Showing posts with label indonesiaku. Show all posts
Showing posts with label indonesiaku. Show all posts

Wednesday, May 28, 2008

Kezaliman Tak Berujung...

Zalim! Tidak memiliki hati nurani! Inilah gambaran yang tepat untuk Pemerintah ketika mengeluarkan kebijakan menaikkan harga BBM. Pemerintah resmi mengumumkan kenaikan BBM rata-rata 28,7%, Jumat (23/05/2008), jam 22:15 WIB, yang disampaikan oleh Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro, dengan didampingi sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu.
Dampak dari kenaikan BBM ini tidak perlu diperdebatkan lagi. Pemerintah memang mengklaim, bahwa lebih baik menaikkan harga BBM yang nantinya akan menurunkan angka kemiskinan karena dibarengi dengan program bantuan langsung tunai (BLT) plus. Namun, ini adalah sebuah kebohongan! Mengapa? Sudah banyak pengamat menyatakan --dan masyarakat juga sudah merasakan secara langsung-- bahwa kenaikkan BBM berdampak pada kenaikan harga semua barang dan jasa. Itu adalah sebuah keniscayaan. Artinya, kenaikan BBM akan menambah jumlah orang miskin. Sebabnya, daya beli masyarakat cenderung menurun, sementara harga-harga barang dan jasa langsung meroket naik.
Pantauan Beritajakarta.com, Senin (26/5) pagi, di beberapa pasar tradisional di Jakarta Selatan, para pedagang langsung menaikkan harga begitu Pemerintah mengumumkan kenaikan BBM. Seperti yang terjadi pada pasar tradisional di Kelurahan Pasar Minggu, Kebayoran Baru, dan Kebayoran Lama. Harga telur ayam yang biasanya dijual seharga Rp 11.500 menjadi Rp 13.000 perkilo. Harga kebutuhan seperti minyak goreng, gula pasir, dan kacang tanah pun naik antara Rp 1.000-Rp 3.000 perkilo.
Untuk harga beras, kenaikan sekitar Rp 500 perkilo. Beras jenis biasa yang sebelumnya dijual seharga Rp 3.500, misalnya, menjadi Rp 4.000 perkilo; jenis super dari Rp 5.500 menjadi Rp 6.000 perkilo. Daging sapi yang semula Rp 47 ribu menjadi Rp 60 ribu perkilo. Kondisi ini terjadi di hampir semua daerah di Indonesia.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) berimbas juga pada harga gas elpiji. Di Solo, Jawa Tengah, Senin (26/5), misalnya, saat ini harga elpiji ukuran 15 kilogram menjadi Rp 56 ribu hingga Rp 57 ribu, atau naik Rp 1000 hingga Rp 2000. Bahkan di tingkat pengecer harga elpiji bisa mencapai lebih dari Rp 58 ribu. Sebelumnya, gas elpiji berukuran 15 kilogram dijual pada kisaran Rp 55 ribu. (Liputan6.com, 26/05/2008).
Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Jabar-Banten, Didi Turmudzi, yang juga Rektor Universitas Pasundan (Unpas), mengatakan kenaikan harga BBM pasti memiliki pengaruh terhadap 432 PTS di Jabar-Banten pada tahun ajaran mendatang. Sebabnya, biaya sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP) akan disesuaikan (dinaikkan) dibandingkan dengan tahun lalu. Tentu saja kenaikan biaya SPP akan berdampak pada turunnya jumlah mahasiswa pada tahun ajaran yang akan datang. Bahkan pada tahun sebelumnya, jumlah mahasiswa sudah berkurang antara 30-40 persen. "Saya memprediksi pada tahun ajaran nanti akan terjadi pengurangan jumlah mahasiswa baru sebesar 40 persen. Ini karena kekuatan ekonomi yang semakin lemah," paparnya. (Okezone, 26/5/2008). Walhasil, pendidikan tinggi, bisa dipastikan hanya milik orang yang berduit saja. Rakyat miskin ‘tidak berhak’ untuk pandai.
Biaya tranportasi ikut-ikutan naik. Buruh pun terancam PHK massal, karena beban berat para pengusaha, dll. Jika sebelumnya, seolah-oleh pengusaha mendukung kenaikan BBM, ternyata mereka adalah para kroni penguasa. Dengan kata lain, mereka tidak mewakili para pengusaha yang sesungguhnya. Karena jelas, pengusahalah pihak yang juga terkena dampak langsung dari kenaikan BBM ini.

Klaim Bohong Pemerintah
Pemerintah tampaknya tidak mau tahu. Mereka sudah buta mata, buta telinga, dan —yang paling menyedihkan— buta nurani. Berbagai cara dilakukan Pemerintah yang tak bernurani ini untuk menenangkan masyarakat. Senjata utamanya adalah subsidi langsung. Pemerintah mengklaim, sudah saatnya Pemerintah memberikan subsidi langsung kepada orang, bukan pada barang yang lebih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Jelas, ini adalah kebohongan lain!
Pemerintah kemudian membagi-bagikan uang sebesar Rp 100.000 perbulan plus beras raskin. Apakah ini menyelesaikan persoalan? Tentu tidak! Rp 100.000 perbulan untuk satu keluarga (yang berarti Rp 3000 perhari) tentu tidak akan pernah cukup, mengingat biaya hidup meningkat berlipat-lipat. Uang tersebut untuk sekadar menyambung hidup saja jauh api dari panggang. Apalagi untuk memenuhi transportasi, pendidikan, kesehatan, dll yang layak. Ini seperti sebuah mimpi di siang bolong. Prof. Ryas Rasyid menggambarkan, program BLT adalah program ‘penggembira’. Ibarat anak kecil yang dihajar habis-habisan sampai babak belur, supaya tidak menangis, dia diberi permen. Rakyat akan semakin menderita. Untuk membujuk rakyat, mereka diberi Rp 3000 perhari.
Walhasil, kebijakan menaikkan BBM ini merupakan upaya sistematis untuk ‘membunuh’ rakyat. Dengan kebijakan ini, akan semakin banyak rakyat yang meregang nyawa karena kemiskinan; akan semakin banyak anak-anak yang sakit karena orangtuanya tidak mampu memberikan gizi yang baik; akan semakin banyak pula orang miskin yang sulit ke rumah sakit karena biaya rumah sakit yang semakin tidak terjangkau oleh mereka. Yang jelas, warga miskin akan selalu berkutat dalam benang-kusut kemiskinannya, karena akses untuk ‘memperbaiki diri’ telah tertutup rapat-rapat akibat kenaikan harga-harga. Terjadilah kemiskinan absolut dan turun-temurun. Ini bukan masalah main-main. Ini adalah tindakan pembunuhan terhadap rakyat yang termasuk dosa besar. (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 93).

Pemerintah Tunduk Pada Arahan Asing
Pertanyaannya, mengapa Pemerintah tega mengeluarkan kebijakan zalim seperti ini? Tidak lain demi mematuhi arahan dari tangan-tangan Kapitalis penjajah. Ini bisa dilihat dari pujian yang disampaikan oleh Bank Dunia kepada Pemerintah Indonesia. Bank Dunia menyatakan, bahwa Indonesia telah berhasil mereformasi anggaran dan mengarahkan ekonomi ke jalan yang benar. (MetroTV, 26/5/2008, pukul 11.20). Pujian ini jelas merupakan tekanan dari asing kepada Indonesia. Pertanyaannya, ‘jalan yang benar’ untuk siapa? Untuk kepentingan rakyat ataukah untuk kepentingan penjajah? Jelas, kebijakan menaikkan BBM ini adalah kebijakan yang tidak pro-rakyat dan sarat dengan intervensi asing (penjajah). Ini dipertegas oleh ekonom Ichsanuddin Noorsy yang mengatakan, bahwa kebijakan menaikkan BBM adalah rekomendasi dari Bank Dunia. (TVOne, 26/5/2008).
Jauh-jauh hari, negara-negara penjajah itu, melalui IMF telah memaksa Pemerintah untuk melakukan kebijakan ‘lacur’ dalam sektor energi primer. Pemerintah meliberalisasi sektor energi primer, termasuk migas. Seperti yang diungkap Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM), Revrisond Baswir, kepada Tempo Interaktif (2/10/2005), kenaikan harga BBM tersebut hanyalah bagian dari target liberalisasi sektor migas yang akan melepas harga minyak dalam negeri ke pasar dunia. “Kenaikan ini hanya sebagian saja dari proses menuju liberalisasi tadi dan Pemerintah selangkah lagi dalam agenda tersebut,” kata Baswir.
Ia juga memperkirakan, Pemerintah masih akan menaikkan harga BBM, karena harga yang sekarang pun masih di bawah harga pasar. Menurutnya, Pertamina sudah akan kehilangan izin PSO (public service obligation)-nya. Akhirnya, di sektor hilir migas di Indonesia akan masuk pengecer BBM lainnya seperti Exxon, Caltex, dan sebagainya.
Ini malapetaka. Kita kaya minyak. Namun, saat harga minyak mentah dunia melambung tinggi, yang menikmatinya justru kaum Kapitalis penjajah dan komprador mereka. Rakyat Indonesia berdarah-darah, dan semakin menderita. Sebabnya, 90% kilang-kilang minyak Indonesia dikuasai oleh asing.

Wahai Kaum Muslim:
Kebijakan Pemerintah menaikkan harga BBM harus kita tolak! Ini adalah kebijakan yang zalim dan akan semakin menyengsarakan rakyat. Kenaikan terbukti telah memicu naiknya harga semua barang dan jasa, yang artinya menambah penderitaan rakyat yang selama krisis memang sudah semakin menderita. Dana kompensasi berupa BLT Plus yang akan diberikan tidak akan mencukupi untuk mengganti penderitaan rakyat banyak akibat kenaikan BBM itu.
Cara yang ditempuh Pemerintah bukan cara yang tepat. Banyak langkah yang disarankan para pakar, tetapi tidak didengar Pemerintah. Keputusan Pemerintah lebih pada upaya liberalisasi minyak. Ini jelas untuk membuka peluang bagi pihak penjajah yang hendak menguasai sektor hilir, setelah selama ini menguasai 90% sektor hulu. Untuk itulah, kita harus berupaya mengambil kembali kekayaan di sektor energi ini khususnya, termasuk migas, dan mengembalikan kepemilikannya kepada ’pemilik’-nya yang sah, yakni umat.

Wahai Kaum Muslim:
Kenaikan BBM, kelangkaan sembako dan kesulitan hidup yang dialami oleh rakyat saat ini adalah dampak diterapkannya Kapitalisme-sekular, baik dalam bidang ekonomi maupun politik. Karena itu, sudah saatnya sistem Kapitalisme-Sekular yang selama ini mencengkeram Indonesia dan menimbulkan kesengsaraan rakyat banyak harus segera ditinggalkan. Penggantinya adalah Islam. Allah SWT berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
Siapa saja yang berpaling dari peringatan (syariah)-Ku, maka sesungguhnya dia berhak mendapatkan kehidupan yang sempit. (QS Thaha [20]: 124).

Untuk itu, seluruh rakyat Indonesia, termasuk para pejabat dan para wakil rakyat, hendaknya menyadari, bahwa negeri ini tidaklah akan bisa keluar dari krisis yang membelenggunya, dan tidak akan mampu membebaskan diri dari segala kelemahannya, kecuali jika di negeri ini diterapkan syariah Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah Rasyidah. Jika tidak, selamanya negeri ini akan terus didera kesulitan demi kesulitan serta tetap dikuasai oleh penguasa yang zalim.
Untuk itu pula, janganlah sekali-kali kita mempercayai penguasa zalim, yang tunduk pada penjajah, dan menyengsarakan rakyat. Kami mengingatkan doa Nabi kepada mereka:

«اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ»
Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu dia membebani mereka, maka bebanilah dia! (HR Muslim dan Ahmad).[]

Baca Selengkapnya ...

Tuesday, May 27, 2008

Indonesia PASTI Bisa

Bismillahirrahmanirrahim

*Insya Allah Indonesia Bisa........*

Oleh: Fauzi Nugroho

Selama dua jam pemirsa TV disuguhi tontonan langsung peringatan "Hari Kebangkitan Nasional". Peringatan yang bertema "Indonesia Bisa", menjadi momen menghidupkan kembali semangat kebangsaan setelah seratus tahun berlalu. Di tengah kontroversi seputar tanggal peringatan, dan seabreg permasalah yang merundung bangsa. Acara kolosal yang dikemas dalam paduan tari, suara serta atraksi lainnya cukup menggelorakan spirit kebangsaan. Seakan seluruh elemen bangsa menuju titik yang satu, yaitu Nasionalisme. Stadion Gelora Bung Karno menjadi saksi munculnya kesadaran anak negeri untuk bangkit dari keterpuruan yang melanda pertiwi.


Betapa tidak!. Di tengah isu kenaikan harga BBM yang mengundang aksi demonstrasi masa di sana-sini. Kekhawatiran banyak pihak akan susulan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Penolakan sebagian daerah atas rencana pemerintah mengalokasikan subsidi BBM dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT). Kegagalan Tim Piala Thomas dan Uber Cup memboyong kembali lambang supremasi Bulutangkis dunia. Menipisnya kebanggaan sebagai anak negeri, dan melunturnya rasa senasib sepenanggungan. Serta masalah-masalah lain yang kini melilit negeri. Namun malam itu, Merah Putih sempat bersemayam di dada kita, dan menimbulkan kecintaan terhadap negeri.

*Founding Fathers* telah sepakat bahwa perbedaan yang dimiliki bangsa ini adalah sebuah keniscayaan, dan hal itu adalah rahmat untuk bangsa ini. Sehingga ia tidak bisa dihilangkan begitu saja dan menjadikannya satu warna. Kebhinekaan itulah yang membuat negara ada seperti sekarang ini, keragamannya membentang dari ujung Sabang hingga Marauke. Baik dalam hal budaya, agama, suku, maupun adat istiadat. Sebagai seorang beriman, perbedaan adalah bukti atau tanda kekuasaan Sang Pencipta, "*Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah .....berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu.*" (QS. Ar Ruum, 30:22).

Perbedaan memang dikehendaki oleh Allah SWT, dan tidak mungkin dunia ini, khususnya Indonesia hanya satu warna. Para pendiri negeri telah menyadari hal itu, oleh karenanya konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati, tidak bisa diganggu gugat. Semua menyepakati pemikiran pendahulu bangsa itu, bukan malah mempermasalahkannya. Bhineka Tunggal Ika, itulah semboyan yang terus digaungkan sebagai perekat perbedaan-perbedaan yang ada, yang dengannya kita bahu membahu untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.

Namun setelah selama seabad lamanya, tampaknya rakyat kita belum bisa dikatakan mandiri dalam arti merdeka sesungguhnya. Kendati kemerdekaan telah diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta hampir 63 tahun lalu. Namun senyatanya modal tersebut belum mampu mengantarkan bangsa ini pada cita-cita para pendahulu. Cukup banyak kita saksikan polah dan tingkah anak negeri yang tidak sejalan dengan cita-cita luhur mereka. Sehingga pada momen kebangkitan ini, kita yang sebangsa dan setanah air diingatkan kembali untuk bangkit.

Menukil ucapan Bung Deddy Mizwar pada iklan layanan masyarakat dikatakan bahwa Bangkit adalah: Susah, susah melihat orang lain susah; Senang, senang melihat orang lain senang; Takut, takut melakukan korupsi dan makan sesuatu yang bukan haknya; Mencuri, mencuri perhatian dunia dengan prestasi; Malu, malu menjadi benalu, menjadi beban orang lain; dan seterusnya. Ucapan diatas seakan mengandung pesan bahwa karena bangsa ini telah lama terjajah, maka mental bangsa terjajah belum hilang sama sekali. Bahkan sebaliknya, bagi si kuat walaupun sebangsa namun bisa berlaku layaknya penjajah sang penindas. Ia mengikuti cara-cara imperialis, atau menjadi agen kepentingan mereka.

Ditengarahi saat ini, perilaku sebagian kalangan elit bangsa ini rasa nasionalismenya sudah luntur. Mereka layaknya kacang yang lupa kulitnya. Membuat kebijakan publik, tetapi justru merugikan rakyat. Memiliki jabatan bukan diamanatkan untuk kemakmuran tetapi malah korupsi. Punya kepintaran bukan untuk bangsanya, tapi untuk "meminteri" rakyatnya.

Lebih celaka lagi, rasa nasionalisme itu justru telah memudar pada berbagai lapisan masyarakat. Hedonisme dan takut miskin atau tidak bisa makan telah menghinggapi sebagian dari mereka, nasionalisme dibuang jauh-jauh. Jual pulau jika hal itu menguntungkan secara ekonomis, kenapa tidak?!.

Logika ekonomi senyatanya telah mengalahkan rasa nasionalisme. Padahal saat ini para imperialis justru menjajah bangsa ini melalui wilayah ekonomi, budaya, dan lainnya bukan lagi teritorial. Jika ada suatu perusahaan diambil alih pihak asing misalnya, lalu setelahnya berakibat PHK dan menjadikan bekas pegawainya menganggur. Kontrol lokal terhadap perusahaan berpindah, karena saham mayoritas dimiliki asing. Apakah hal ini masih bisa dikatakan sadar untuk bangkit?. Senyatanya banyak kita saksikan peristiwa yang tanpa disadari sebenarnya menggadaikan kedaulatan negeri.

Contoh kasus, baru-baru ini saudara saya yang tinggal di Lampung, tanah-tanah milik mereka ditawar untuk dibeli oleh calon investor warga Jerman. Hampir separuh desa, tanah sawah maupun ladang mereka diminati asing untuk dijadikan areal perkebunan kelapa sawit. Pertanyaan saya kepada saudara saya itu adalah, "Jika dijual, lalu Bu Lek (Bibi) dan Pak Lek (Paman) mau kerja apa?". Mereka diam, lalu saya tanya lagi, "Sawah dan ladang itu kan sumber mata pencaharian Pak dan Bu Lek, mau jadi buruh di ladang kelapa sawit?". Merekapun terdiam tak bisa menjawab. Lalu saya katakan, "Coba dihitung, hasil panen dengan jika menjadi buruh". Setelah hitung-hitungan kasar, mereka mengatakan bahwa masih untung jika memiliki sawah dan ladang sendiri. Akhirnya merekapun urung menjual walaupun pihak pemerintah daerah telah berupaya untuk menyakinkannya. Banyak orang yang kadang tergiur dengan jumlah uang yang diterima saat itu, karena besar menurut anggapannya. Tidak sedikit mereka yang akhirnya menggadaikan miliknya untuk asing hanya karena pertimbangan ekonomis. Rasa nasionalisme biasanya baru bangkit bila muncul kasus tertentu, misalnya sengketa Blok Ambalat dan klaim negeri Malaysia terhadap lagu Rasa Sayange serta Reog Ponorogo. Namun setelahnya memudar kembali. Secara fisik memang kita tidak punya musuh bersama (penjajah), namun saat ini kita dapat merasakan bahwa penjajah itu sebenarnya sedang disekitar kita, musuh itu bernama kemiskinan - penjajahan ekonomi, korupsi, infiltrasi budaya, ketidakadilan, dan sebagainya.

Momentum 100 tahun ini merupakan kesempatan bagi segenap elemen bangsa, untuk memikirkan, mengevaluasi, dan bertindak sesuai perannya agar bangsa Indonesia bisa bangkit. Membangun dengan kekuatan bangsa sendiri, bahu membahu, tidak saling meyalahkan, merasa paling bisa, dan seterusnya. Hal terpenting adalah bahwa kiprah itu harus dimulai dari diri sendiri, mempertanyakan dan mengevaluasi diri. Apakah kontribusi yang telah kita berikan untuk negeri ini?. Apakah kita telah mengimani dan mengamalkan firman-Nya (QS. Ar Ra'd, 13:11) yang berbunyi,

"*Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.*"?. Kebangkitan
tidak mungkin terwujud hanya dengan retorika, ia membutuhkan kerja keras, dan keseriusan melaksanakannya. Namun saya optimis bahwa bangsa ini bisa bangkit, dan bisa menjadi bangsa yang besar walaupun mungkin saya tidak mengalaminya. Semoga momen ini menjadi pertanda yang baik bagi negeri ini, untuk mengamalkan ajaran-Nya sesuai kesanggupan dan kemampuan masing-masing. Mudah-mudahan Allah SWT menguatkan tekad kita untuk mewujudkannya. Amien (fn).

Baca Selengkapnya ...

Sunday, May 25, 2008

Rekor Indonesia DI Dunia (Tau kah Anda)

Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni) . Disini ada 3 dari 6 pulau terbesar didunia, yaitu : Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia dgn luas 539.460 km2), Sumatera (473.606 km2) dan Papua (421.981 km2).

* Indonesia adalah Negara maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia.

* Pulau Jawa adalah pulau terpadat di dunia dimana sekitar 60% hamper penduduk Indonesia (sekitar 130 jt jiwa) tinggal di pulau yang luasnya hanya 7% dari seluruh wilayah RI.


* Indonesia merupakan Negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia. Terdapat lebih dari 740 suku bangsa/etnis, dimana di Papua saja terdapat 270 suku.

* Negara dengan bahasa daerah yang terbanyak, yaitu, 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa di Indonesia . Bahasa nasional adalah bahasa Indonesia walaupun bahasa daerah dengan jumlah pemakai terbanyak di Indonesia adalah bahasa Jawa.

* Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia sekitar 216 juta jiwa atau 88% dari penduduk Indonesia . Juga memiliki jumlah masjid terbanyak dan Negara asal jamaah haji terbesar di dunia.

* Monumen Budha (candi) terbesar di dunia adalah Candi Borobudur di Jawa Tengah dengan tinggi 42 meter (10 tingkat) dan panjang relief lebih dari 1 km. Diperkirakan dibuat selama 40 tahun oleh Dinasti Syailendra pada masa kerajaan Mataram Kuno (750-850).

* Tempat ditemukannya manusia purba tertua di dunia, yaitu : Pithecanthropus Erectus†yang diperkirakan berasal dari 1,8 juta tahun yang lalu.

* Republik Indonesia adalah Negara pertama yang lahir sesudah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945. RI merupakan Negara ke 70 tertua di dunia.

* Indonesia adalah Negara pertama (hingga kini satu-satunya) yang pernah keluar dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada tgl 7 Januari 1965. RI bergabung kembali ke dalam PBB pada tahun 1966.

* Tim bulutangkis Indonesia adalah yang terbanyak merebut lambing supremasi bulutangkis pria, Thomas Cup, yaitu sebanyak 13 x (pertama kali th 1958 & terakhir 2002).

* Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia (20% dari suplai seluruh dunia) juga produsen timah terbesar kedua.

* Indonesia menempati peringkat 1 dalam produk pertanian, yaitu : cengkeh (cloves) & pala (nutmeg), serta no.2 dalam karet alam (Natural Rubber) dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil).

* Indonesia adalah pengekspor terbesar kayu lapis (plywood), yaitu sekitar 80% di pasar dunia.

* Terumbu Karang (Coral Reef) Indonesia adalah yang terkaya (18% dari total dunia).

* Indonesia memiliki species ikan hiu terbanyak didunia yaitu 150 species.

* Biodiversity Anggrek terbeser didunia : 6 ribu jenis anggrek, mulai dari yang terbesar (Anggrek Macan atau Grammatophyllum Speciosum) sampai yang terkecil (Taeniophyllum, yang tidak berdaun), termasuk Anggrek Hitam yang langka dan hanya terdapat di Papua.

* Memiliki hutan bakau terbesar di dunia. Tanaman ini bermanfaat ntuk mencegah pengikisan air laut/abrasi.

* Binatang purba yang masih hidup : Komodo yang hanya terdapat di pulau Komodo, NTT adalah kadal terbesar di dunia. Panjangnya bias mencapai 3 meter dan beratnya 90 kg.

* Rafflesia Arnoldi yang tumbuh di Sumatera adalah bunga terbesar di dunia. Ketika bunganya mekar, diameternya mencapai 1 meter.

* Memiliki primata terkecil di dunia , yaitu Tarsier Pygmy (Tarsius Pumilus) atau disebut juga Tarsier Gunung yang panjangnya hanya 10 cm. Hewan yang mirip monyet dan hidupnya diatas pohon ini terdapat di Sulawesi.

* Tempat ditemukannya ular terpanjang di dunia yaitu, Python Reticulates sepanjang 10 meter di Sulawesi.

* Ikan terkecil di dunia yang ditemukan baru-baru ini di rawa-rawa berlumpur Sumatera. Panjang 7,9 mm ketika dewasa atau kurang lebih sebesar nyamuk. Tubuh ikan ini transparan dan tidak mempunyai tulang kepala.

Baca Selengkapnya ...