Menghabiskan semangkuk mie ayam dan segelas es teh berdua. Energinya seperti tak kenal lelah, Kau berbicara tanpa henti, bergerak kesana kemari.

Sayangnya beberapa orang sering mencapnya “NAKAL” tak sadar kah mereka bahwa sebutan itu dapat menjadi doa, seolah mendoakan adik kecil kami yang aktif ini menjadi nakal. Mendengar hal itu dalam hati ku ucap doa ‘Rabbi, mohon jangan kabulkan doa orang ini, sayangi dan jagalah adik Iqbal kami agar selalu berada dalam lindungan Mu, Amien...’.

Baca Selengkapnya ...

Sunday, September 5, 2010

Mengenang Yu Yuan





Gadis kecil duduk meringkuk kedinginan.

Ingatannya berputar – putar seperti slide show yang diputar berulang – ulang pada episode sore itu di sebuah ruangan putih besar, berderet rancang – ranjang besi, diatasnya terbaring orang – orang dengan wajah lemah tak berdaya.

Selang plastik menggantung diatas menyalurkan tetes – tetes bening dari botol infus ke jarum tajam menghujam di lengan, meninggalkan bekas tusukan – tusukan menyakitkan.

Ayahnya duduk diatas ranjang membelai sayang rambutnya yang kusam, seminggu tak keramas. Tangan satunya menggenggam tangan gadis kecil lemah tak berdaya terkulai diatas ranjang.

“Sakit nduk?”

Yang ditanya hanya menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum menunjukkan deretan mungil berwarna putih pucat, berharap sang ayah percaya bahwa ia tak merasakan sakit sedikitpun. Namun senyumnya malah membuat sejumput air tumpah dari mata sang ayah.


“Ayah, akan berusaha lebih giat agak kamu mendapatkan pengobatan terbaik” ucapnya dengan penekanan

“Ayah, Yuan sudah tidak sakit lagi”

“Kita pulang saja”

Sang ayah menggeleng tanda tidak setuju atas permintaan sang anak.

“Kamu boleh pulang kalau kamu sudah sembuh, ayah sedang berusaha nak”

“Ayah, jangan berkorban untuk ku,aku hanya anak yang kau pungut di tepi jalan, aku tidak berharga, orang tuaku saja tak menginginkan ku” pinta gadis kecil itu pada sang ayah.

Tentu saja permintaan itu tidak diiyakan oleh sang ayah.

“Siapa yang bilang kau tidak berharga anak ku sayang, kau anak yang baik, penurut pintar”

“Bukan kah kau ingin jadi dokter?”

“Jadi kau harus sembuh”

“Tapi Ayah...” gadis kecil itu tak bisa melanjutkan kalimatnya, sebuah cairang hangat keluar dari hidungnya. Merah pekat.

Sang ayah sigap mengambil tisyu gulung diatas meja dan membersihkan aliran darah yang keluar dari hidung putri kecilnya.

‘Tuhan, ia hanya gadis kecil yang baru berumur 8 tahun, mengapa ia harus mengalami penderitaan seberat ini’ gumannya dalam hati.

Gadis kecil duduk meringkuk diantara tumpukan kardus .

‘Ayah aku ingin mati’

Malam itu didalam kamarnya ia mendekap hidungnya yang terus mengeluarkan darah, dibalik tembok ia mendengar Istri ayahnya sedang marah.

“Apa lagi yang mau kau jual?”

“Televisi, Kulkas, perabot rumah sudah habis”

“Perhiasan ku pun menjadi korban anak pungutmu itu”

“Apa kau ingin menjual ku juga, hah?” wanita itu duduk membelakangi laki – laki berkemeja kotak kotak yang sedang menggenggam sebuah buku kecil tipis berwarna biru. Angka terakhir menunjukkan Rp. 52.399,-

“Astaghfirullah Bu, nyebut, Istighfar”

“Jangan keras – keras, Anak kita ada dikamar sebelah” kata laki – laki itu lirih, berharap sang gadis yang dimaksud sudah tidur.

“Biar dia dengar semua, biar dia tau kalau penyekit sialan itu sudah membuat kita miskin, tak punya apa – apa”

“Biar dia tahu diri, biar dia pergi minta duit sama orang tua kandungnya”

Di ruangan yang hanya terhalang tembok, gadis itu menangis dalam diam, cairan merah pekat itu tak jua berhenti mengalir, berlomba keluar dengan iar matanya. Ia tertidur dalam kesakitan.

Istri ayahnya mebawanya pulang setelah membayar biaya pengobatannya dengan uang pinjaman. Meskipun dokter malarangnya pulang.

Ia tak keberatan pulang, ia memilih menuruti kata – kata istri ayahnya. Ia tak ingin menjadi beban untuk ayahnya, sakit yang ia rasakan menjadi semakin sakit katika melihat wajah segar ayahnya dulu kini berubah menjadi kurustak terurus. Ia tak ingin ayahnya benar- benar ditinggalkan istrinya karena dia.

Gadis kecil itu tak lagi duduk meringkuk, melainkan sudah terkapar tak berdaya diatas tumpukan kardus.

Sang ayah kebingungan berlari kesana kemari mencari anaknya dibawah titik – titik air yang turun semakin deras.

Selembar photo didalam plastik bening ia tunjukan pada setiap orang yang ia temui, berharap mereka tahu keberadaan gadis kecil yang tersenyum lebar dalam photo. Dibalik photo iku tertulis sebuah pesan.


“Ayah, jangan kuatir aku akan baik – baik saja,
Ayah, maafin aku yang buat ayah sedih,
Aku tidak mau melihat ayah sedih lagi,
Ayah...
Aku sayang sama ayah”


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Mengenang Yu Yuan
Aku pernah datang dan aku sangat penurut”



Suci
Wonoayu, 6 Septembar 2010 11.17

Baca Selengkapnya ...

Thursday, September 2, 2010

INGIN KU...



“Aku ingin mencintaimu dalam diam seperti cintanya Ali pada Fatimah dan cintanya Fatimah kepada Ali”

Aih...........

Ungkapan diatas membuatku melayang ke masa yang masih tertutup tabir. Kemana cinta ku akan ku labuhkan. ^_^

Aku ingin dicintai seperti Muhammad mencintai Khadijah, aku ingin dicintai selayaknya Ali mencintai Fatimah. Cinta yang tak terbagi. Egois yap? Masa bodo namanya juga ingin.


Tapi keinginan itu membuatku menatap diri ku, apakah aku sehangat Khadijah yang Muhammad merasa nyaman berada didekatnya. Apakah aku setangguh Fatimah hingga Ali begitu setia padanya?

Tidak sama sekali, aku tak sehangat khadijah ataupun setangguh fatimah. Tapi inilah aku, hanya seorang wanita biasa yang hidup dengan biasa, tak ada yang luar biasa pada diriku.

Kadang hal itu membuatku berfikir, apa ada keistimewaan pada diriku hingga berani menginginkan cinta seperti Muhammad dan Ali?

Tidak ada, kutegaskan lagi, tidak ada yang istimewa pada diriku, tidak ada yang luar biasa di dalam diri ini. Hanya seorang perempuan biasa, tidak lebih.

Tapi...

Kalau hanya ingin boleh dunk, toh hanya ingin. ^_^

Aku sendiri juga ga tau, apa cinta seperti itu yang ku butuhkan, karena apa yang indah dimata ku belum tentu baik untuk ku, sebaliknya apa yang terlihat tidak menyenangkan belum tentu tidak menggembirakan ku.

Dia lah Yang Maha Mengetahui apa yang dibutuhkan makhluk-Nya, termasuk apa yang baik untuk ku.

Aku hanya berharap yang terbaik, dan berusaha memperbaiki diri. Tentu tak lupa menyerahkan semua urusan ini pada Nya Sang Pembolak – Balik hati. Bukan begitu? ^_^

Semoga tabir ini segera terbuka. Amien....

^_^



Suci

Wonoayu, 3 September 2010 11.41

Baca Selengkapnya ...

DIAM




“Aku ingin mencintaimu dalam diam seperti cintanya Ali pada Fatimah dan cintanya Fatimah kepada Ali”

Sebuah ungkapan yang indah.

Mengingatkan aku pada seseorang, ia pernah berkata padaku

“Belajarlah berkomunikasi”


Ia mengatakan hal itu karena aku kerap kali diam, ketika ditelphone, dalam ym ketika ia menyapa ku bahkan bila kami bertemu.

Sampai akhirnya (mungkin) ia sudah berhenti berusaha membuatku berbicara, mengatakan apa yang ada dikepalaku.

Diam, adalah salah satu pilihan dalam hidup ku, ketika aku marah, atau ketika memang tak ada yang perlu dikatakan. Ada kalanya begitu banyak yang ingin diungkapkan, namun akan lebih baik bila hal itu tak perlu diungkapkan.

Ya, memang banyak hal yang bila diungkapkan hanya akan membawa luka, menjadi hal yang sia – sia.

Maka biarkan aku tetap dalam pilihan ku. DIAM.

Dan inilah caraku berkomunikasi, dengan ini ku harap tak banyak yang akan tersakiti oleh lidah tajam ini, dan semakin berkurang kesia-siaan yang keluar dari mulut ini.


Maka, berkatalah yang baik atau DIAM.


Suci

Wonoayu, 3 September 2010 10.51

Baca Selengkapnya ...

Thursday, December 17, 2009

Muhasabah Dodol Mbak Icus ^_^



Setelah baca catatannya mbak Wulan di milis menggugah niat ku untuk menulis kembali. Setelah diingat-ingat rasanya sudah lamaaaaaaaaa sekali diri ku tidak membuat resolusi tahun baru (ya iyalah gmana ga males, kalo akhirnya resolusi hanya jadi resolusi, kalo tahun baru udah lewat sebulan, lupa ama resolusinya ) tapi sebelum itu muhasabah dulu deh ye... Muhasabanya dimulai dari hilangnya kebiasaaan - kebiasaan baik yang dulu sempat ku punya dan hampir membuat teman - teman ku ngiri abis.

Puasa sunnah yang dlu adalah ibadah yang hampir tak pernah absen minimal dua hari sebulan kini hampir blas, paling sekali-sekali kalo pas pengeeeeeeeen banget, baru deh puasa. Qiyamul lail, beh ini lagi. sejak kuliah tahun kedua knapa dirikyu mulai ancur-ancuran yach??? usut punya usut, itu karena sejak tahun kedua kuliah aku udah ga ngaji lagi alias absen halaqah.

Sebenernya sih abis lebaran idul fitri kemaren udah dapet tempat ngaji di perumahan tempatnya ummu Faris, tapi...... sayang seribu sayang waktunya bentrok ama jam kantor, secara hari jumat, akhir minggu kerjaan seolah ga pernah ada habisnya dan ga bisa ditinggal dengan alasan URGENT!!!!! jadilah aku hanya smepet datang dihari pembukaan liqa, dan sudah hampir dua bulan absen lagi.... Maap ya Mom....

Oh ya, dlu aku pernah punya impian membuat perpustakaan mini dirumah, akhirnya untuk merealisasikan mimpi itu, aku membuat janji pada diriku, bahwa bila aku sudah bekerja nanti (ceritanya obsesi ini terjadi pada waktu masih nganggur dan kerjaannya dirumah baca buku, hasil minjem di perpustakaan Daerah Sidoarjo) setiap bulan aku musti beli buku minimal satu buku. akhirnya sih iya setiap bulan pasti beli buku tapi ya itu, setahun kok ya buku ku kok masih segitu aja, padahal kalo duit masih sisa di akhir bulan pasti dibeliin buku, jadilah kadang sebulan beli tiga buku... Ternyata sodara-sodara beberapa buku ku emang tidak kembali setelah di pinjem teman-teman ku.

Nah cerita itu juga berawal dari mimpi ku yang laen... Secara sebagai muslim punya kewajiban untuk berdakwah, sedangkan diriku sadar bahwa aku orangnya tidak pandai berbicara dan tawaran untuk ngisi liqa di skul ku tolak mentah-mentah karena aku tidak berani ( ga kuat tanggung jawabnya bo... ). Akhirnya aku menemukan cara yang lebih oke (menurut ku sih :-D :-P). Berdakwah dengan meminjamkan buku-buku islam. Namun ternyata.... buku-buku ku banyak yang hilang tanpa jejak, tapi berhubung niatnya dakwah, ya di ikhlasin aja, selama yg minjem bilang terus terang kalo bukunya ilang, lupa karena dipinjemin lagi ato apalah, yang peling sebel dan susah buat maapinya itu gara-gara udah buku ga balik ga minta maap, bilang balikin minggu depan, minggu depannya bilang minggu depannya lagi. di datengin kerumahnya, minta tlg temen yg rumahnya deket eh malah yg temen yg nolongin ngingetin malah di marah-marahain gila khan tuh anak. mana udah tak telpon berkali-kali malah nyodorin ke kakaknya buat jawab, aku di omelin lagi.
ampun deh sama anak yang atu ini. malah bikin ati tambah sakit, udahlah kuserahkan semua urusan ku dengan anak ini sama Allah aja, terserah yang pasti aku sama sekali tidak terima sama perlakuannya pada teman ku. fuih...

Eit, urusan buku belum selesai sampe disini, karena mimpi ku harus ku rem saat mulai kuliah. yupz budged beli bukunya terpaksa dipangkas bahkan nyaris hilang dilaihkan untuk urusan kuliah, mulai dari potokopy, ekstra bensin, seminar (yang ini bo'ong soalnya suci jarang-jarang mau ikut seminar kalo disuruh bayar, akhirnya milih jadi panitia biar g disuruh bayar, meskipun resikonya g konsen pas seminar karena sering diganggu tetek bengek keuangan alias urusan bayar - menbayar, ya iyalah org suci kebagian jadi bendahara). Nah berhubung ga ada yg dirubung (hua...ha...ha.... kalimat ini lama tak terdengar, ini biasa kudengar saat masih aktip di Sanggar Pramuka Dewa Ruci-Dewi Kunthi alias Dewa-dewi Perkapalan) kuliah udah selese, program sebulan minimal sebuku bisa dilaksanakan lagi, SIAP..... GRAAAAAKKKK....

Abis itu.... kebiasaan selanjutnya apa ya.... Bukan oey, bukan kebiasaan, tapi urusan masak-memasak, dlu sempet belajar masak, tapi belajarnya sama mami dan kakak, tapi lagi, lagi dan lagi setelah kesibukan baru dikampus dengan aktifitas organisasi segudang dan pindah kerja di perusahaan yang baru ini jadi ogah ke dapur kecuali terpaksa karena perut keroncongan tengah malam dan tak ada lauk yang bisa dimakan, itupun hanya buat omlet, nasi goreng dan mie instan atau ketika lagi ngidam (istilah kakak iparku, katanya aku kayak ibu hamil yg lagi ngidam kalo lagi pengen makanan, abis yg di pengen makanan yg aku pengen termasuk susah di cari) bubur sumsum, puding, kacang ijo ato makanan lain baru aku turun ke dapur.

Ya di penghujung tahun ini, aku ingin lebih baik lagi Menjadi hamba Allah, manjadi umat Rasulullah yang lebih taat, jadi anak yang lebih berbakti, menjadi adik dan kakak yang lebih sayang, ngerti dan peka akan kesulitan saudaraku. menjadi muslimah yang lebih shalihah.
Aku akan berusaha lebih banyak bersedekah, lebih banyak senyum, mengurangi kata-kata ketus, pedas, mengurangi sifat dominanku meski yang ini sepertinya susah. ^_^

SO, SUCIYATININGTIYAS... Besok tahun akan berganti, meski besok (Insya Alla) kamu tetap akan bertemu dengan mentari yang sama, orang sama, rumah yang sama, dan negara yang sama ruwetnya dengan hari ini, Kamu harus memancarkan energi baru, energi positif. Energi untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Bismillah, dengan nama-Nya lah engkau akan memulai hari yang sama besok dengan semangat baru...


30 Dhulhijjah 1430
17 Desember 2009


Suci

Baca Selengkapnya ...

Thursday, July 2, 2009

Seni Ketika Marah




Oleh Yon's Revolta

Orang kuat itu bukan orang yang badannya besar dan kekar.
Orang kuat adalah orang yang bisa menahan amarahnya.

Bagi seorang muslim, tentu sudah akrab dengan kata-kata diatas. Siapapun kita, bisa belajar untuk menjadi orang yang kuat dengan mencoba untuk bisa menahan amarah setiap kali ada perasaan yang membuat kita jengkel atau kecewa. Menang, amarah itu manusiawi, kerap kita mengalaminya. Hanya saja, kita perlu mengelola dan mengendalikan amarah kita agar tidak terlalu membuncah. Mengapa..? karena dengan "hobi" marahnya kita, justru akan membuat citra yang buruk tentang diri kita. Mana ada pemarah menjadi idola, atau sosok yang menyenangkan. Dimana-mana seorang pemarah itu dibenci oleh orang-orang disekitarnya. Bahkan kerap dicap sebagai biangkerok dan pengacau.



Menyoal tentang marah,

Tadi siang saya punya pengalaman menyaksikan pemandangan itu.

Sewaktu saya akan pergi ke warnet, saya melewati sebuah rumah yang dijadikan tempat loundry pakaian. Tepatnya berdekatan dengan lapangan Grendeng Kampus Unsoed Purwokerto. Rumah yang depannya mengalir sungai kecil. Seorang perempuan mengendarai sepeda motor menuju rumah itu. Disana ada seorang lelaki yang hanya mengenakan celana kolor saja, sedang nongkrong didepan rumah. Saat perempuan itu sampai tepat di depan rumah, tiba-tiba lelaki itu melemparkan sandalnya. Hampir saja mengenai muka perempuan itu. Rupanya perempuan itu berhasil mengelak. Tapi perempuan itu hanya diam, lalu masuk rumah. Lelaki itu mengejar masuk dan membanting ember yang ada didepannya. Melihat pemandangan itu, saya hanya bisa mengelus dada dan bergumam pelan "astaghfirulllahaladhim".

Entah, apa masalah keduanya,
Yang pasti, melihat orang marah itu, sebuah pemandangan yang tak mengasyikkan.



Hemm, kok sampai begitu ya. Setiap orang mungkin pernah marah. Hanya saja model marahnya itu berbeda-beda. Ada yang meluapkan amarahnya dengan meledak-ledak, mengungkapkan kata-kata kasar sambil melempar dan membanting sesuatu, atau ada yang meluapkan amarahnya cukup dengan sikap diam saja.

Satu hal yang pasti, dalam ilmu kesehatan, marah itu bisa mengundang dan mudah terkena penyakit. Di dalam darah orang yang sedang marah terkandung banyak hormon adrenalin, hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal ini akan dilepaskan ke dalam darah ketika ada rangsangan emosi. Akibatnya adalah denyut jantung akan bertambah cepat dan tekanan darah meninggi, keadaan ini yang mengakibatkan penyakit mudah datang. Ini sedikit efek marah yang saya ketahui dari beberapa bacaan kesehatan.

Nah, untuk itulah, ketika terpaksa harus marah, gunakanlah seni.
Mainkan seninya agar kita terhindar dari efek yang negatif tersebut.

Saya sendiri pernah marah secara meledak-ledak. Tapi, menurut pengalaman saya, marah yang meledak-ledak itu kadang memang lebih banyak berdampak buruk. Bagi diri kita, dari sisi psikologis, tentu mempertaruhkan citra akan kepribadian yang jelek Bagi orang lain, jelas, ketika meluapkan amarah terlalu berlebihan, seringkali begitu menyakitkan bahkan berujung pada dendam. Kadang dendam ini juga menjadi awal bagi orang lain untuk melakukan pembalasan. Banyak kan kita baca disurat kabar atau berita televisi, ada orang yang melakukan pembunuhan atas dasar dendam karena pernah disakiti.

Makanya, kalau terpaksa marah, sekedarnya saja. Saya sendiri berusaha memilih diam ketika sedang marah kepada seseorang. Kalau ada teman yang saya diamkan, kadang bertanya sesuatu saya cuekin saja, itu tandanya saya sedang marah. Dan ternyata, ini seni marah yang jitu. Kadang teman saya pelan-pelan mengerti maksud sikap saya melakukan itu. Kalau diluapkan secara berlebih, kadang malah membuat suasana menjadi rumit, ribet dan panas. Ah, semoga saja kita semua bisa belajar mulai dari sekarang untuk bisa mengelola amarah agar bisa menjadi seorang muslim yang kuat.

Baca Selengkapnya ...

Tuesday, June 24, 2008

Bertanya Pada Diri Sendiri


Wahai diriku, apa kabarmu hari ini? Adakah engkau dalam keadaan sehat lahir dan batin? Masihkah senyum manis menghiasi bibirmu? Masihkah langkah hidup terasa ringan engkau ayunkan atau malah terasa berat sekali? Masihkah engkau bergegas untuk menjawab panggilan-Nya disaat adzan berkumandang? Adakah perasaan malas dan menunda mulai hinggap di hatimu untuk berbuat kebaikan? Masihkah ucapan istighfar sebagai rasa sesal membasahi bibirmu, untuk setiap ucapan yang nista, pandangan mata yang tak seharusnya, serta bisikan jahat pada hatimu yang akhirnya engkau lahirkan dalam wujud perbuatan?


Saudaraku,
Terkadang, kita terlalu sibuk dengan dunia di luar diri kita. Kita begitu bersemangat membuat banyak perubahan untuk lingkungan sekitar kita. Kita bersemangat untuk menutupi setiap kekurangan yang tampak di hadapan, serta bersemangat menjadikan segala sesuatu di luar diri kita tampak lebih baik dari hari ke hari. Namun, tanpa disadari, kita lupa bertanya pada diri sendiri. Kita lupa untuk senantiasa melihat setiap perubahan kecenderungan yang singgah pada diri kita.
Kita lupa untuk memperbaiki dan menutupi banyaknya kekurangan dan aib-aib diri kita. Dalam setiap pertambahan waktu dan umur, dalam banyak pergaulan dan interaksi yang terjadi, tak dipungkiri pasti terdapat perubahan-perubahan dalam kecenderungan diri kita. Mungkin, aktifitas yang kita geluti dari hari ke hari tanpa disadari sudah memakan kesadaran kita untuk terus waspada serta berjalan dalam rambu-rambu ketaatan dan keistiqomahan menjaga keimanan dari bisikan-bisikan halus kelalaian.
Mungkin saja diri kita yang dulunya begitu kuat untuk memegang prinsip-prinsip yang mulia dalam hidup, mulai goyah dan terbawa arus setelah berbaur dengan beragam karakter dan kebiasaan. Adakah kita senantiasa bertanya pada diri sendiri, sebesar apakah kedukaan kita saat berlalunya kesempatan untuk berbuat taat yang hanya kita biarkan dan habiskan dalam kesia-siaan perbuatan? Atau malah diri kita tidak berduka sama sekali?
Adakah kita senantiasa bertanya dan menuntut pada diri, perbuatan baik apa saja yang akan dan telah kita persembahkan pada hari ini? Padahal kesempatan itu tidak datang dua kali dan terkadang hanya berlaku sekali. Hari yang kita jumpai saat ini dengan segala ragam keadaannya tak akan kembali terulang untuk esok, sedangkan kita tak pernah tahu, apakah esok kita masih sehat dan mampu berbuat, atau bahkan tidak akan lagi menjumpainya.
Saudaraku,
Bertanya pada diri sendiri atas banyak hal yang mesti diperbaiki adalah sebuah kebutuhan yang sudah seharusnya dilakukan. Menjadi Waspada atas banyak kecenderungan-kecenderungan diri yang melalaikan merupakan suatu hal yang menjadi kebutuhan dasar untuk tetap menjaga langgengnya iman. Mampukah kita melakukan perubahan dan perbaikan, jika kita tidak pernah bertanya hal apa yang mesti kita rubah dan perbaiki? Mampukah kita melihat kelemahan dan kekurangan, jika diri tetap tidak mau peduli dan introspeksi serta selalu saja merasa sempurna dan tiada cela?
Diambil dari : blog sebuah perenungan

Baca Selengkapnya ...